| Ditulis oleh H.D. Bastaman | |
| Seperti halnya abad XX yang mempunyai julukan-julukan sebagai Abad Sains dan Teknologi (The Age of Science and Technology) dan Abad Kecemasan (The Age of Anxiety), abad XXI pun mulai mendapat macam-macam julukan, seperti Abad Teknologi Canggih (The Age of Hi Tech), Abad Internet, dan Abad Globalisasi. Semuanya mengisyaratkan bahwa abad 21 ditandai oleh berbagai perubahan serba cepat dalam hampir segala bidang kehidupan. Sebagai contoh, hadirnya teknologi internet dan fenomena globalisasi dengan pasar-bebasnya memberi dampak yang luas pada kehidupan manusia secara pribadi dan sosial. Informasi apa pun dari dalam dan luar negeri menjadi mudah diperoleh bagi mereka yang memanfaatkan teknologi tersebut. Hal ini tentunya berpengaruh hampir pada semua aspek kehidupan. Dalam bisnis misalnya, pasar global dengan e-commerce-nya yang menembus batas negara-negara saat ini mulai marak dan tak lama akan lagi benar-benar menjadi kenyataan. Masuknya perusahaan-perusahaan besar dan tenaga-tenaga kerja profesional dari mancanegara serta persaingan bisnis tak dapat dihindari lagi dan mau tak mau akan dialami. Menghadapi hal itu tentu saja kita harus bersikap proaktif dalam menentukan strategi, antara lain meningkatkan kualitas SDM, dalam artian meningkatkan kemampuan dan ketrampilan, memperkuat motivasi dan gairah kerja, serta memanfaatkan peluang. Tampaknya hal ini berlaku tidak saja dalam bisnis, tetapi juga bagi bidang-bidang lainnya, seperti pendidikan, pemerintahan, kemiliteran, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik dan LSM. KOMPETENSI Saat ini di lingkungan industri, perusahaan dan organisasi masalah kompetensi menjadi salah satu hal yang paling banyak mendapat perhatian, karena makin disadari perlunya pribadi-pribadi dengan kemampuan dan ketrampilan tinggi yang dianggap merupakan unsur penentu dalam meraih kesuksesan di berbagai bidang. Pribadi yang kompeten diharapkan selalu produktif dan memberi kemanfaatan besar bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat sekitarnya. Mereka adalah SDM profesional yang pakar dalam bidangnya dan diharapkan menjadi pemimpin tangguh dalam menghadapi berbagai kendala serta menjadi teladan serta menjadi panutan menuju keberhasilan. Lebih-lebih saat persaingan makin tajam dan ketat seperti sekarang masalah kompetensi menjadi harapan utama untuk survive dan memenangkan persaingan. Etos Kerja Ada beberapa asas yang berkaitan dengan etos kerja seorang pribadi dengan kompetensi tinggi, a.l. : Cukupkah? Itulah gambaran pribadi kompeten yang sejauh ini dianggap sebagai penentu kesuksesan. Cukupkah hanya dengan kompetensi tinggi seseorang benar-benar berfungsi sebagai pribadi tangguh penentu kesuksesan? Tidak! Kompetensi memang sangat perlu tetapi tidak cukup untuk mengembangkan pribadi yang benar-benar tangguh. Kompetensi tinggi harus terpadu, bahkan didasari karakter yang baik. Kompetensi dan karakter ibarat dua muka dari sebuah coin. Artinya keduanya harus sama-sama dikembangkan optimal dan seimbang. Dalam hal ini karakter yang baik tanpa kompetensi tinggi menggambarkan pribadi saleh tetapi kurang berdaya dan berjaya. Sebaliknya pribadi dengan kompetensi tinggi tetapi karakternya buruk adalah orang pintar buruk perangai. Orang seperti ini mudah menjadi arogan, bahkan sewenang-wenang memanfaatkan wewenang. Dan biasanya pada suatu saat hidupnya berakhir dengan tragis. KARAKTER Kepribadian (personality) sering digambarkan sebagai keseluruhan kualitas kejiwaan yang diwarisi dari orang tua (leluhur) dan yang diperoleh dari hasil pembelajaran, pengaruh lingkungan dan pengalaman hidup. Erich Fromm, seorang pakar Psikoanalisa Baru, merumuskan kepribadian sebagai berikut: PANDANGAN ISLAM ATAS KARAKTER Berbicara mengenai Karakter pada hakikatnya berbicara mengenai Akhlak. Dan akhlak adalah kekayaan batin manusia yang membedakannya dari makhluk lain, khususnya hewan. Melalui akhlaknya manusia dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela, mulia atau hina. Dan hanya manusia pula yang dituntut untuk berakhlak mulia dan mencegah diri dari perbuatan nista. Akhlak dapat diartikan sebagai sifat-sifat baik dan buruk yang benar-benar tertanam pada diri seseorang. Akhlak ini tidak kasatmata, tetapi terungkap dalam perbuatan nyata (tindakan, lisan, tulisan, gerak-gerik) yang spontan dan konsisten serta penuh kesadaran saat menghadapi situasi tertentu. Jadi perbuatan akhlaki ini bukan semacam gerakan reflek fisiologis, melainkan perbuatan murni (genuine) yang dilakukan atas kemauan sendiri dan keputusan pribadi yang bebas tanpa ada paksaan dari luar. Bukan pula ketakutan dan kepura-puraan atau ingin menjadi terkenal serta mendapat pujian orang. Bahkan perbuatan akhlaki adalah perbuatan yang dilakukan secara ikhlas karena Allah semata-mata. Dalam pandangan Islam, perbuatan akhlaki mengandung nilai ibadah dan spiritual. RAGAM AHLAK TERPUJI DAN AHLAK TERCELA Para akhli mengemukakan berbagai ragam sifat baik dan sifat buruk manusia. Seorang sufi menyatakan bahwa pada diri manusia sekaligus terdapat sekitar 70.000 sifat baik dan 70.000 sifat buruk. Dan sekedar ilustrasi di bawah ini diungkapkan beberapa sifat baik dan sifat buruk manusia yang termasuk ahlak terpuji dan ahlak tercela. METODE PENGEMBANGAN AKHLAKUL KARIMAH Menurut Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya adalah perbaikan akhlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela (madzmummah) pada diri seseorang. Akhlak manusia benar-benar dapat diperbaiki, bahkan sangat dianjurkan sesuai sabda Rasulullah SAW “Upayakan akhlak kalian menjadi baik” (Hassinuu akhlaqakum). Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah akhlak serta mengemukakan berbagai metode perbaikan ahlak. Metode peningkatan ahlak yang beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau dapat dikelompokkan atas tiga jenis metode yang berkaitan satu dengan lainnya yang oleh penulis makalah ini dinamakan: MENGINTEGRASIKAN KOMPETENSI DAN AKHLAKUL KARIMAH Mengintegrasikan kompetensi tinggi dengan akhlak terpuji sehingga mewujudkan pribadi-pribadi tangguh, mungkinkah? Adakah contohnya dalam Al Qur’an? Jawabnya: Bukan hal mustahil dan ada contohnya. PENGEMBANGAN PRIBADI TANGGUH Proses pengembangan pribadi adalah usaha untuk mengubah kualitas pribadi (a.l. kemampuan, persepsi, karakter, sikap, keyakinan) yang semula kurang baik menjadi baik, atau meningkatkan kualitas-kualitas yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Secara umum pengembangan pribadi ini diawali dengan niat atau motivasi untuk meningkatkan diri, karena menyadari ada kesenjangan antara kondisinya saat ini dengan kondisi yang diidamkan. Hal ini perlu didasari oleh kesadaran bahwa dirinya memiliki berbagai potensi berupa pembawaan, sifat, rasa, kecerdasan, karakter, pola pikir, kemampuan menilai kondisi diri dan “menentukan nasib” dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Selanjutnya potensi-potensi ini perlu direalisasikan dalam keseharian dengan menerapkan asas-asas kesuksesan serta mendapat dukungan lingkungan terdekat. Dalam proses ini perlu adanya tokoh keteladanan yaitu seorang pribadi yang dikagumi dengan kualitas pribadi yang patut dicontoh. Sebuah Formula Untuk merangkum dan menyederhanakan unsur-unsur pengembangan pribadi tangguh diajukan sebuah formula sebagai berikut: PT = Pribadi Tangguh; N = Niat; CDI = Citra Diri Idaman; NR = Nilai Rujukan; T = Teladan; PD = Potensi Diri; AS = Asas-asas Sukses; Dz = Dzikrullah Keterangan:PT (Pribadi Tangguh) : kualitas pribadi dengan kompetensi tinggi, karakter/akhlak mulia yang didasari keimanan mantap.N (niat): motivasi atau keinginan untuk meningkatkan kualitas pribadi menjadi lebih baik. CDI (Citra Diri Idaman): gambaran mengenai kualitas diri yang dicita-citakan. NR (Nilai Rujukan): nilai-nilai kebaikan yang dijabarkan dari ajaran agama dan nilai-nilai sosial-budaya yang saling menunjang. T (Teladan): seorang tokoh yang dikagumi dan menimbulkan keinginan untuk mencontoh kebaikannya. PD (Potensi Diri): kurnia Tuhan pada manusia berupa antara lain pembawaan, bakat, sifat, dan berbagai kemampuan termasuk kemampuan untuk memilih dan menentukan jalan hidup. AS (Asas-asas Sukses): prinsip-prinsip yang telah teruji untuk keberhasilan meraih suatu tujuan dan cita-cita. DZ (Dzikrullah): ibadah dan amalan khusus yang merupakan inti ibadah. Formula ini hanya berisi pokok-pokoknya saja yang masih dapat dijabarkan dan dirinci sehingga menjadi sebuah modul pelatihan dengan dilengkapi metodologi yang sesuai. Dalam hal ini asas-asas dan metodologi Imam Al Ghazali dapat digunakan karena sesuai dengan asas-asas pelatihan, pendidikan dan pengajaran modern. Disampaikan pada acara Seminar Nasional bersama Dr. Marwah Daud, Ph D dengan tema "Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia dengan Akhlaqul Karimah atas kerjasama Yayasan Prof. Dr. H Kadirun Yahya dengan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman pada tanggal 21 Februari 2007 |
Sebuah Sikap Pribadi, Pandangan dan Kontemplasi akan Hakikat Kehidupan Sebagai Upaya Menggapai Ridha Allah SWT. "Illahi Anta Maksudi Wa Ridhaka Matlubi".
Jumat, 01 Mei 2009
Pribadi Tangguh
PRIBADI TANGGUH - Integrasi Kompetensi dan Karakter dengan Uliil Albab sebagai Ilustrasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar