Kamis, 14 Mei 2009

Tips Menjadi Kaya dan Sukses dari Seorang Sahabat

Jangan berani atau menghardik orangtua khususnya IBU dan tetaplah bersedekah dg ikhlas.


Di Fwd dari salah satu discussion board facebook;

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

" Ada Lima hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

Takjimlah kepada Guru Ruhanimu ( Waliyam Mursyida ), patuh dan hormatlah selalu, jaga hadap dan takhlik selalu sebagai salik. karena beliaulah yang selalu membimbing dan menjadi Imam Ruhani kita dalam berbidah kehadirat Allah SWT. Insya Allah rahmat Allah akan turun dengan berlimpah ruah.

RAHASIA KEDUA

"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah."


Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KETIGA

"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KEEMPAT

"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."

"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ," tanya beliau.

"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."

"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.

"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."

"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi.

"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."

RAHASIA KELIMA

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

"Yang kelima nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".

Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."

"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. "

Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....


KEDAHSYATAN SEDEKAH

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.

Kemudian mereka bertanya, 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu besi'.

Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu api'.

Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu air'.

'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?' tanya para malaikat.

Allah pun menjawab, ' Ada , yaitu angin'.

Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'.

Allah yang Mahakaya menjawab, ' Ada , yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya' ."


Subhanallah....

Selasa, 12 Mei 2009

ISLAMKU - Asas-asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah

ISLAMKU - Asas-asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah
Ditulis oleh H.D. Bastaman

Ibarat ikan dengan kolam: Ikan dapat hidup subur dalam kolam yang baik, sebaliknya kolam menjadi “berharga” dengan banyak ikan di dalamnya. Artinya, diantara kedua pihak terjalin hubungan timbal-balik dan saling membutuhkan. Surau sangat memerlukan lingkungan aman dan tak menghambat kegiatan-kegiatan kesurauan (Alhamdulillah kalau masyarakat sepenuhnya mendukung), dan sebaliknya lingkungan sekitarnya pun membutuhkan kelompok masyarakat yang tertib dan peduli pada program lingkungan.
SURAU DI LINGKUNGAN MASYARAKAT UMUM

Tempat peramalan dzikrullah (Surau, IOP, Pos) selalu ada di sebuah kawasan hunian masyarakat umum (RT, RW, Desa). Antara warga surau dengan masyarakat sekitarnya selalu terjadi interaksi, baik dalam urusan-urusan pribadi maupun hubungan administratif dengan pengurus dan petugas lingkungan.

Ada peribahasa “Orang-orang lain tak peduli pada kita, sampai mereka tahu kita peduli pada mereka” atau “Berilah umpan yang tepat, maka ikan-ikan akan mendekat”. Jadi tampaknya lebih dahulu pengurus dan warga surau yang sebaiknya berinisiatif mendekati dan memberi perhatian pada lingkungan, barulah dukungan msyarakat sekitarnya akan diperoleh. Bahkan akan jauh lebih baik lagi apabila surau dianggap sebagai aset berharga masyarakat sekitarnya, karena mengamati para warga surau meneladankan etos kerja tinggi dan budi perkerti terpuji.

Sikap menutup diri dan merasa lebih unggul dengan “pamer kaji tinggi” di luaran hanya akan menimbulkan perdebatan yang tak perlu dan sengketa yang akibatnya sangat merugikan semua pihak. Untuk membina kerukunan dan hubungan yang baik dengan warga masyarakat sekitarnya, sebaiknya warga surau (khususnya pengurus) memahami sekurang-kurangnya tiga hal yang berkaitan dengan kondisi masyarakat sekitarnya yaitu nilai-nilai yang dianut masyarakat, kebutuhan utama masyarakat dan hal-hal yang peka dalam masyarakat.
Nilai-nilai yang dianut Masyarakat

Dalam kehidupan sosial terdapat bermacam-macam nilai (values) yakni hal-hal yang dianggap penting, bermakna, berharga, benar, dan dijunjung tinggi masyarakat serta tak jarang dijadikan pedoman kehidupan warga masyarakat itu. Misalnya: kerukunan, kerja keras, kekayaan, adat-istiadat, kehormatan, harga diri, persaudaraan, kejujuran, keberanian, agama dan pengetahuan. Perlu diketahui bahwa nilai-nilai hidup itu tidak kasatmata (invisible) tetapi terungkap dan dapat disimpulkan dari berbagai indikator seperti: pokok-pokok pembicaraan tokoh-tokoh masyarakat, kecenderungan bertindak dan menyelesaikan masalah, apa yang membuat masyarakat senang dan apa yang membuat mereka malu, tersinggung dan hal-hal yang menimbulkan reaksi keras mereka.

Bahkan dongeng-dongeng tradisional yang populer pun tak jarang di dalamnya terkandung nilai-nilai hidup yang dianut masyarakat. Mengetahui nilai-nilai yang dianut masyarakat sangat penting untuk memahami sikap, perilaku, pandangan, keinginan, dan hal-hal yang diterima dan ditolak oleh masyarakat setempat. Semuanya penting dalam melakukan pendekatan yang tepat untuk membina kerukunan dan kerjasama dengan lingkungan sekitarnya.
Kebutuhan utama Masyarakat

Mengetahui kebutuhan-kebutuhan utama masyarakat -khususnya kebutuhan pokok- sangat penting, karena berkaitan erat dengan upaya menjalin kerjasama dan memotivasi masyarakat untuk bergerak aktif mencapai kemajuan. Mengabaikan hal itu akan menghambat hubungan baik dengan masyarakat. Dinamisasi masyarakat terjadi bila ada motivasi untuk mengubah kondisi dan taraf kehidupan saat ini menjadi lebih baik. Dalam hal ini psikologi dapat menunjukkan berbagai kebutuhan utama manusia pada umumnya. Misalnya, teori kebutuhan-kebutuhan dasar berjenjang dari A.H. Maslow perlu dipahami untuk memotiva si pengembangan masyarakat sekitarnya.
Hal-hal peka dalam Masyarakat

Selain mengetahui kebutuhan utama masyarakat sekitarnya, pihak surau pun perlu mengetahui apa yang sensitif bagi masyarakat yakni hal-hal yang mudah sekali menimbulkan keresahan dan reaksi keras masyarakat bila dilanggar atau diremehkan. Sebaliknya bila hal-hal itu diindahkan akan memperlancar hubungan baik, sekurang-kurangnya tidak akan menimbulkan keresahan. Hal-hal sensitif ini biasanya berlainan untuk setiap kelompok sosial-budaya, karena biasanya berkaitan dengan apa yang dinilai baik atau buruk oleh masyarakat setempat. Ada sepuluh hal yang biasanya dianggap sensitif bagi masyarakat yang terumus dalam ungkapan AWAS PAMALI sebagai singkatan dari:

A = Adat istiadat
W = Wanita
A = Agama
S = Sandang-pangan-papan

P = Pemimpin setempat
A = Anak-anak muda
M = M5 (Main judi, Mabuk, Maling, Menyeleweng, Mengaiaya)
A = Amanah
L = Lahan
I = Iseng-iseng

Kalau kita perhatikan, diantara kesepuluh butir itu ada empat hal yang sangat sensitif dan mudah sekali menimbulkan reaksi keras masyarakat apabila dilanggar yaitu AWAS (Adat-istiadat, Wanita, Agama, dan Sandang-pangan-papan). Selain itu ada dua pihak yang perlu dibina kerjasama dengan mereka yaitu PA (Pemimpin setempat/formal & non-formal, dan Anak-anak muda). Kemudian ada sekelompok perbuatan tercela yang benar-benar terlarang yaitu M (Main judi, Mabuk, Maling, Menyeleweng, Menganiaya), tetapi sebaliknya A (Amanah atau kepercayaan) adalah satu hal yang justru harus benar-benar ditepati. Hal lain yang tidak boleh dipermainkan adalah L (Lahan atau pertanahan), karena saat ini pertanahan menjadi salah satu isyu sensitif di masyarakat kita. Dan terakhir I (Iseng-iseng): perbuatan sepele yang sering tanpa disengaja dapat menimbulkan sengketa dan masalah besar. “Bercanda jadi Bencana” kata peribahasa.
Hubungan Surau dengan Lingkungan Masyarakat sekitarnya

Setelah mengetahui nilai-nilai yang dianut, kebutuhan utama dan hal-hal peka pada masyarakat sekitarnya, selanjutnya perlu dibina kerukunan dan kerjasama antara pihak surau dengan warga masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini mungkin dapat diterapkan Asas SABAR yaitu:
- Saling kunjung
- Akrab & bersahabat
- Bantu perbaiki sarana umum
- Amalkan budi pekerti
- Rangkul mereka masuk Tharikat.

Maksudnya, setelah terbina hubungan baik dengan masyarakat setempat perlu dilanjutkan dengan kegiatan dakwah mengenai thariqatullah kepada masyarakat sekelilingnya. Dakwah ini dapat berupa dakwah lisan (a.l. ceramah, diskusi, pengajian) dan dakwah tindakan (mis. berkunjung, memberi santunan) dengan selalu menampilkan perangai yang baik, etos kerja tinggi serta keteladanan budi pekerti. Dengan makin banyaknya warga sekitar yang masuk tharikat, maka kedudukan surau menjadi makin mantap di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dan ini berarti surau telah memenuhi salah satu misi thariqatullah yaitu menanamkan dzikrullah pada pribadi-pribadi dan masyarakat.
MEMBINA KERUKUNAN

Membina kerukunan dengan warga masyarakat sekitarnya perlu diawali dengan meningatkan kerukunan dalam kelompok sendiri, bahkan sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Prinsip psikologi yang menyatakan “Tak mungkin memotivasi orang lain, tanpa kita sendiri termotivasi” dapat dimodifikasi menjadi “Sulit membina kerukunan dengan masyarakat sekitar, kalau di lingkungan sendiri tidak ada kerukunan”. Asas “Mulai dari diri sendiri” mungkin dapat dijadikan motto dan langkah awal pembinaan kerukunan diantara sesama warga surau yang intinya tidak lain mengembangkan Ahlak terpuji dan meningkatkan Silaturahmi.

Di lingkungan pelatihan SDM sejauh ini telah dikembangkan berbagai metode dan pendekatan untuk pengembangan pr ibadi (personal growth) dan peningkatan kekompakan kelompok (team building) yang prinsip-prinsip dan metode-metodenya dapat dimanfaatkan dalam upaya pembinaan kerukunan kelompok.
ISLAMKU: Asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat

Tanpa bermaksud mengurangi cara-cara yang selama ini telah berhasil membina kerukunan di lingkungan surau masing-masing, dalam tulisan ini diajukan asas-asas pembinaan kerukunan kelompok yang penulis sebut “ISLAMKU” sebagai singkatan dari: Ibadah, Silaturahmi, Lugas, Adaptasi, Musyawarah, Keteladanan dan Ubah nasib

I = Ibadah. Para pengurus dan warga surau perlu memantapkan niat dan menyadari bahwa membina hubungan baik dan mengajak masyarakat sekitarnya mengamalkan dzikrullah adalah amal bakti yang tinggi sekali nilai ibadahnya. Dalam artian psikologi niat identik dengan motif, dan motivasi merupakan unsur penting dalam meraih keberhasilan. Lebih-lebih lagi niat ibadah yang merupakan motivasi tertinggi dalam agama Islam. “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya”, demikian sabda Rasulullah SAW. Selain niat dan itikad beribadah, asas ini menganjurkan kepada para pengurus dan warga surau agar selalu meningkatkan kualitas ibadah mereka, dan juga selalu berdo’a memohon petunjuknya serta mendo’akan segala kebaikan bagi sesama warga surau dan masyarakat sekitarnya. Ibadah (dan doa) ini sangat penting mengingat mutlaknya rahmat Tuhan dalam menyatukan hati umat (S. al-Anfaal/8 : 63).

S = Silaturahm. Islam senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjalin silaturahmi sebagai landasan kokoh hubungan sosial. Perintah dan tuntunan praktis untuk menjalin silaturahmi cukup banyak diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits. Cara termudah yang dianjurkan antara lain dengan jalan mengucapkan salam, bertutur kata lembut, berwajah jernih, saling berjabat tangan (kalau mungkin), dan tersenyum tulus. Mengenai senyuman tulus yang dalam hadits dinilainya sebagai sedekah dan amal baik, secara khusus terungkap dalam sebuah peribahasa Cina: “Orang yang mahal senyum, jangan sekali-kali buka toko”. Artinya, tersenyum ramah tamah dan berwajah jernih membuka komunikasi, silaturahmi dan….rizki!

L = Lugas. “Lugas” adalah singkatan “luwes” dan “tegas” yang berarti sederhana, jujur, apa adanya saat mengungkapkan sesuatu, tetapi caranya tetap luwes (flexible). Ungkapan lugas berlainan benar dengan sindiran dan perkataan berputar-putar serta berbunga-bunga, atau ungkapan-ungkapan ”bergengsi” yang sarat dengan istilah-istilah ilmiah yang sulit dipahami dan sering menimbulkan salah paham. Cara bicara yang lugas biasanya menghindarkan salah tafsir dan salah paham. Salah satu prinsip komunikasi modern yang diakui daya-guna dan hasil gunanya tinggi adalah prinsip kesederhanaan (Principle of Simplification). Retorika Rasulullah SAW terkenal sederhana, lugas, mudah dipahami dan dihayati para pendengarnya. Siti ‘Aisyah r.a. mengungkapkan: “Susunan kata-kata Rasulullah tidaklah seperti susunan kata-kata kalian. Beliau bicara dengan perkataan yang terang dan jelas, serta mudah dihafal oleh siapa pun yang beliau hadapi”.

A = Adaptasi secara umum berarti menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan lingkungan tertentu. Dalam komunikasi tema, isi dan cara menyampaikan informasi perlu disesuaikan dengan alam pikiran, daya tangkap, bahasa, kepentingan, suasana dan kondisi penerima informasi. Maksudnya tidak lain supaya para penerima informasi merasa terlibat dan “tune-in” terhadap maksud dan arahan yang disampaikan. Prinsip ini penting untuk digunakan oleh para pengurus dan warga surau yang menghadapi aneka ragam corak kehidupan sesama warga. Lebih-lebih karena hal ini te rungkap dalam sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk berbicara sesuai dengan keadaan pribadi-pribadi dan kelompok masyarakat yang diajak bicara.

M = Musyawarah. Pentingnya musyawarah terbukti dari adanya surah Asy-Syuura dalam Al Qur’an yang artinya musyawarah. Dalam ayat 38 Surat Asy-Syuura ini dikatakan: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka”. Musyawarah adalah inti sari demokrasi yang saling menghargai pandangan masing-masing, sekalipun berbeda. Musyawarah adalah lawan dari sikap otoriter yang serba merasa benar sendiri dan cenderung memakskan pendapatnya pada orang lain. Musyawarah perlu dibiasakan untuk menyelesaikan urusan intern. Lebih-lebih dalam kegiatan kesurauan, musyawarah perlu dibiasakan. Misalnya dalam bentuk diskusi kelompok (group discussion) untuk tujuan sumbang-saran (brainstorming) dan pemecahan masalah (problem solving). Dalam musyawarah ini para pengurus dan warga surau diharapkan bersedia untuk saling menerima umpan balik (feedback). Sikap peka kritik dan mau menang sendiri tidak menunjang kerukunan kelompok.

K = Keteladanan. Para pengurus dan warga surau mempunyai peluang untuk menjadi panutan dan anutan masyarakat, sehingga salah satu tuntutan tugas mereka adalah harus mampu menjadi teladan masyarakat. Dalam Islam keteladanan ini merupakan hal yang sangat penting, karena Rasulullah SAW sendiri sebagai penyebar Rahmat Ilahi bagi semesta alam (Rahmatan lil’alamiin) adalah juga teladan terbaik bagi manusia sepanjang masa (Uswatun hasanah), karena pribadi beliau memancarkan kesempurnaan ahlak terpuji (Akhlaqul Karimah) yang merupakan ungkapan kesempurnaan al-Qur’an (Akhlaq al-Qur’an). Hal ini merupakan isyarat bahwa para pengurus dan warga surau harus menjadi teladan bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekitarnya, seperti halnya Rasulullah SAW menjadi suri tauladan bagi seluruh umat.

U = Ubah nasib. Salah satu tujuan kelompok dzikrullah adalah menimbulkan kesadaran dan motivasi untuk secara mandiri meningkatkan kualitas dan taraf hidup. Hal ini sesuai dengan firman Alah SWT dalam surat ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang (dalam batas-batas tertentu) memiliki kebebasan berkehendak (freedom of will) untuk merealisasikan secara aktif potensi-potensi dirinya, serta mampu mengubah nasibnya sendiri selama mereka mau mengubahnya (the self determining being). Kesadaran ini harus senantiasa ditanamkan dalam kelompok pengamal dzikrullah, agar umat (Islam) tegak mandiri dan berjaya serta tidak tergantung pada (belas kasihan) orang lain.
Dari Kami ke Kita

Membina kerukunan kelompok masyarakat merupakan suatu proses dinamis yaitu mengupayakan terjadinya perubahan dari kondisi hubungan yang semula tidak rukun menjadi rukun. Kita sebut saja dari corak hubungan Kami menuju kondisi Kita. Hubungan Kami ditandai oleh adanya kekompakan kuat dalam kelompok sendiri menentang kelompok lain yang dianggap berseberangan.

Terbentuknya kelompok Kami biasanya diawali dengan adanya perbedaan (keyakinan, kepentingan, kebiasaan) yang berlarut-larut tak terselesaikan, kemudian mereka membentuk kelompok sepaham yang berseberangan dengan kelompok yang tidak sepaham. Jadi dalam kelompok Kami ini selalu ada potensi konflik (sengketa) antara kelompok sendiri dengan pihak lain. Dalam kelompok

Kami persengketaan telah sirna dan tak ada lagi pihak lain yang dianggap lawan. Kelompok ini ditandai dengan keakraban dan kerjasama yang baik diantara warga kelompok. Perubahan dar i hubungan Kami menuju Kami biasanya terjadi karena masing-masing memahami adanya tujuan bersama yang lebih baik bagi semua, disamping menyadari betapa merugikannya sengketa itu bagi mereka.

Rambu-rambu dalam pembinaan kerukunan kelompok
Perlu diingat bahwa kondisi Kami bisa berubah kembali menjadi Kami kalau tidak ditaati "rambu-rambu" tentang apa yang seharusnya dilakukan (the do'es) dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan (the dont's). Misalnya:

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan

1. Ramah dan murah senyum serta berusaha menjadi orang yang disenangi.
2. Hargai jasa dan prestasi orang lain walaupun kecil dan sebarkan kebaikan
3. Berbesar hati terhadap perbedaan pendapat dan biasakan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah
4. Penuhi undangan kegembiraan (tahniat) dan kunjungi orang mendapat musibah (takziah)
5. Biasakan mengucapkan "tiga kata bertuah": Terima kasih (Thank you), Maafkan aku (I'm sorry), Aku sayang kamu (I love you).
6. dsb.

Hal-hal yang sebaiknya jangan dilakukan

1. Jangan pasang wajah garang agar ditakuti orang
2. Jangan bergunjing dan menyebarkan aib orang
3. Jangan merasa diri paling benar dan memaksakan kehendak
4. Jangan menutup diri dan tak peduli
5. Kaum pria batalkan bertamu kalau suami pemilik rumah sedang tidak ada. Demikian pula kaum wanita.batalkan bertamu kalau isteri pemilik rumah sedang tidak ada.
6. dsb.
Intinya: Jaga ucapan dan perilaku serta tampilkan perangai terpuji.dengan selalu membina silaturahmi. Semuanya itu mencerminkan ahlakul karimah dan hati yang suci.
MASYARAKAT DZIKRULLAH

Salah satu tujuan sosial Thariqatullah adalah mengembangkan sebuah masyarakat madani (civil society) yang warga-warganya sangat rukun dan kuat silaturahminya, mantap keimanannya, hidupnya taat syari’at, kreatif dan produktif, tegas dalam prinsip tetapi luwes penerapannya, pencinta ilmu dan mau belajar, senang beribadah dan beramal saleh serta senantiasa menggalakkan dzikrullah dan amalan-amalan nawafil lainnya. Masyarakat madani ini kita namakan Masyarakat Dzikrullah yang karakteristiknya digambarkan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:
Orang Muslim cinta sekali kepada Allah (S.2: 165), mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2: 194), dan mereka beriman kepada semua nabi (S.2: 136). Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2: 177; S.5: 1), bantu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam kejahatan (S.5: 2), bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri dan golongannya (S.4: 135), saling menghormati dengan sesama muslim (S.49: 11-12), bersikap jujur sekalipun terhadap lawan (S.5: 2), bersatu (3: 102), mendapat rizki yang baik (S.2: 172), dan hidup secara wajar (S.2: 62; S.3: 112), terhadap kafir sikapnya tegas dan keras, sebaliknya dengan sesama muslim saling mengasihi (S.48: 29).
Masyarakat madani ini dengan ringkas digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang kokoh solidaritasnya.
“Kaum muslimin seperti satu tubuh dalam kasih sayang dan perasaan satu sama lain, sehingga jika ada bagian tubuh tertentu tidak enak, maka bagian-bagian lain turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur”.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Dzikrullah adalah masyarakat yang satu sama lain dan sarat kasih sayang, memiliki loyalitas kuat, derajat keakraban mendalam, terhormat, bersikap lugas dan berprestasi tinggi. Hal ini hanya mungkin terjadi karena warga masyarakatnya diikat dan dipersatukan hatinya oleh keimanan yang mantap, sehingga kokohnya hubungan antara sesama (hablun minannas) benar-benar dilandasi oleh mantapnya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), dan sebaliknya pelaksanaan hablun minallah hanya mungkin berlangsung sempurna dalam kondisi hablun minannas yang tenteram dan kondusif. Layak sekali bila masyarakat yang berpredikat Baldatun tayibbatun warabbun ghafur itu menjadi idaman dan tujuan sosial para pengamal dzikrullah. Mudahkah itu?
Betapa sulitnya menyatukan Hati

Allah SWT sendiri menunjukkan betapa sulitnya memadukan (hati) kaum mukminin satu sama lain seperti terungkap dalam S. al-Anfaal (8): 63.

“(Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat itu memberikan isyarat bahwa keberhasilan mengembangkan masyarakat dzikrullah tidak cukup dengan semata-mata mengandalkan ilmu dan teknologi tinggi, dukungan finansial yang besar, kemahiran berdakwah yang memukau dan upaya-upaya manusia lainnya. Hal-hal itu tentu saja perlu, tetapi ternyata tidak cukup. Dalam hal ini campur-tangan Tuhan mutlak diperlukan dalam mengembangkan masyarakat muslim yang pada hakikatnya adalah menyatukan hati kaum muslimin sendiri. Tanpa rahmat Tuhan ini upaya pengembangan masyarakat dzikrullah hanya sampai pada taraf kata-kata belaka, dan tidak pernah menjadi realita.

Sehubungan dengan itu tampaknya sudah saatnya para pengamal dzikrullah dengan penuh kesadaran melakukan upaya intensifying ibadah, seperti memantapkan niat, berdoa memohon petunjukNya dan mendoakan masyarakat sekitarnya, meningkatkan kekhusyu’an shalat wajib dan sunnah (istikharah, tahajud), bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya sebelum, sewaktu dan sesudah melaksanakan tugas kemasyarakatan.
Pembinaan Kerukunan Masyarakat Muslim

Sekalipun membina kerukunan masyarakat muslim/madani itu tidak mudah, tetapi Rasulullah SAW secara rinci dan praktis telah mengungkapkan hal-hal benar-benar dapat dilakukan dalam membina kerukunan masyarakat madani:

“Seorang muslim harus menolong saudara seagamanya dari kekeliruan-kekeliruannya, mengasihinya dalam kesulitan-kesulitannya, menjaga rahasianya, mengabaikan kesalahan-kesalahannya, menerima maafnya, membelanya dari orang-orang jahat dan pencari-pencari kesalahan, bertindak sebagai penasihat baginya, dan memelihara hubungan persahabatan dengannya,. Jika saudara seagamanya itu sakit, ia harus menjenguknya. Ia harus menerima pemberiannya, dan membalas pemberiannya itu secara timbal balik, mengucapkan terima kasih untuk kebaikan-kebaikannya, bicara baik dengannya dan bersikap ramah terhadap teman-temannya, tidak meninggalkannya dalam kesulitan, mengharapkan baginya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri, dan tidak memperlakukannya seperti yang ia tidak suka orang lain perlakukan terhadap dirinya sendiri”.

Membiasakan diri melakukan hal-hal nyata dan penerapannya pun tak terlalu sulit seperti diungkapkan hadits tersebut merupakan langkah-langkah praktis menuju Masyarakat Dzikrullah yang dicita-citakan. Insya Allah.

STRATEGI PEMBINAAN KERUKUNAN MASYARAKAT DZIKRULLAH

Secara keseluruhan Strategi Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah meliputi: Landasan, Sikap Dasar, Tujuan, Langkah-langkah, dan Semboyan.

Landasan: Ikatan ruhani yang kuat bersumber dari kesamaan pembimbing (Mursyid), metode (Thariqatullah), washilah (Nuurun alan nuurin), amalan (Dzikrullah) dan motivasi (Ilahi anta maqsyudi wa ridhaka mathlubi).

Tujuan : (1) Mengembangkan dan meneladankan ahlak terpuji (akhlaqul karimah) berdasarkan pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah); (3) Menjaga persaudaran muslim (Ukhuwah Islamiyah) atas dasar Hablun minallah dan Hablun minannas dengan tidak melanggar adat istiadat, etika sosial, hukum negara, dan hukum syara’; (4) Mewujudkan masyarakat dzikrullah yang berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur; (5) Menjaga kemuliaan Guru (Al Mursyid) dan keluarganya.

Sikap dasar: (1) Hadap dan setia; (2) Pengabdian yang tulus; (3) Berlomba-lomba dalam kebajikan; (4) Tabah dan gigih; (5) Berkarya dan Berdoa.

Langkah-langkah: (1) Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar; (2) Menyadari potensi pribadi dan lingkungan, kemudian merealisasikannya; (3) Menghargai prestasi dan menjaga kehormatan diri dan orang lain; (4) Menjalin silaturahmi dengan saling kunjung dalam saat kegembiraan dan kedukaan; (5) Memberi bantuan sejauh kemampuan; (6) Menampilkan budi pekerti terpuji; (7) Mengajak masyarakat mengamalkan dzikrullah sebagai inti ibadah.

Semboyan: (1) Berprinsip sebagai pengabdi; (2). Berabdi sebagai pejuang; (3) Berjuang sebagai prajurit; (4) Berkarya sebagai pemilik; (5) Beribadah sebagai Nabi beribadah.
RANGKUMAN

Bagai sebuah batu jatuh di permukaan telaga luas yang tenang. Awalnya hanyalah satu titik jatuh yang menimbulkan riak gelombang yang makin lama makin luas dan akhirnya menyentuh tepi telaga. Demikian pula pembinaan kerukunan masyarakat dzikrullah sebaiknya diawali dengan pembenahan ahlak diri pribadi serta memperkuat jalinan silaturahmi dan kerukunan hubungan antar pribadi dalam kelompok sendiri, lalu meluas ke masyarakat sekitarnya dan akhirnya sampai ke lingkungan masyarakat umum yang lebih luas.

Dakwah adalah alatnya, baik dakwah lisan maupun tindakan, sambil meneladankan ahlak terpuji dalam hidup bermasyarakat. Satu hal yang perlu diingat: ikatan sosial terkadang erat (rukun), terkadang longgar (kurang rukun), bahkan terputus (sengketa). Oleh karena itu kerukunan harus dipertahankan dengan program-program yang melibatkan semua pihak, disamping terus menumbuhkan ahlak terpuji dan silaturahmi serta saling menjaga etiket pergaulan.

Kemudian apakah tujuan jangka panjang? Masyarakat madani yang rukun, lembut, berprestasi, terhormat, berjaya dan berdzikrullah adalah tujuan sosial para pengamal thariqatullah! Menyadari betapa sulit mewujudkannya, tentu saja dituntut upaya serius dan kerja keras dengan memanfaatkan segala kemampuan, semangat, daya dan sarana serta doa khusyuk untuk menjolok-turun rahmat Allah dan syafaat Rasulullah berupa ikatan kasih-sayang yang mempersatukan hati seluruh kaum beriman. Itulah jihad sosial-spiritual para pengamal thariqat Naqsyabandiah Khalidyah: Mewujudkan Masyarakat Dzikrullah berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur. Insya Allah.

Baitul Amin,19 Nopember 2006

H.D. Bastaman, psikolog

Ayat-ayat Fitna Buku M.Quraish Shihab

Ayat-ayat Fitna
Ditulis oleh Jusron Faizal

Ayat-Ayat Fitna - Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka - adalah sebuah buku yang ditulis oleh M.Quraish Shihab yang tentu saja tidak mendiskreditkan tentang islam, justru buku ini ditulis untuk meluruskan dari film Fitna yang pernah dipublikasikan di Jerman tempo lalu

ayat fitnaQuraish Shihab mempersilakan pihak manapun untuk menggandakan bukunya. Namun ia mengingatkan agar buku tersebut tidak dijualbelikan. "Untuk apa diperjual belikan? Kalau diberikan gratis untungnya lebih banyak daripada diperjual belikan. Memang tertunda keuntungan itu tapi akan berlipat ganda di hari kemudian," kata Quraish.

Quraish Shihab menjelaskan, Ayat Ayat Fitna berusaha meluruskan kesalahpahaman dari ayat-ayat yang dipakai dalil untuk teror yang menggambarkan umat islam itu kejam seperti yang dipakai oleh film Fitna.

"Jadi ada lima ayat Alquran yang digunakan untuk mendeskreditkan Islam. Padahal isinya sangat bertolak belakang. Justru ajaran Islam ini sangat-sangat damai dan mengajak umatnya untuk memiliki hubungan harmonis dengan pemeluk agama apapun," kata Direktur Pusat Studi Al Quran itu.

Kenapa judulnya kok ayat-ayat fitna? "Ya karena ini berbicara tentang ayat-ayat Alquran yang dijadikan bahan fitnah," jelas Quraish saat jumpa pers di masjid Sunda Kelapa, Jakarta .

Buku setebal 98 halaman tersebut disebarkan serempak di enam lokasi di Jakarta . Buku ini juga bisa didapatkan dalam versi e-book.

Bisnis DBS, MLM bukan ya??

Bisnis DBS, MLM bukan ya??


Pertanyaan diatas sering sekali ditemui dilapangan. Banyak sekali pernyatan negatif orang diluar sana tentang bisnis kita ini. Ada yang mengatakan bisnis ini adalah bisnis MLM (multi level marketing) ataupun money games. Apakah pernyataan-pernyataan itu benar? Ulasan berikut ini akan menjawabnya,

DBS adalah sebuah bisnis Network Marketing yang menggabungkan konsep MLM & Binary dalam sistem e-commerce online marketing. DBS tidak menganut sistem MLM murni. Tetapi DBS merupakan gabungan dari beberapa sistem Network Marketing yaitu MLM Murni dengan konsep Binary dalam sistem e-commerce, sehingga menghasilkan sebuah sistem marketing yang dahsyat, simple dan mudah dijalankan yaitu CRP atau customer referral program.

Salah satu produk DBS yaitu pulsa elektonik dijual lebih murah dari harga pasar. Disini DBS memiliki kelebihan dibanding bisnis network marketing lainnya atau MLM pada umumnya yaitu produk yang murah & dibutuhkan oleh semua orang serta tidak menentukan target belanja bulanan atau tutup poin kepada membernya. Sedangkan bisnis-bisnis sejenis dipastikan menawarkan produk dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan harga normalnya di pasaran yang malah kadang-kadang tidak terlalu dibutuhkan namun membernya diwajibkan untuk membeli produk tersebut. DBS tidak seperti MLM yang mengklasifikasikan membernya dalam jenjang peringkat, sehingga apabila ada member yang peringkatnya melebihi sponsornya, maka bonus sponsornya menjadi hangus. Namun DBS memberikan bonus kepada seluruh membernya dengan sistem bagi-hasil Ji'alah dan transparan yang dapat kita pantau secara real-time dengan online.

Dengan ciri-ciri tersebut diatas, maka DBS bukanlah MLM, tetapi DBS merupakan gabungan dari beberapa sistem Network Marketing yaitu MLM Murni dengan konsep Binary dalam sistem e-commerce. Untuk lebih jelasnya, tanyakan kepada orang yang mengajak Anda (Leader) atau hadiri pertemuan & seminar yang diadakan DBS. Sehingga suatu ketika Anda mulai mengundang, dan calon prospek Anda bertanya apakah ini MLM? Anda bisa menjawab dengan tegas bahwa bisnis ini bukan MLM, Anda bisa pelajari dari sistemnya.

DBS jelas bukan money games yang produknya hanyalah kedok, karena perputaran produk DBS yaitu pulsa elektronik saat ini telah mencapai puluhan milyar perbulannya. Hal ini menempatkan DBS menjadi dealer pulsa elektronik terbesar di Indonesia saat ini. DBS memiliki visi yang sangat jelas yaitu suatu saat nanti semua orang yang memiliki handphone pra-bayar akan berlangganan pulsa murah ke DBS.

Ingat, bisnis DBS mengembangkan sistem customer referral program, atau program berlangganan secara berkelanjutan. Bukan mendidik membernya untuk menjadi sebatas penjual pulsa. Namun lebih jauh dari itu DBS dengan sekolah bisnisnya, menciptakan pengusaha-pengusaha sukses distributor pulsa elektronik dengan modal awal yang relatif kecil dan dalam waktu yang cukup singkat.

Setujukah Anda bahwa orang yang sukses adalah orang yang bisa membuat orang-orang disekitarnya sukses? Itulah inti di bisnis DBS ini. Sistem pemasarannya yang luar biasa cerdas membuat para pebisnis yang menjalankannya saling bantu membantu untuk sukses bersama. Karena bisnis ini bukan bisnis piramida, maka ada kemungkinan partner bisnis yang aktif dapat lebih sukses dari pada Leadernya. Jadi usaha yang Anda jalankan ini adalah sesuatu yang mulia. Karena dengan menjalankan DBS, Anda dapat membantu orang-orang disekitar Anda untuk sukses bersama, karena Anda memberikan salah satu jalan kepada mereka untuk sukses. Sistem pendukung DBS diciptakan untuk membantu Anda meraih keberhasilan di DBS. Prinsip tolong-menolong atau ta’awun sangat jelas sekali di bisnis DBS ini.

DBS menggunakan sistem bagi-hasil. Dengan sistem bagi-hasil ini keberlangsungan perusahaan akan terus terjamin sehingga dapat melindungi & memberi keuntungan kepada seluruh membernya sampai kapanpun.

“Tidak ada yang yang gagal di bisnis ini, yang ada hanyalah orang yang berhenti berjuang sebelum sukses.” Pada awal menjalani bisnis ini mungkin akan terasa berat, atau bisa diibaratkan seperti mendorong mobil mogok, awalnya akan terasa sulit tetapi apabila tetap dijalankan secara konsisten dan mengikuti sistem, mendorong mobil mogok itu akan mulai terasa ringan bahkan ia mulai berjalan sendiri tanpa kita dorong dan keberhasilan akan mulai Anda raih.

Konsistensi, itulah salah satu kunci sukses di bisnis ini karena semangat Anda akan naik turun di bisnis ini, tetapi Anda harus terus semangat terutama di depan para partner bisnis Anda, selain semangat itu akan menular, semangat juga menunjukkan bahwa Anda bisa menuntun para partner bisnis Anda menuju impiannya.Jika Anda mulai merasa kesulitan mengenai arah atau perkembangan bisnis Anda, bisa dipastikan Leader Anda lah jawabannya, beliau akan senantiasa membantu Anda dalam menyelesai masalah Anda karena Leader Anda sudah mengalami apa yang belum pernah Anda alami.

Untuk meraih keberhasilan, di bisnis ini diperlukan kerja keras. Tapi kabar baiknya, kerja keras tersebut tidak selamanya. Jika jaringan kita telah berkembang secara mandiri, kebebasan finansial dan kebebasan waktu akan menjadi milik Anda. Disaat itu, apa yang Anda inginkan selama ini telah tercapai karena uang dan waktu bukan menjadi masalah lagi buat Anda.

Sekali lagi sukses, Anda telah berada di jalur yang benar menuju kesuksesan Anda!!

Ini adalah masa depan Anda
Salah satu jalan menuju impian Anda
Kesuksesan ada ditangan Anda!!

Nb: PT. Duta Future International adalah perusahaan e-comerce network marketing yang sah & legal dimata hukum. PT DFI memiliki legalitas & badan hukum yg jelas dengan SIUP, TDP, NPWP & Pengesahan Menteri Hukum & HAM yang sah dan asli.


ttd,

Febrian Agung Budi P.

Direktur Utama

Jumat, 01 Mei 2009

Badr al Qubra

Seputar Badar - Badr al Qubra
Ditulis oleh H.D. Bastaman

Perang Badar adalah peperangan pertama kali antara kaum Muslimin yang tinggal di Madinah dibawah pimpinan Rasulullah saw melawan kaum Quraisy yang berpusat di kota Makkah. Kisah ini meneladani tentang bagaimana rahasia kemenangan besar itu? dan Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari peristiwa besar itu.

Dilihat secara lahiriah kekuatan kedua kubu tersebut benar-benar tidak seimbang. Coba kita bandingkan: Pasukan Muslimin -setelah beberapa orang disisihkan karena sudah udzur atau masih di bawah umur- hanya terdiri dari 313 (314 dengan Nabi) orang yang sebagian besar belum banyak pengalaman berperang. Kendaraan yang dimiliki prajurit Muslim terdiri dari 70 ekor unta dan dua ekor kuda yang masing-masing dinaiki tiga orang bergantian. Persenjataan mereka sebagian besar “senjata putih” (pedang) dan hanya beberapa orang yang memiliki baju besi. Mereka dipimpin langsung oleh Rasulullah saw dengan didampingi beberapa orang sahabat beliau yang setia dan tangguh dari kalangan Anshar dan Muhajirin.
Di lain pihak kaum kafir Makkah terdiri dari 900 - 1000 orang prajurit profesional dengan 700 ekor unta dan 100 ekor kuda dengan persenjataan lengkap seperti pedang, tombak, perisai, dan baju besi. Bahkan kaum wanita pun ikut aktif berperan dalam mengobarkan semangat perang. Kaum kafir Makkah dipimpin oleh pemimpin paling berpengaruh di Makkah -yakni Abu Jahal- disertai 14 orang tokoh Makkah yang terkenal sebagai panglima-panglima perang berpengalaman yang sangat memusuhi Islam, seperti Hisab bin Mughira, Umayah bin Khalaf, Hakim bin Hizam, keluarga Rabiah dan keluarga Hajaj.

Tetapi bagaimana hasilnya? Ternyata kaum kafir Makkah yang profesional dan berjumlah banyak dengan persenjataan lengkap itu kalah total melawan kaum muslimin yang sedikit jumlahnya dengan jumlah korban yang cukup banyak yakni 70 orang tewas dan 70 orang lagi menjadi tawanan perang. Banyak sekali senjata dan perlengkapan perang serta harta benda yang ditinggalkan lari menjadi harta rampasan kaum muslimin. Dan yang terpenting 11 diantara 13 pemimpin mereka tewas termasuk Abu Jahal sendiri. Sedangkan di pihak kaum muslimin tercatat 14 orang gugur sebagai syuhada’ yang terdiri dari 6 orang Muhajirin dan 8 orang Anshar.

Perang Badar benar-benar merupakan kekalahan total yang memalukan bagi kaum kafir Makkah. Sebaliknya bagi kaum muslimin merupakan suatu kemenangan gilang-gemilang dengan efek sosial politik sangat menguntungkan dalam meninggikan citra Islam dan memperkuat posisinya sebagai negara. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila Perang Badar dimasyhurkan dengan Badr al-Qubra, Badar yang Besar dan para peserta perang Badar sangat dikasihi Rasulullah saw dan dimuliakan oleh segenap kaum muslimin.

Kisah-kisah heroik Perang Badar
Sejarah banyak mencatatat berbagai peritiwa, pelaku, kisah heroik pribadi dan nama-nama para sahabat Rasul yang melibatkan diri dalam perang besar itu. Sebagai contoh adalah Umair bin al-Hammam, orang Anshor yang pertama kali gugur sebagai syahid dalam Badar al-Qubra.

Ketika kaum Muslimin berhadapan dengan kaum Musyrikin, Rasulullah saw bersabda:
“Berdiri tegaklah menuju surga yang lebarnya seluas langit dan bumi”. Mendengar itu Umair bertanya: “Sorga yang lebarnya seluas langit dan bumi, ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab: “Benar”. Dan secara spontan Umair berkata: “Wah, wah, waaah” yang menyebabkan Rasul bertanya: “Apa yang membuatmu berkata demikian?”. Umair menjawab dengan lembut: “Demi Allah, tidak apa-apa wahai Rasulullah, kecuali harapan semoga aku menjadi penghuninya”. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya”.

Kemudian Umair mengeluarkan sejumlah korma bekalnya dari kantong anak panahnya dan berkata: “Jika aku hidup hingga aku memakan habis kurma-kurmaku ini sungguh ia merupakan hid up yang amat panjang”, lalu melemparkan kurma-kurma bawaannya itu dan dengan penuh semangat maju ke kancah pertempuran seraya mengalunkan sya’ir:

Majulah menuju Allah tanpa bekal
kecuali taqwa dan amal yang kekal
dan sabar dalam berjihad di jalanNya.
Setiap bekal pasti habis terbuang
kecuali taqwa, kebajikan dan kepemimpinan.

Kemudian ia bertempur habis-habisan sehingga gugur sebagai syahid disaksikan sendiri oleh junjungannya, Rasulullah saw.

Kisah lain adalah Sa’ad bin Khaitsamah, salah seorang pemimpin diantara duabelas orang pemimpin Anshar. Ketika Rasulullah menyerukan perang Badar, ayahnya yaitu Khaitsamah berkata kepada puteranya: “Harus ada diantara kita yang tinggal. Dan aku, ayahmu, meminta kamu agar mengutamakan aku untuk terjun berperang, dan kamu tinggal di rumah menjaga keluarga”. Tetapi Sa’ad menolak mentah-mentah permintaan itu dan berkata: “Seandainya bukan surga yang menantiku, pasti aku akan mendahulukan engkau, ayah. Tetapi aku sungguh-sungguh mengharapkan diriku mati syahid”. Ayah dan anak tidak ada yang mau mengalah, sehingga keduanya melakukan undian dan ternyata Sa’ad yang menang. Kemudian segera ia melibatkan diri dalam Perang Badar dan gugur sebagai syahid.

Kisah lain adalah anggota pasukan bernama Umair juga, Umair bin Abi Waqqash, seorang remaja berusia 15 tahun. Ketika Rasulullah saw memeriksa pasukan kamum muslim, Umair bersembunyi di belakang punggung orang-orang dewasa. Melihat itu saudaranya, Sa’ad bin Abi Waqqash bertanya: “Mengapa engkau bersembunyi, dik?”. Jawab Umair kecil: “Aku takut Rasulullah melihatku lalu beliau menganggapku terlalu kecil dan menolakku ikut berperang, padahal aku ingin sekali ikut dengan harapan semoga Allah mengurniakan syahid bagiku”.

Tetapi Rasulullah saw melihatnya, kemudian memanggilnya dan mengatakan bahwa ia tidak diizinkan ikut berperang, karena dianggap belum cukup umur. Mendengar itu Umair bin Abi Waqqash menangis tersedu-sedu dan memohon dengan penuh harap untuk dapat diikutsertakan, sehingga ahirnya Rasulullah saw mengizinkannya. Dan beliau sendiri yang mengikatkan pedang Umair yang terlalu panjang untuk ukuran badannya. Mengapa Umair bin al-Hammam begitu gembira menjemput maut, dan Sa’ad bin Khaitsamah berebutan dengan ayah kandungnya untuk menyambut seruan-jihad Rasulullah, bahkan si remaja Umair begitu kuat keinginan dan semangatnya untuk ikut berperang? Semuanya tidak lain karena iman yang mantap kepada Allah swt dan kasih yang mendalam kepada Rasulullah saw.
Rahasia Kemenangan Perang Badar
Bagaimana rahasia kemenangan besar itu? Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari peristiwa besar itu:

a. Mempersatukan niat dan tekad.
Sebelum berperang Rasulullah saw lebih dahulu menanyakan pendapat pemimpin-pemimpin prajurit muslimin dari golongan Muhajirin dan Anshar sejauh mana mereka bersedia untuk berperang. Miqdad bin al Aswad berdiri dan memberi jawaban tegas: “Kami tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan kaum Nabi Musa ‘Pergilah kamu dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami hanya duduk-duduk menanti di sini’.

Samasekali tidak, ya Rasulullah, tetapi kami siap berperang di sebelah kiri dan kanan Anda, juga di depan dan di belakang Anda”. Sa’ad bin Mu’az salah seorang pemimpin laskar Anshar dengan jantan merespons pertanyaan Rasulullah saw: “Kami telah beriman kepada engkau ya Rasulullah. Kami telah yakin bahwa apa-apa yang engkau sampaikan adalah benar. Dan kami akan patuh dan setia pada janji kami. Lakukanlah apa yang Anda kehendaki dan kami akan tetap bersama Anda. Demi Tuhan yang mengutusmu, sekiranya Anda menghadapi samudera dan kemudian terjun untuk menyeberanginya pasti kami semua akan terjun bersama. Kami adalah orang-orang yang tegar dan terhormat dalam setiap pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan sikap kami yang menyenangkan Anda” Dan ternyata semuanya melibatkan diri dengan gagah berani bersama Rasulullah saw dalam Perang Badar.
b. Mengobarkan semangat Jihad.
Ternyata seruan jihad itu disambut kaum muslimin dengan semangat dan keberanian luar biasa untuk melawan musuh. Dan gugur sebagai syuhada merupakan kehormatan dan dambaan setiap prajurit muslim. Sikap ini merupakan ungkapan iman dan taqwa yang mantap.
c. Mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan.
Rasulullah SAW mengutus beberapa sahabat a.l. Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, Basbas bin Amer dan Zubair bin Awwam untuk menyelidiki dan mendapatkan informasi mengenai kekuatan lawan. Dari jejak musuh dan keterangan penduduk sekitar Badar mengenai jumlah unta yang dipotong setiap hari untuk konsumsi prajurit Mekah dapat disimpulkan bahwa jumlah mereka antara 900 - 1000 orang.
d. Mengatur strategi perang.
Rasulullah SAW menempatkan para prajurit Muslim dekat sumber air, lalu membagi prajurit menjadi empat kelompok dengan posisi membelakangi matahari dan berdiri rapat satu sama lain untuk bersama-sama menahan gelombang serangan musuh. Dan ternyata serangan pasukan berkuda musuh dapat diredam.
e. Do’a RasulullahkKepada Allah SWT.
Do’a Rasulullah SAW yang makbul untuk memohon kemenangan bagi kaum Muslimin merupakan salah satu penentu kemenangan, karena pada hakikatnya hanyalah Allah swt semata-mata yang memberikan kemenangan. Do’a Rasulullah saw tercatat sebagai berikut:
Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datang dengan segala kecongkakan dan kesombongan mereka untuk memerangai Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah kalahkanlah mereka.

Atas do’a tersebut diriwayatkan bahwa Allah SWT menurunkan bantuan berupa “pasukan malaikat” yang tidak tampak untuk membantu Rasulullah saw dan pasukan mukminin dalam perang besar itu.

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfal/8: 17).

Dan di atas semua itu keimanan kepada Ilahi, Allah yang Maha Esa (Al Wahiid), yang Maha Perksa (Al Jabbaar), Sang Maha Sumber Kekuatan (Al Qowiyy), Maha Melindungi (Al Matiin), yang Maha Menghidupkan (Al Muhyi), dan Maha Mematikan (Al Mumit), serta Maha Pengasih (Ar Rahmaan) dan Maha Penyayang (Ar Rohiim), telah meresapi dan memenuhi kalbu, pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para sahabat seperti diteladankan sendiri oleh junjungan mereka, Rasulullah saw yang sangat mereka kasihi.

Itulah antara lain sumber kemenangan Perang Badar dan kemenangan peperangan lainnya yang tercatat 85 kali banyaknya selama masa kenabian Muhammad saw. Dan Rasulullah saw sangat mengasihi para prajurit yang ikut dalam Perang Badar dan kaum muslimin sangat memuliakan mereka.
Jihad Akbar
Tetapi di lain pihak, pernah Rasulullah saw menyambut pasukan yang kembali dari sebuah peperangan besar dengan kemenangan gemilang. Beliau bersabda: “Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil, dan masih harus melaksanakan jihad akbar”. Dan ketika para sahabat bertanya kepada beliau tentang makna jihad akbar, beliau menjawab: “Jihad akbar adalah jihad melawan nafsu sendiri (jihad al-nafs)”.

Mengapa jihad melawan nafsu sendiri dikatakan perang besar yang ditanggapi sebagai lebih sulit daripada perang-perang biasa yang dahsyat? Coba sekarang kita bandingkan kedua jenis peperangan ini.

Pertama, perang biasa berlangsung di sebuah kawasan sebagai medannya, tetapi medan pera ng akbar adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita harus berperang dalam diri sendiri?

Kedua, dalam perang biasa musuh dengan segala senjatanya dapat dilihat dan dapat dicari kalau pun mereka bersembunyi untuk diserang. Tetapi dalam jihad akbar musuh tidak kasatmata dan tak dapat ditangkap oleh panca indera lainnya, karena nafsu kita sebagai -sebagai musuh terbesar- benar-benar tersembunyi dalam diri kita sendiri.

Ketiga, senjata yang digunakan dalam perang biasa adalah senjata fisik seperti senapan, meriam, tank, bom, pedang, perisai, tombak dsb. Tetapi senjata-senjata tersebut jelas tak dapat digunakan dalam jihad akbar melawan nafsu yang berkecamuk dalam diri sendiri. Senjata apakah yang harus digunakan dalam melawan nafsu sendiri? Keempat, setiap pasukan dalam perang biasa senantiasa ada hubungan dengan markas besar tempat pimpinan tertinggi mengatur strategi dan taktik.

Demikian pula nafsu manusia senantiasa berhubungan erat dengan sumber segala keburukan dan kekejian yaitu Iblis yang sakti dengan para syaitan sebagai bala tentaranya yang penuh tipu muslihat dan dapat merasuki diri manusia mulai dari aliran darah sampai alam pikiran dan kalbu kita. Dalam hal ini sasaran jihad akbar tidak lain adalah nafsu-nafsu jahat manusia dan pengaruh negatif lingkungan serta iblis dan syaitan sebagai sumber suburnya segala nafsu keji manusia.
Nafsu Manusia
Kata “nafsu” berasal dari bahasa Arab “nafs”. Dawam Rahardjo dalam “Ensiklopedi al-Qur’an” menunjukkan bahwa istilah nafs ini mengandung berbagai pengertian yakni: Jiwa (soul), Pribadi (person), Diri (self/selves), Hidup (life), Hati (heart) dan Pikiran (mind).

Nafsu sebenarnya mengandung arti netral yakni tidak dengan sendirinya baik atau buruk (atau dapat menjadi buruk atau baik). Tetapi nafs sering mendapat nilai pejoratif artinya direndahkan derajatnya menjadi semata-mata dorongan seksual dan amarah. Tetapi pengertian hakiki tentang nafs ini tetap merupakan misteri. Mengapa demikian? Karena hampir semua istilah al-Qur’an mengandung aneka makna dan konotasi. Selain itu setiap istilah selalu berkaitan dan tak terpisahkan dengan istilah-istilah lainnya, misalnya saja nafs (nafsu) tak terpisahkan dari qalb (kalbu), ruh (ruh), ‘aql (akal). Disamping itu setiap istilah memiliki tahapan mulai dari pengertian konkrit-biologis sampai kepada yang abstrak-metafisis.

Sebagai contoh al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengemukakan makna nafs sebagai berikut:
Nafs memiliki dua arti. Arti pertama adalah nafsu-nafsu rendah, seperti dorongan agresif (ganas) dan dorongan erotik (birahi) yang dapat menjadi sumber malapetaka dan kekacauan apabila tidak berhasil dikendalikan dan diadabkan. Adapun nafsu dalam artian kedua adalah nafs al muthmainnah yang halus, suci, dan tenang yang diundang oleh Tuhan sendiri dengan lembutnya untuk masuk ke dalam surga-Nya. (QS. al-Fajr/89: 27 - 28).

Dari uraian singkat di atas, nyata bahwa nafsu dalam arti pertama adalah aspek psikofisik yang tak asing lagi di kalangan psikologi, karena menjadi salah satu kajian psikologi. Nafsu dalam artian ini adalah dorongan insting yang merupakan gejala-gejala kejiwaan yang ditelaah secara intensif dalam psikologi. Sedangkan unsur ini dalam arti metafisik bersifat ruhaniah dan suci serta merupakan inti kemanusiaan yang disebut dengan bermacam-macam nama, antara lain al-latifah al-ruhaniyyah atau al-latifah al-rabbaniyyah. Dan justru makna yang metafisis inilah yang dianggap sebagai hakikat kemanusiaan, karena hal itu merupakan sarana komunikasi dengan Tuhan, dan wadah atau titik-tangkap pencerahan dari-Nya. Tetapi sejauh ini makna yang metafisis ini tampaknya terabaikan dalam telaah psikologi modern, karena dianggap semata-mata kajian agama, khususnya menjadi ajang telaah dan olahan Tasawuf.

Sejalan dengan konsep nafs yang dijelaskan di atas, Dr. M. Quraisy Shihab dalam “Manusia dalam Pandangan A l Qur’an” mengemukakan bahwa al-Qur’an menunjukkan empat pengertin nafs yakni: (a) Nafs sebagai totalitas manusia (QS. al-Maidah/5: 32); (b) Nafs merujuk kepada apa yang terdapat dalam manusia yang menghasilkan tingkah laku (QS. ar-Ra’d/13: 11); (c) Nafs sebagai wadah dari ide dan kemauan keras (QS. ar-Ra’d/13: 11); nurani (QS. al-Qiyamah/75: 15); pengetahuan yang terpendam dalam alam tak sadar manusia (QS. Thaaha/20: 7); (d) Nafs digunakan oleh Tuhan untuk menunjukkan Diri-Nya (QS. al-An’am/6: 12).

Selanjutnya menurut Quraisy Shihab pengertian nafs (a-b-c) menunjukkan sisi-dalam (inner-world) manusia yang berpotensi baik atau buruk. Berlainan dari kalbu yang salah satu pengertiannya adalah juga “wadah” dari sesuatu yang positif dan disadari, maka Nafs adalah wadah dari hal-hal yang positif dan negatif, baik yang disadari maupun yang tak disadari. Dengan demikian kalbu pun merupakan sisi-dalam manusia yang secara ilustratif dapat digambarkan: Kalbu menempati kotak tersendiri yang berada dalam kotak besar Nafs.

Seperti halnya kalbu sebagai wadah yang dapat diisi (QS. al-Hujurat/49: 14); dan dikuras (QS. al-Hijr/15: 47); dapat meluas (QS. al- Syarh/94: 1) dan menyempit (QS. al-An’am/6: 125) serta dapat di tutup-rapat (QS. al-Baqarah/2: 7), demikian pula Nafs dapat mengalami kegelapan dan pencerahan. Sehingga muncul istilah Nafs al Ammarah, Nafs al Lawwamah, dan Nafs al Muthmainnah sebanding dengan perilaku baik dan buruk yang dilakukan pemiliknya dan sejauhmana nafs itu mendapat pencerahan (enlightenment). Dengan demikian Nafs pun memiliki dimensi metafisis yang dapat menerima pencerahan dari Tuhan.
Ragam Nafsu Manusia
Nafs’ al Ammarah adalah sumber dari sifat-sifat tercela dan perilaku keji (QS. Yusuf/12: 53). Nafsu ini erat kaitannya dengan dorongan-dorongan alami manusia yakni dorongan libido seksual (syahwat) dan dorongan agresif-destruktif (ghadlab). Sedangkan Nafs al Lawawamah adalah kondisi kejiwaaan yang ditandai oleh adanya rasa penyesalan atas kesalahan dan perbuatan dosa yang dilakukan (QS. al-Qiyamah/75: 2). Pada nafs ini telah berkembang moralitas dengan hati nuraninya yang mampu menilai baik-buruknya suatu perbuatan.

Adapun Nafs al Muthmainnah adalah kondisi jiwa yang suci dan tenteram yang dipanggil Tuhan dengan mesranya untuk masuk ke dalam surga-Nya (QS. al-Fajr/89: 27). Jenis nafs ini bersifat ruhaniah. Ketiga ragam nafs ini masing-masing dapat dibedakan, tetapi tak terpisahkan satu sama lain.
Nafs al Ammarah Sasaran Jihad Akbar
Nafsu al Ammarah yakni dorongan-dorongan agresif-destruktif (ghadab) dan libido seksual (syahwat) yang terpateri pada diri manusia dianggap sebagai sumber dari nafsu-nafsu buruk lainnya. Nafs al Ammarah ini sering diibarakan sebagai setitik bara api neraka yang telah dibenamkan ke dalam tujuh samudera agar menjadi lebih dingin.

Tetapi apa yang terjadi? Bukan bara apinya yang padam melainkan justru samuderanya yang menjadi kering memijar! Nah, setitik bara api yang “telah dibenam dan didinginkan di tujuh samudera” itulah yang tertanam dalam diri sebagai nafsu-nafsu buruk manusia. Perumpamaan ini mengisyaratkan pula bahwa Nafs al Ammarah hampir tak mungkin dihilangkan. Dan konon yang dapat memadamkannya tidak lain adalah air mata penyesalan. Artinya, Nafs al Ammarah ini dapat dikurangi (bahkan dihilangkan) melalui penyesalan atas maksiat dan perbuatan-perbuatan keji yang pernah dilakukan, maksiat yang sedang dilakukan dan mungkin dilakukan kelak. Tentu saja dengan niat kuat untuk segera menghentikannya samasekali.
Manfaat Nafs al Ammarah
Nafs al Ammarah yang tujuan utamanya meraih kenikmatan semata-mata ini kalau tak dikendalikan dan dibiarkan merasuk menguasai jiwa manusia akan mewujudkan kelakuan buruk dan keji yang akan menimbulkan bencana dan penderitaan pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Tetapi di lain pihak dorongan yang erat kaitannya dengan j asmani dan dimiliki juga oleh hewan ini merupakan sumber kekuatan dan semangat hidup yang sangat penting untuk bertahan hidup (survive,) mempertahankan diri, meningkatkan keberanian serta melestarikan keturunan. Dan Al-Islam tidak menghilangkan samasekali dorongan-dorongan ini, tetapi mengendalikan dan menyalurkan sesuai dengan ketentuan akhlak dan syari’at, sehingga bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan hidup bermasyarakat.
Memenangkan Jihad Akbar
Sejalan dengan rahasia-rahasia kemenangan Perang Badar, maka prinsip-prinsip memenangkan Jihad Akbar -yaitu perang melawan nafsu-nafsu sendiri- antara lain sebagai berikut:
a. Menyadari kekuatan dan kelemahan diri sendiri.
Kesadaran atas keunggulan dan kelemahan pribadi merupakan langkah awal setiap usaha perkembangan pribadi. Hal ini dilakukan dengan jalan mawas diri dan meminta masukan dari orang lain. Setelah itu menetapkan satu atau beberapa kelemahan diri yang akan dihilangkan dan keunggulan-keunggulan yang akan ditingkatkan. Misalnya menetapkan sifat-sifat baik apa yang akan dikembangkan dan sifat-sifat buruk apa yang akan dihilangkan.
b. Memantapkan Niat.
Setelah menyadari keunggulan dan kelemahan-kelemahan pribadi, langkah selanjutnya adalah memantapkan niat untuk melakukan perubahan dirti ke arah kondisi diri yang lebih baik. Niat adalah motivasi dan kesediaan untuk pengembangan kepribadian.
c. Membuat rencana Pengembangan Pribadi.
Menentukan tujuan, langkah-langkah konkrit, dan cara-cara melakukan perkembangan pribadi, dengan selalu mempertimbangkan hal-hal yang dapat menunjang dan menghambat.
d. Melaksanakan Rencana.
Tahap ini adalah tahap paling penting, karena betapa pun baiknya suatu niat dan rencana tentu saja tidak akan ada hasilnya apabila tidak dilaksanakan. Dalam melaksanakannya tidak saja diperlukan niat dan tekad yang mantap, tetapi juga usaha keras serta sikap pantang menyerah menghadapi berbagai hambatan menuju keberhasilan.
e. Adanya Keteladanan
Seperti halnya Perang Badar dengan Rasulullah saw sebagai anutan dan panutan umat, dalam meraih keberhasulan jihad akbar pun perlu adanya tokoh teladan. Tokoh ini akan menjadi role model dan contoh nyata pribadi-pribadi yang berhasil meredam akhlak tercela dan sekaligus mengembangkan akhlak terpuji. Tokoh teladan terbaik bagi umat manusia adalah Rasulullah saw yang keluhuran akhlaknya mendapat pujian Allah swt dan dimasyhurkan sebagai pribadi sebagai “teladan terbaik” (uswatun hasanah), dan “berakhlak al Qur’an” dengan misi utama kerasulannya “memperbaiki akhlak manusia”.
f. Memperbanyak ibadah dan memohon pertolongan Allah swt.
Meraih kemenangan dalam jihad akbar ini tentu saja tidak mudah, karena yang dihadapi bukan saja sifat-sifat tercela diri sendiri dan pengaruh buruk lingkungan, tetapi juga iblis dan syetan yang tentu saja tidak akan membiarkan dihilangkan nafsu-nafsu jahat sebagai sarana mereka menjerumuskan manusia jurang noda dan dosa. Dalam hal ini mutlak diperlukan pertolongan Allah swt melalui do’a khusyu’ kepada-Nya serta memperbanyak ibadah dan dzikrullah serta berbuat amal baik.

Cara lain mengendalikan nafs al ammarah -dan ini paling baik- adalah mencegah diri melakukan nafsu al ammarah. Artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mencetuskan nafsu ini. Ini sesuai dengan ungkapan “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Jadi jauhilah ambang maksiat, karena begitu seseorang melangkahi ambang ini, maka sedikit demi sedikit dan secara tak disadari ia akan terseret kedalamnya dan akhirnya terjerat dalam cengkeraman kemaksiatan. Dalam kondisi parah serupa ini tentu saja tak mudah untuk dapat “kembali ke jalan yang benar”.
Jihad Akbar mengembangkan akhlak terpuji
Sebenarnya jihad akbar tidak semata-mata untuk menghilangkan nafsu-nafsu dan sifat t ercela (akhlakul madzmummah) yang ada dalam diri kita, tetapi juga menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (akhlakul mahmuddah). Untuk keperluan pengembangan ahlak terpuji (ahlakul karimah) Imam Al Ghazali mengemukakan empat metode, yaitu:

- Pembiasaan

- Pemahaman, Penghayatan dan Penerapan: lebih dahulu mencoba memahami arti dari suatu perilaku yang baik, kemudian mendalaminya dan menjiwainya, lalu secara sengaja menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini adalah cara yang lazim digunakan dalam pendidikan orang dewasa.

- Peneladanan: menyontoh tokoh-tokoh yang dikagumi (kebaikannya) untuk mengambil sikap-sikap atau nilai-nilai yang dikaguminya. Proses ini disebut proses identifikasi, yang syarat utamanya adalah harus mengenal tokoh identifikasinya. Dalam ilmu akhlak banyak sekali ditampilkan contoh-contoh perilaku terpuji dari tokoh-tokoh tertentu, dengan harapan dapat menimbulkan motifasi untuk mencontoh dan meneladaninya. Teladan yang paling baik dalam Islam adalah pribadi Nabi Muhammad SAW yang dimasyhurkan sebagai “Uswatun Hasanah” yakni suri teladan terbaik bagi manusia.

- Ibadah: ibadah dalam artian khusus (misalnya shalat, puasa, dsb) dan ibadah dalam artian umum (berbuat kebajikan karena Allah SWT) secara sadar atau tidak sadar akan mengembangkan akhlak yang baik dan menghilangkan/mengurangi akhlak yang buruk. Dan inti dari ibadah adalah Dzikrullah.
RANGKUMAN
Dalam pandangan Rasulullah saw perang melawan nafsu-nafsu (buruk) diri sendiri lebih berat daripada peperangan biasa, dan beliau menamakannya “Jihad Akbar”.

Dalam jihad akbar ini selain medan perang dan musuhnya adalah diri sendiri, kita pun harus berhadapan dengan sumber segala keburukan yaitu Iblis dan syetan-syetannya yang telah bersumpah untuk menjerumuskan manusia ke dalam kekejian.

Mengingat sulitnya memenangkan jihad akbar ini, selain upaya-upaya dan kesungguhan kita sebagai manusia diperlukan secara mutlak pertolongan dan bimbingan Allah swt sebagai maha sumber segala kemenangan. Tanpa itu jangan mengharap kemenangan ada di tangan. Ibadah pada umumnya dan shalat serta dzikrullah pada khususnya adalah kunci pembuka kemenangan jihad akbar.

Dengan shalat (khusyu’) tercegah perbuatan keji dan mungkar, dan dengan dzikrullah (yang benar metodologinya) akan terjadi penghayatan kehadiranNya. Dan siapa yang dekat dengan Yang Maha Menang akan turut mendapat kemenangan. Saat ini kita hidup dalam kurun yang penuh dengan krisis multi dimensi yang sumbernya permasalahannya tidak lain adalah diri manusia sendiri.

Para pakar ilmu-ilmu sosial menyebutnya sebagai krisis identifikasi, krisis karakter, krisis nilai dan krisis jati diri yang pada hakikatnya adalah krisis akhlak. Artinya, akhlak buruk (madzmummah) lebih mencuat tinimbang akhlak terpuji (mahmudah). Coba kita perhatikan, pada saat ini berbagai kemaksiatan yang menyebabkan para utusan Tuhan diturunkan ke dunia, seakan-akan semua kemasiatan tersebut sekaligus ada di hadapan kita.

Inilah Jihad Akbar untuk mengembangkan akhlak terpuji (akhlak al karimah) yang harus kita menangkan saat ini. Kerja keras (work hard) dan kerja cerdas (work smart) disertai doa yang khusyu’ dan ibadah penuh kesungguhan, Insya Allah akan menjolok-turun bimbingan, rahmat dan kurniaNya untuk memenangkan Jihad Akbar.

Sumber:
Penulis Drs. Hana Djumhana Bastaman, MPSi
Ciputat, 24 Desember 2006.
Disampaikan di Surau Syukurul Amin Palembang dalam acara Road Show Sumatera pada 7-14 Januari 2007

The Habits

Mengubah Kebiasaan Hidup
Ditulis oleh Rahman Moenggah, SH, LLM

Kebahagiaan dan kesuksesan adalah suatu keadaan yang selalu dicari dan menjadi dambaan setiap mahluk di muka bumi yang bernama manusia. Dalam pencarian itu dapat dikatakan setiap gerak, usaha dan langkah diupayakan. Seluruh waktu dicurahkan bahkan tidak jarang jiwa dan raga sekalipun dikorbankannya untuk mendapatkannya. Hanya sayang sekali, sejarah juga menunjukkan bahwa tidak semua manusia mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Banyak anak manusia yang tersesat di jalan, gagal bahkan tidak sedikit terperosok ke dalam lubang kehancuran.

Apa sebenarnya kesuksesan dan kebahahagiaan itu? Selama ini kesuksesan itu lebih banyak dilihat sebagai suatu keadaan atau konsep saja, padahal sebenarnya kesuksesan itu adalah sebuah proses perjalanan dari pengalaman dan keahlian seorang anak manusia.
Kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan yang harus dilakukan dengan baik, sabar serta dibutuhkan waktu dan pengorbanan. Karena kebiasaan dan penerapannya itulah yang akan menentukan keberhasilan seseorang, baik dalam kaitannya dengan status sosial, kedudukan, maupun keahliannya dalam melakukan tugas.

Bagaimana sisi kesuksesan dipandang dari Islam? Bagaimana kita mencapainya?
1. TUJUAN HIDUP MANUSIA
Sebelum menjawab mengenai kesuksesan marilah kita lihat dahulu apa tujuan hidup manusia dengan merujuk kepada tujuan Allah telah menciptakan manusia sebagaimana dijelaskan dalam firmannya:

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (adz Dzariyat 56)

Kesuksesan yang hendak kita raih di dalam kehidupan baik di dunia maupun akhirat bersandar kepada apa yang menjadi tugas utama kita sebagai manusia yaitu mengabdi kepada Allah. Kemudian Allah memberikan kebebasan yang sempurna tetapi dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh syariat dengan tujuan untuk memakmurkan bumi dan mewujudkan hasil-hasil yang didapat sebagaimana dijelaskan di dalam firmanNya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada Malaikat, sesungguhnya Aku akan jadikan di muka bumi ini seorang khalifah (Al Baqarah ayat 30).

Jadi kebahagiaan dan kesuksesan akan datang dalam konteks pengabdian yang sebenarnya kepada Allah Swt dan pemakmuran bumi yang dilakukan dengan cara membangun peradaban manusia yang benar.
2. KEBIASAAN DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Dengan berdasarkan pendapat bahwa kesuksesan adalah suatu proses yang dibangun dari kebiasaan, ternyata dalam kehidupan manusia, kebiasaan memiliki pengaruh yang besar. Setiap orang dari kita digerakkan oleh kebiasaan. Ibarat pepatah tanamlah suatu perbuatan dan tuailah suatu kebiasaan; tanamlah suatu kebiasaan dan tuailah suatu perilaku; tanamlah suatu perilalaku tuailah suatu keberuntungan.

Contohnya: bila datang bulan Ramadhan, kehidupan seorang muslim mengalami perubahan baik dari kebiasaan makan, tidur maupun kebiasaan shalatnya. Bulan Ramadhan hanya datang sekali dalam satu tahun. Dalam bulan-bulan biasa, setiap muslim terbiasa dengan kehidupan yang rutin khususnya kebiasaan makan minum dan shalat. Tetapi begitu datang bulan Ramadhan, kebiasaan kebiasaan tersebut harus diubah dan diganti dengan kebiasaan baru.

Tetapi setelah berlalunya hari pertama, kita mulai biasa melakukan shalat malam dan rutinitas keseharian kita juga berubah. Kitapun dapat merasakan kemudahan dan tidak lagi merasa berat untuk melakukan rutinitas di bulan Ramadhan. Ketika akhir bulan Ramadhan pun kita kita sudah terbiasa dengan shaum dan tidak lagi merasa berat menjalani puasa dan mungkin siap menjalani kehidupannya dengan cara semacam itu.

Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena ia telah terbiasa melakukannya dan ia telah mengubah kebiasaan-kebiasaan lama dengan kebiasaan baru.
Apa yang terjadi di bulan Ramadhan ini merupakan pelajaran penting dari Tuhan yang mengajarkan kepada kita bahwa mengubah kebiasaan adalah sesuatu yang mudah dan dapat dilakuka n oleh setiap manusia.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kehidupan kita diatur oleh berbagai macam kebiasaan. Diantara kebiasaan itu ada yang bermanfaat ada pula yang tidak bermanfaat. Tentunya kita diharapkan dapat memperkuat kebiasaan yang bermanfaat dan dapat menjauhkan diri dari kebiasaan yang tidak bermanfaat atau membahayakan
3. APA YANG DIMAKSUDKAN DENGAN KEBIASAAN
Kebiasaan adalah sesuatu yang biasa kita lakukan, kebiasaan dapat berupa sesuatu yang diindera, seperti pergi ke tempat tertentu, makan makanan tertentu. Tetapi juga dapat berupa sikap atau perasan: misalnya menghormati orang lain, memuliakan tamu, memberikan senyuman, jujur, tidak bergunjing dll.

Para psikolog menjelaskan bahwa kebiasaan terdiri dari 3 unsur yang saling berkaitan erat:

Pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bersifat teoritis mengenai sesuatu yang ingin dikerjakan;

Keinginan, yaitu adanya motivasi atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu;

Keahlian, maksudnya kemampuan untuk melakukannya.

Jika ketiga unsur itu bertemu didalam perbuatan, maka perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai kebiasaan. Akan tetapi jika kurang salah satunya, maka perbuatan itu tidak dapat dikategorikan sebagai kebiasaan. Contoh membaca (bisa membaca, mengetahui pentingnya membaca dan ada motivasi atau keinginan untuk membaca).
4. MEMBANGUN KEBIASAAN YANG BERMANFAAT DAN MENGHINDARI KEBIASAAN YANG TIDAK BERMANFAAT
Kita dapat membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang bermanfaat dengan cara, berusaha mencari pengetahuan tentang sesuatu yang akan kita lakukan, melatih diri sehingga kita mampu melakukannya dan diteruskan dengan upaya membangkitkan motivasi atau keinginan melakukannya.

JIka ingin menghindarkan diri dari kebiasaan yang tidak bermanfaat, harus diperhatikan dua unsur yaitu pengetahuan dan keinginan. Kita harus menambah pengetahuan mengenai dampak negatifnya setelah itu dilanjutkan dengan memperhatikan unsur keinginan.

Mulailah dengan mengubah faktor-faktor pendorong dan kecenderungan yang mengarah kepada kebiasaan negatif.

Kebiasaan yang ada dalam kehidupan kita terbentuk dan dibangun dalam waktu yang lama sehingga kita merasa mudah untuk melakukan dan mengulanginya bahkan dalam melakukannya terkadang kita tidak lagi perlu berfikir panjang.

Karena itu dalam membentuk kebiasaan baru merupakan pekerjaan yang memerlukan kesungguhan, pengorbanan dan konsentrasi, sebagaimana meninggalkan kebiasaan lama juga membutuhkan adanya keseriusan.

Allah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (ar Ra’d 11)

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan, manusia harus kembali kepada dirinya sendiri guna menganilisis kebiasan-kebiasaan yang dimilikinya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun berkaitan dengan masyarakat. Jika ia menemukan perilaku yang menyimpang. Maka ia harus melakukan perubahan ke dalam dirinya secepat mungkin.

Dengan demikian Perubahan dalam kehidupan manusia baik berkaitan dengan dirinya maupun dengan masyarakat akan datang dari dalam diri manusia sendiri.
5. TIGA UNSUR UTAMA KESUKSESAN
Kesuksesan seseorang baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya sangat tergantung pada tiga aspek utama yang terdapat di dalam kepribadiannya.

P. Pandangan Hidup
H. Hubungan Antar Manusia.
K. Keahlian

Pandangan hidup;
Pandangan hidup atau visi erkait dengan daya rasa manusia terhadap hidupnya serta terkait dengan kemampuannya untuk memindahkan rasa tersebut ke wilayah praktek. Apa tujuan-tujuan besar yang hendak dicapainya? Standar moral apa yang digunakannya untuk mencapai tujuan tersebut?
Hubungan Antar Manusia
Apakah ia bers ifat terbuka, luwes ataukan selalu berhati-hati; apakah ia memiliki sifat toleran dan pandai bergaul atau ia seorang yang sulit berinteraksi dengan orang lain dan tidak penyabar?

Keahlian, berhubungan dengan, mekanisme dan pengetahuan tertentu. Keahlian apa yang dimiliknya, bidang apa yang dikuasainya, profesi apa yang ditekuninya.

Dari aspek Pandangan Hidup lahir empat macam kebiasaan:
1. Berusaha mencapai keunggulan;
2. Menentukan tujuan;
3. Membuat rencana;
4. Menyusun prioritas

Dari aspek Hubungan dengan sesama manusia muncul beberapa kebiasaan
1. Keahlian berkomunikasi;
2. Berfikir positif;
3. Keseimbangan/moderat.

Dari aspek Keahlian, melahirkan 3 macam kebiasaan:
1. Konsentrasi (fokus)
2. Manajemen Waktu;
3. Berjuang melawan Diri Sendiri;

Pada hakekatnya, ketiga aspek utama tersebut terdapat dalam diri setiap orang, tetapi terkadang ada perbedaan kadar untuk masing-masing aspek yang dimiliki. Terkadang seseorang memiliki kadar kepandaian yang luar biasa dalam berinteraksi dengan manusia, tetapi ia mengeluh aspek pandangan hidupnya yang tidak kuat atau ia tidak memiliki keahlian yang tinggi yang dibutuhkan guna mencapai kesuksesan di dalam pekerjaannya.

Adapula orang yang memiliki tingkat keahlian yang tinggi dan pengetahuan tertentu yang berkaitan dengan profesinya, tetapi ia tidak pandai berinteraksi dengan sesama manusia serta memiliki pandangan yang lemah.

Keseimbangan antara ketiga aspek tersebut merupakan sesuatu yang harus ada jika kita ingin membangun kepribadian yang sempurna.

Dengan demikian 10 Kebiasaan agar manusia dapat menjadi sukses adalah

a. Berusaha mencapai keunggulan;
b. Tentukan Tujuan;
c. Buat Rencana;
d. Susun Prioritas
e. Konsentrasi (fokus)
f. Manajemen Waktu;
g. Berjuang melawan Diri Sendiri;
h. Pandai berkomunikasi;
i. Berfikir positif
j. Moderat.

A. BERUSAHA MENCAPAI KEUNGGULAN
Kebiasaan ini merupakan salah satu yang terpenting dari sepuluh kebiasaan manusia sukses. Berusaha mencapai keunggulan adalah berusaha dengan tekun dan terus menerus guna mencapai keunggulan di dalam hidup.
Hal ini mengandung pengertian selalu berusaha untuk menjaga perkembangan diri, dengan meningkatkan kualitas keimanan, ahlak, hubungan dengan manusia dan memanfaatkannya untuk mewujudkan misi hidupnya.
Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan dalam hidup terdiri atas 3 Aspek Penting:

Pertama: Selalu Berusaha Untuk Meningkatkan Keimanan;
Iman merupakan faktor yang sangat menentukan. Faktor ini diperoleh dengan menjalin hubungan dengan Allah SWT secara terus menerus. Jika kita memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT dan tingkat keimanan tinggi maka kita dapat mewujudkan misi hidup kita secara efektif. Keimanan sesorang dapat bertambah atau berkurang. Ia akan bertambah dengan ketaatan serta ibadah serta akan berkurang dengan kelalaian dan kealpaan.

Kebiasaan berusaha untuk mencari Keunggulan ini dapat menyebabkan seseorang memperoleh kebaikan dan hidayah yang lebih daripada hari sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan hasil yang akan diperoleh seseorang jika ia berusaha untuk mencapai keunggulan keimanan ini.

Orang orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (al – Ankabut 69)

Perumpamaan nafkah orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia Nya lagi Maha Mengetahui (al Baqarah 261)

Hadis Kudsi:
“Barang siapa mendekat kepadaKu satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, Barang s iapa mendekat kepadaKu satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, Barang siapa datang kepadaKu dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendatanginya dengan segera. Barang siapa menyebut Ku dalam sekelompok orang, maka Aku akan menyebutnya dalam kelompok orang yang lebih baik dari kelompok mereka.”

Hambaku selalu mendekat kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjadi kakinya yang dia dia gunakan untuk berjalan, menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menangkap. Jika ia minta kepada Ku, maka Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan kepada Ku maka Aku akan melindunginya.”

Pada dasarnya perjalanan hidup seseorang manusia sangat terkait dengan aspek keimanan ini. Jika kehidupan manusia tidak dibangun di atas aspek ini maka kehidupannya tidak akan berarti.

Allah menggambarkan kondisi orang-orang yang tidak memenuhi kehidupannya dengan aspek keimanan dalam firmanNya:

Katakanlah: apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak akan mengadakan penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat (al Khafi 103-105)

Sejalan dengan ini YM Abu dalam salah satu makalahnya (Menjadi Lebih Bahagia Dengan Menjalankan Ajaran Islam) menyatakan bahwa: “…Harapan kita sebenarnya hanya satu, yatu: marilah kita berlomba lomba untuk mencintai Tuhan di atas segala-galanya. Mencintai Tuhan berarti mencintai semua ketetapannya dan ketentuan Tuhan. Lebih kongkrit lagi, mencintai Tuhan harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah Rasul Nya. Sebab dalam Al Qur’an Allah Berfirman: “katakanlah (kepada mereka hai Muhammad): Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Kedua: Selalu berusaha untuk meningkatkan keahlian, pengetahuan dalam bidang tertentu, produktifitas, optimalisasi dan efektifitas dalam pekerjaan atau profesi kita.

Seorang manusia yang tidak mau berusaha untuk mencapai keunggulan dalam pekerjaannya, tidak mengubah etos kerja dan produktifitasnya dan tidak mau berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya, ia akan tetap berada pada posisi tertentu, tidak akan mengalami kenaikan jabatan, tidak dapat meningkatkan penghasilannya. Sebaliknya seseorang yang memiliki jiwa luwes, gesit dan selalu berusaha untuk memperoleh yang lebih baik, maka ia akan selalu belajar, berusaha menyempurnakan pekerjaan dan meraih prestasi, selalu mencari peluang dan memperkuat faktor-faktor yang dapat meningkatkan produktifitasnya.

Ketiga: berusaha untuk meningkatkan hubungan positif dengan orang lain

Aspek ini merupakan permasalahan penting di dalam kehidupan manusia. Jika hubungan antara sesama manusia kita positif dan menyenangkan, maka kehidupan kita akan menjadi lebih produktif dan menyenangkan.

Tidaklah heran jika hubungan dengan sesama manusia itu merupakan hal terpenting dalam agama Islam, bahkan merupakan substansi dari agama. Juga tidaklah heran jika ahlak yang mulia dalam berinteraksi dengan orang lain merupakan satu sifat yang dapat menyebabkan seseorang manusia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, yaitu bersama dengan orang-orang yang jujur dan dekat dengan Rasulullah. Hadist: Orang yang paling dekat tempat duduknya diantara kalian dengan tempat dudukku di hari kiamat adalah orang yang paling baik ahlaknya. (Riwayat Tarmidzi)

YM Abu (dalam Makalahnya, “Berlomba-lomba menyempurnaka n Keislaman Kita”) mensitir Fatwa YM Ayahanda Guru yang berbunyi ”..Kalau perilaku tidak dipelihara, ia akan menghancurkan, memporakporandakan, membawa kita kepada neraka dan hambluminannas akan hancur, yang akan merusak pula habluminallah, karena hablumminallah dan habluminnas berpengaruh satu sama lain timbal balik…”

Suatu pekerjaan dapat diganti dengan pekerjaan lain tetapi keluarga dan kerabat tidak dapat diganti. Dalam kaitan dengan usaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek hubungan dengan sesama manusia ini, ada sebuah Hadist yang menyatakan “ Bergaulah dengan manusia dengan cara yang kamu harapkan, mereka juga menggunakannya ketika bergaul dengan kamu”

Selanjutnya YM Abu menyatakan: “…sejak dahulu Ayah telah berkata dan berfatwa: jagalah selalu mulutmu, jangan berbicara yang lain selain daripada mengaggungkan dzikrullah atau memuji Allah SWT, memuliakan Rasulullah dan sega guru-guru kita, dan jika berjata, katakanlah yang bermanfaat, yang kreatif, jangan utarakan syakwasangka, gunjuing, irihati dendam kesumat, jangan lepaskan mulut engkau begitu saja yang akan menggores tajam dan melukai saudaramu kesana kemari, menikam kesana kemari dan akhirnya merusak masyarakatmu sendiri.”

Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan beserta ketiga aspeknya merupakan kebiasaan yang paling penting menuju pribadi yang sukses. Jika kita berusaha membentuk, melakukan dan melatihnya maka kehidupan kita akan berputar 180 derajat dan dapat kita wujudkan kebahagiaan dan kesuksesan yang diharapkan.

Kebahagiaan menurut orang bijak memiliki tiga sumber yang ada di dalam kehidupan manusia yaitu : Ridha Allah (berusaha mencapai kenggulan dalam aspek Iman); Melakukan pekerjaan secara sempurna dan Menyelesaikan segala urusan satu persatu; Membantu orang lain dengan cara menjaga etika dalam bergaul, berbuat baik kepadanya, mengorbankan sebagian waktu, usaha dan harta untuk kepentingannya
B. TENTUKAN TUJUAN
Macam Tujuan dilihat dari sumbernya: Tujuan Ketuhanan, Tujuan Sosial dan Tujuan Individual
Tujuan ketuhanan ditentukan Allah SWT dengan maksud mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan Sosial merupakan penerapan dari tujuan pertama yang ditentukan oleh tuntutan zaman dan Tujuan Individual adalah yujuan yang ditentukan seseorang untuk dirinya sendiri.
C. SUSUN PRIORITAS
Yang dimaksud dengan menyusun prioritas adalah menyusun sejumlah tujuan, tugas dan pekerjaan, dimulai dari yang paling penting sehingga akan dapat diwujudkan tujuan-tujuan itu dalam waktu yang diberikan kepadanya. Waktu merupakan materi yang sangat mahal.
Kebiasaan menyusun prioritas harus dilakukan setiap hari. Ada dua macam prioritas :
1. prioritas pertama adalah prioritas yang bersifat tetap yaitu yang berkaitan dengan aspek ibadah.
2. prioritas kedua adalah prioritas yang bersifat tidak tetap yang dapat berubah yang berkaitan dengan pekerjaan dan sosial.
D. BUAT RENCANA
Secara singkat yang dimaksud dengan membuat rencana adalah meletakkan tujuan-tujuan kita dalam sebuah program kerja yang dapat dilaksanakan serta menentukan langkah-langkah yang dapat membantu menentukan tujuan.
.
Menyusun rencana menjadikan kita siap untuk menentukan langkah selanjutnya
E. KONSENTRASI
Konsentrasi adalah memusatkan perhatian pada tugas, tanggung jawab atau pekerjaan yang ada di hadapan serta berusaha melaksanakannya terus menerus sehingga benar-benar sampai pada tingkatan terakhir.
Hambatan yang dapat menggangu konsentrasi diantaranya tidak adanya motivasi atau dorongan tidak adanya keahlian yang dibutuhkan; rendahnya tingkat kesabaran. Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang muslim untuk bersabar dan menguatkan kesabaranya.
F. MANAJEMEN WAKTU
Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasiha t menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (al-Ashr : 1-3)

Dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang. Waktu berjalan dengan cepat seperti berjalannya awan. Kita tidak dapat berbuat apa-apa selain memanfaatkan dan memfungsikannya dengan baik atau membiarkannya berlalu begitu saja.
Bagaimana menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan waktu terbuang.
1. Pelajari tujuan-tujuan, rencana dan prioritas.
2. Letakkanlah tujuan-tujuan pada sebuah rencana periodik;
3. Buatkanlah daftar pekerjaan (kegiatan) yang akan dilakukan setiap hari;
4. Tutuplah semua jalan (hal) yang dapat memalingkan anda;
5. Manfaatkanlah waktu-waktu yang ada (tersisa)
6. Janganlah anda selalu berpasrah pada hal-hal yang bersifat mendesak.
G. BERJUANG MELAWAN DIRI SENDIRI

“ Orang yang sukses adalah orang yang mengarahkan keinginannya, dan bukan orang yang menjadi budak keinginannya” (Perkataan orang bijak)

“Orang yang dapat mengalahkan nafsunya lebih hebat daripada orang yang dapat menaklukkan sebuah kota” (ungkapan India)

Berjuang melawan diri sendiri adalah berusaha secara terus menerus untuk mengalahkan, menaklukkan, mengendalikan dan membiasakan diri untuk menghadapi sejumlah tanggung jawab, berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai serta sabar dalam menghadapi kewajiban-kewajiban yang ada. Kebiasaan ini membutuhkan adanya proses pendidikan dan usaha yang sungguh-sungguh karena sifat manusia tidak hanya cenderung kepada sifat malas saja, tetapi juga selalu memerintahkan kepada kejahatan. Firman Allah SWT “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (S. Yusuf:53)


Bagaimana berjuang melawan diri sendiri :

1. Jadilah orang yang efektif dalam manajemen konflik dengan musuh utama anda (musuh utama manusia adalah setan).
2. Jadilah orang yang mampu mengatur konflik antara diri anda dengan musuh kedua anda dengan baik. (musuh kedua adalah diri anda sendiri).
3. Mendidik Jiwa : diantara cara-caranya diantaranya adalah Muraqabah(kontrol diri), Mujahadah (bersungguh-sungguh), Muhasabah (Introspeksi diri) dan taubat
H. KEPIAWAIAN BERKOMUNIKASI

Seorang Profesor Amerika, Thomas Harrel (1986) di Universitas Stnaford menyebutkan adanya keterkaitan antara sukses dalam kerja dengan proses komunikasi dalam kehidupan manusia. Kajian ini menemukan bahwa diantara standar kesuksesan terpenting adalah sifat terbuka dan inklusif dalam masyarakat. Hal ini ditentukan oleh tiga faktor :
1. pribadi yang terbuka dan fleksibel;
2. pribadi yang suka berbicara kepada orang lain, senang bekerja sama dengan mereka dan meyakinkan mereka;
3. pribadi yang suka kepemimpinan dan pengaruh atas orang lain;

Kajian ini menunjukkan Kesuksesan Hidup hanya sebagian kecil bergantung kepada keahlian kerja atau profesi yang dikuasainya yaitu sekitar 15 % sedangkan bagian besar 85 % bergantung pada keahlian berkomunikasi.

Sifat-sifat dan akhlak berikut merupakan dasar yang tepat dalam mebangun keahlian komunikasi :
1. bekerja demi mewujudkan cita-cita yang tinggi dan besar dalam kehidupan;
2. memberikan perhatian terhadap urusan umum dan tidak terfokus ada urusan pribadi saja;
3. kredibilitas yang tinggi;
4. bijak, hati-hati dan terbuka pada orang lain;
5. sabar dan mampu menampung orang lain;
6. menjadi teladan;
7. berani dan berkepribadian kuat;
8. semangat dan hangat pada orang lain;
9. mengahrgai dan memperhatikan urusan orang lain;
10. bertindak normal, wajar dalam berkata dan bekerja;
IX. BERFIKIR POSITIF

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak mengahdapi berbagai kejadian yang mungkin negative atau kurang mengenakkan. Berfikir positif adalah mencari hal-hal positif dan baik dari peristiwa yang kita alami dan melupakan ha l yang negatif.
Berfikir positif sangat penting di dalam kehidupan manusia karena dengan berfikir positif anda dapat mengubah hal-hal yang sulit menjadi produktif dan bermanfaat, serta menggunakannya untuk mewujudkan tujuan-tujuan anda dalam hidup ini. Sebaliknya dengan berfikir negatif akan membawa anda kepada kemurungan, kesedihan dan frustasi.
Contoh: Gelas yang setengahnya terisi dan setengahnya kosong
Orang yang berfikir positif: akan menjawab setengahnya penuh
Orang yang berfikir negative: akan menjawab setengahnya kosong
Ini adalah konsep simbolis tentang cara panda manusia terhadap sesuatu. Sebagian memandang dengan pandangan optimis sedangkan sebagian yang lain melihat denan pandangan pesimis.

Pribadi Tangguh

PRIBADI TANGGUH - Integrasi Kompetensi dan Karakter dengan Uliil Albab sebagai Ilustrasi
Ditulis oleh H.D. Bastaman

Seperti halnya abad XX yang mempunyai julukan-julukan sebagai Abad Sains dan Teknologi (The Age of Science and Technology) dan Abad Kecemasan (The Age of Anxiety), abad XXI pun mulai mendapat macam-macam julukan, seperti Abad Teknologi Canggih (The Age of Hi Tech), Abad Internet, dan Abad Globalisasi. Semuanya mengisyaratkan bahwa abad 21 ditandai oleh berbagai perubahan serba cepat dalam hampir segala bidang kehidupan. Sebagai contoh, hadirnya teknologi internet dan fenomena globalisasi dengan pasar-bebasnya memberi dampak yang luas pada kehidupan manusia secara pribadi dan sosial.

Informasi apa pun dari dalam dan luar negeri menjadi mudah diperoleh bagi mereka yang memanfaatkan teknologi tersebut. Hal ini tentunya berpengaruh hampir pada semua aspek kehidupan. Dalam bisnis misalnya, pasar global dengan e-commerce-nya yang menembus batas negara-negara saat ini mulai marak dan tak lama akan lagi benar-benar menjadi kenyataan.

Masuknya perusahaan-perusahaan besar dan tenaga-tenaga kerja profesional dari mancanegara serta persaingan bisnis tak dapat dihindari lagi dan mau tak mau akan dialami.

Menghadapi hal itu tentu saja kita harus bersikap proaktif dalam menentukan strategi, antara lain meningkatkan kualitas SDM, dalam artian meningkatkan kemampuan dan ketrampilan, memperkuat motivasi dan gairah kerja, serta memanfaatkan peluang. Tampaknya hal ini berlaku tidak saja dalam bisnis, tetapi juga bagi bidang-bidang lainnya, seperti pendidikan, pemerintahan, kemiliteran, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik dan LSM.

Artinya lembaga-lembaga dan organisasi yang ingin berkembang harus didukung oleh SDM yang bersedia meningkatkan diri dalam ilmu dan ketrampilan (teknikal, manajerial, sosial) serta pengembangan pribadi. SDM tangguh adalah mereka memiliki kemampuan dan ketrampilan tinggi, menguasai bidang kerjanya, luwes dalam pergaulan, cerdas, dapat dipercaya dan bertanggunjawab serta mantap imannya. SDM dengan kualitas ini diharapkan memiliki kemampuan merespon tantangan jaman, memanfaatkan peluang serta mewujudkan visi, misi, strategi dan program yang ditentukan serta mampu mengatasi berbagai kendala. Mereka adalah (calon-calon) pemimpin tangguh dengan integritas kepribadian yang mantap. Pribadi-pribadi demikian merupakan integrasi dan sinergi dari kompetensi tinggi, dan karakter terpuji.

KOMPETENSI

Saat ini di lingkungan industri, perusahaan dan organisasi masalah kompetensi menjadi salah satu hal yang paling banyak mendapat perhatian, karena makin disadari perlunya pribadi-pribadi dengan kemampuan dan ketrampilan tinggi yang dianggap merupakan unsur penentu dalam meraih kesuksesan di berbagai bidang. Pribadi yang kompeten diharapkan selalu produktif dan memberi kemanfaatan besar bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat sekitarnya. Mereka adalah SDM profesional yang pakar dalam bidangnya dan diharapkan menjadi pemimpin tangguh dalam menghadapi berbagai kendala serta menjadi teladan serta menjadi panutan menuju keberhasilan. Lebih-lebih saat persaingan makin tajam dan ketat seperti sekarang masalah kompetensi menjadi harapan utama untuk survive dan memenangkan persaingan.

Pribadi/SDM dengan kompetensi tinggi biasanya menunjukkan etos kerja, sikap dan cara kerja yang baik, selalu berusaha meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga mereka menjadi andalan organisasai, perusahaan dan lembaga tempat mereka berkarya.

Etos Kerja

Ada beberapa asas yang berkaitan dengan etos kerja seorang pribadi dengan kompetensi tinggi, a.l. :
- Azas Tindakan
- Azas Antusias
- Azas Disiplin Diri
- Azas Kegigihan

Cukupkah?

Itulah gambaran pribadi kompeten yang sejauh ini dianggap sebagai penentu kesuksesan. Cukupkah hanya dengan kompetensi tinggi seseorang benar-benar berfungsi sebagai pribadi tangguh penentu kesuksesan? Tidak! Kompetensi memang sangat perlu tetapi tidak cukup untuk mengembangkan pribadi yang benar-benar tangguh. Kompetensi tinggi harus terpadu, bahkan didasari karakter yang baik. Kompetensi dan karakter ibarat dua muka dari sebuah coin. Artinya keduanya harus sama-sama dikembangkan optimal dan seimbang. Dalam hal ini karakter yang baik tanpa kompetensi tinggi menggambarkan pribadi saleh tetapi kurang berdaya dan berjaya. Sebaliknya pribadi dengan kompetensi tinggi tetapi karakternya buruk adalah orang pintar buruk perangai. Orang seperti ini mudah menjadi arogan, bahkan sewenang-wenang memanfaatkan wewenang. Dan biasanya pada suatu saat hidupnya berakhir dengan tragis.

KARAKTER

Kepribadian (personality) sering digambarkan sebagai keseluruhan kualitas kejiwaan yang diwarisi dari orang tua (leluhur) dan yang diperoleh dari hasil pembelajaran, pengaruh lingkungan dan pengalaman hidup. Erich Fromm, seorang pakar Psikoanalisa Baru, merumuskan kepribadian sebagai berikut:

“Personality is the totality of inherited and acquired psychic qualities which are characteristic of one individual and which make the individual unique”

Cukup banyak ragam aspek kepribadian yang diturunkan dari orang tua dan leluhur, antara lain wajah dan bentuk tubuh, kecerdasan, temperamen, bakat dan minat. Sedangkan aspek-aspek kepribadian yang diperoleh dari proses pembelajaran, pengalaman hidup dan pengaruh lingkungan lebih banyak lagi antara lain pengetahuan, hobi, ketrampilan, kebiasaan, gaya hidup dan karakter.

Temperamen merupakan corak reaksi emosional seseorang terhadap berbagai rangsangan dari lingkungan dan dari dirinya sendiri. Hipokrates misalnya mengemukakan empat ragam temperamen manusia didasarkan pada cepat-lambatnya dan kuat-lemahnya pola reaksi emosional seseorang: Sanguinicus (cepat bereaksi, tetapi lemah), Melancholicus (lambat reaksinya, tetapi kuat), Cholericus (cepat dan kuat reaksinya) dan Phlegmaticus (lambat reaksinya dan lemah).

Perbedaan antara temperamen dengan karakter adalah: Temperamen erat kaitannya dengan konstitusi tubuh, sulit sekali berubah dan bersifat netral, dalam artian tidak dengan sendirinya mengandung penilaian baik dan buruk. Karakter dibentuk dari pengalaman hidup seseorang, dapat berubah dan selalu mendapat penilaian baik atau buruk, layak atau tak layak, terpuji atau tercela. Mengapa? Karena karakter merupakan internalisasi nilai-nilai etis yang semula berasal dari lingkungan menjadi bagian kepribadiannya yang berkaitan dengan penilaian baik-buruknya sifat dan perilaku seseorang. Dengan lain perkataan, temperamen tidak apriori mengandung implikasi etis/moral , sedangkan karakter selalu menjadi sasaran penilaian etis/moral. Penilaian baik dan buruk ini didasari oleh bermacam-macam nilai sosial-budaya sebagai tolok ukur. Misalnya kebahagiaan, prestasi, kemanfataan, kenikmatan, kebebasan pribadi, aktualisasi potensi dan penyesuaian diri pada lingkungan. Pribadi berkarakter kuat digambarkan sebagai pribadi bermoral tinggi yang benar-benar memahami, menghayati dan menerapkan nilai-nilai etis, mengetahui apa yang benar dan salah, bersikap jujur, lugas dan bertanggungjawab serta berusaha agar perbuatannya sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai etis/moral yang dianut.

PANDANGAN ISLAM ATAS KARAKTER

Berbicara mengenai Karakter pada hakikatnya berbicara mengenai Akhlak. Dan akhlak adalah kekayaan batin manusia yang membedakannya dari makhluk lain, khususnya hewan. Melalui akhlaknya manusia dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela, mulia atau hina. Dan hanya manusia pula yang dituntut untuk berakhlak mulia dan mencegah diri dari perbuatan nista. Akhlak dapat diartikan sebagai sifat-sifat baik dan buruk yang benar-benar tertanam pada diri seseorang. Akhlak ini tidak kasatmata, tetapi terungkap dalam perbuatan nyata (tindakan, lisan, tulisan, gerak-gerik) yang spontan dan konsisten serta penuh kesadaran saat menghadapi situasi tertentu. Jadi perbuatan akhlaki ini bukan semacam gerakan reflek fisiologis, melainkan perbuatan murni (genuine) yang dilakukan atas kemauan sendiri dan keputusan pribadi yang bebas tanpa ada paksaan dari luar. Bukan pula ketakutan dan kepura-puraan atau ingin menjadi terkenal serta mendapat pujian orang. Bahkan perbuatan akhlaki adalah perbuatan yang dilakukan secara ikhlas karena Allah semata-mata. Dalam pandangan Islam, perbuatan akhlaki mengandung nilai ibadah dan spiritual.

RAGAM AHLAK TERPUJI DAN AHLAK TERCELA

Para akhli mengemukakan berbagai ragam sifat baik dan sifat buruk manusia. Seorang sufi menyatakan bahwa pada diri manusia sekaligus terdapat sekitar 70.000 sifat baik dan 70.000 sifat buruk. Dan sekedar ilustrasi di bawah ini diungkapkan beberapa sifat baik dan sifat buruk manusia yang termasuk ahlak terpuji dan ahlak tercela.

Akhlak Terpuji (Ahlak al Mahmudah): Jujur (Al Amaanah), Pemaaf (Al ’Afwu), Manis muka (Aniesatun), Berbuat Baik (Al Ihsaan), Menahan diri berbuat maksiat (Al Hilmu), Pemurah (As Sakha-u), Berani (Al Syaja’ah), Menganggap saudara (Al Ikhaa-u), Merasa cukup dengan apa yang ada (Qana’ah), Kuat Mental (‘Izzatun nafsi), Memelihara kesucian diri (Al ’Ifaafah).
Akhlak Tercela (Ahlak al Madzmumah): Khianat (Al Khiyanah), Pendendam (Al Hiqdu), Mencari Muka (Ar Riyaa’), Nyolong (As Sirqah), Pengumbar Hawa Nafsu (Asy Syahwaat), Kikir (Al Bukhlu), Pengecut (Al Jubun), Adu domba (An Namiemah), Berlebih-lebihan (Al Israaf), Bunuh diri (Al Intihaar), Dosa besar (Al Fawaahisy).

METODE PENGEMBANGAN AKHLAKUL KARIMAH

Menurut Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya adalah perbaikan akhlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela (madzmummah) pada diri seseorang. Akhlak manusia benar-benar dapat diperbaiki, bahkan sangat dianjurkan sesuai sabda Rasulullah SAW “Upayakan akhlak kalian menjadi baik” (Hassinuu akhlaqakum). Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah akhlak serta mengemukakan berbagai metode perbaikan ahlak. Metode peningkatan ahlak yang beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau dapat dikelompokkan atas tiga jenis metode yang berkaitan satu dengan lainnya yang oleh penulis makalah ini dinamakan:

a. Metode Taat Syari’at. Metode ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup sehari-hari untuk melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan syari’at, aturan-aturan negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Disamping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara’ dan aturan-aturan yang berlaku. Metode ini sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya akan berkembang sikap dan perilaku positif seperti ketaatan pada agama dan norma-norma masyarakat, hidup tenang dan wajar, senang melakukan kebajikan, pandai menyesuaikan diri dan bebas dari permusuhan.

b. Metode Pengembangan Diri. Metode yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan sifat-sifat baik dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat buruk. Dalam pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti pada “Metode Taat Syari’at” ditambah dengan upaya meneladani perbuatan dari pribadi-pribadi yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini secara konsisten akan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Metode ini sebenarnya mirip dengan metode pertama, hanya saja dilakukan secara lebih sadar, lebih disiplin dan intensif serta lebih personal sifatnya daripada metode pertama.

c. Metode Kesufian. Metode ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkat kan kualitas pribadi mendekati citra Insan Ideal (Kamil). Pelatihan disiplin diri ini menurut Al Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al-mujaahadah dan al-riyaadhah. Al Mujaahadah adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Al-Riyaadhah adalah latihan mendekatkan diri pada Tuhan dengan selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung dibawah bimbingan seorang Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya sebagai Mursyid.

Diantara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap tertinggi oleh Al Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian, khususnya dalam meraih ahlak terpuji.

MENGINTEGRASIKAN KOMPETENSI DAN AKHLAKUL KARIMAH

Mengintegrasikan kompetensi tinggi dengan akhlak terpuji sehingga mewujudkan pribadi-pribadi tangguh, mungkinkah? Adakah contohnya dalam Al Qur’an? Jawabnya: Bukan hal mustahil dan ada contohnya.

Al Qur’an mengungkapkan banyak tipe karakter manusia dan tanda-tandanya. Konon ada 73 tipe karakter manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela. Menurut penulis di antara berbagai karakter manusia yang diungkap Al Qur’an ada sebuah karakter yang paling menggambarakan sinergi antara kompetensi dan akhlak terpuji yaitu Karakter Ulul Albab.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (uulil albaab) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau maka peliharakanlah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali ‘Imran/3: 190-191)

Ayat itu menggambarkan bahwa Ulul Albab adalah seorang yang senantiasa mengingat Tuhan dalam keadaan apa pun, baik dalam keadaan senang maupun susah. Selain itu ia pun senantiasa memfungsikan akal-budinya untuk mengamati, memikirkan, dan menelaah alam semesta ciptaan Tuhan, serta mampu memahami bahwa alam semesta itu tidak acak-acakan, tetapi teratur karena ada hukum-hukum yang mengaturnya (Sunatullah). Gambaran ini menunjukkan bahwa Ulul Albab adalah pribadi-pribadi yang mendapat dua kurnia sekaligus yakni kecerdasan dan keimanan atau kurnia pikir dan kurnia dzikir.

Dalam tataran psikologi modern Ulul Albab adalah pribadi-pribadi beriman yang mampu memfungsikan secara optimal potensi-potensi rasional (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Mereka tidak saja mampu bersikap dan berpikir empiris, tetapi juga transendental serta mampu melaksanakan dengan sebaik-baiknya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), hubungan antar pribadi (hablun minannas) termasuk hubungan dengan diri sendiri dan alam sekitar.

Hubungan dengan sesama diwarnai oleh silaturahmi, memperhatikan kepentingan bersama, menghargai pendapat orang, menghormati martabat serta saling menunjang pengembangan potensi diri sendiri dan orang lain, serta berusaha mencegah diri dari permusuhan. Dalam bahasa psikologi hubungan mereka dengan sesama manusia ditandai oleh sikap ke-Kita-an, dan bukan ke-Kami-an atau pun ke-Aku-an.

Mereka sangat menghargai alam sekitar (benda, flora dan fauna), tak pernah mengabaikan atau merusaknya, tetapi senantiasa berusaha untuk memelihara dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Bahkan rasa kagum terhadap alam semesta membuatnya kagum pula kepada Sang Pencipta alam semesta, sehingga makin meningkatkan iman dan taqwa kepadaNya.

Dari gambaran tersebut jelas bahwa karakter Ulul Albab termasuk orang-orang yang dalam dirinya terintegrasi secara sinergik dua potensi insani yakni Kompetensi (IQ, pemikiran mendalam) dan Karakter (EQ dan Akhlakul Karimah) yang bersumber dari Keimanan yang mantap kepada Sang Pencipta (SQ). Itulah salah satu ragam pribadi tangguh yang diungkap Al Qur’an yang layak menjad i salah satu karakter idaman kaum muslimin dan muslimat yang hidup di Abad Teknologi Canggih ini.

PENGEMBANGAN PRIBADI TANGGUH

Proses pengembangan pribadi adalah usaha untuk mengubah kualitas pribadi (a.l. kemampuan, persepsi, karakter, sikap, keyakinan) yang semula kurang baik menjadi baik, atau meningkatkan kualitas-kualitas yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Secara umum pengembangan pribadi ini diawali dengan niat atau motivasi untuk meningkatkan diri, karena menyadari ada kesenjangan antara kondisinya saat ini dengan kondisi yang diidamkan. Hal ini perlu didasari oleh kesadaran bahwa dirinya memiliki berbagai potensi berupa pembawaan, sifat, rasa, kecerdasan, karakter, pola pikir, kemampuan menilai kondisi diri dan “menentukan nasib” dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Selanjutnya potensi-potensi ini perlu direalisasikan dalam keseharian dengan menerapkan asas-asas kesuksesan serta mendapat dukungan lingkungan terdekat. Dalam proses ini perlu adanya tokoh keteladanan yaitu seorang pribadi yang dikagumi dengan kualitas pribadi yang patut dicontoh.

Tokoh keteladanan ini berfungsi sebagai sebagai role model yang dicita-citakan (Citra Diri Idaman). Dan tentu saja dalam proses pengembangan pribadi ini agama (Islam) sebagai pedoman dan nilai-nilai rujukan mutlak diperlukan, karena pribadi tangguh yang kita bahas adalah pribadi dengan kompetensi tinggi dan akhlak mulia yang bersumber dari keimanan yang mantap.

Sebuah Formula

Untuk merangkum dan menyederhanakan unsur-unsur pengembangan pribadi tangguh diajukan sebuah formula sebagai berikut:

PT = N x (CDI + NR +T) x (PD + AS) x Dz

PT = Pribadi Tangguh; N = Niat; CDI = Citra Diri Idaman;
NR = Nilai Rujukan; T = Teladan; PD = Potensi Diri; AS = Asas-asas Sukses;
Dz = Dzikrullah

Keterangan:

PT (Pribadi Tangguh) : kualitas pribadi dengan kompetensi tinggi, karakter/akhlak mulia yang didasari keimanan mantap.
N (niat): motivasi atau keinginan untuk meningkatkan kualitas pribadi menjadi lebih baik.
CDI (Citra Diri Idaman): gambaran mengenai kualitas diri yang dicita-citakan.
NR (Nilai Rujukan): nilai-nilai kebaikan yang dijabarkan dari ajaran agama dan nilai-nilai sosial-budaya yang saling menunjang.
T (Teladan): seorang tokoh yang dikagumi dan menimbulkan keinginan untuk mencontoh kebaikannya.
PD (Potensi Diri): kurnia Tuhan pada manusia berupa antara lain pembawaan, bakat, sifat, dan berbagai kemampuan termasuk kemampuan untuk memilih dan menentukan jalan hidup.
AS (Asas-asas Sukses): prinsip-prinsip yang telah teruji untuk keberhasilan meraih suatu tujuan dan cita-cita.
DZ (Dzikrullah): ibadah dan amalan khusus yang merupakan inti ibadah.

Formula ini hanya berisi pokok-pokoknya saja yang masih dapat dijabarkan dan dirinci sehingga menjadi sebuah modul pelatihan dengan dilengkapi metodologi yang sesuai. Dalam hal ini asas-asas dan metodologi Imam Al Ghazali dapat digunakan karena sesuai dengan asas-asas pelatihan, pendidikan dan pengajaran modern.

Disampaikan pada acara Seminar Nasional bersama Dr. Marwah Daud, Ph D dengan tema "Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia dengan Akhlaqul Karimah atas kerjasama Yayasan Prof. Dr. H Kadirun Yahya dengan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman pada tanggal 21 Februari 2007