Kamis, 30 April 2009

Sufisme

Zuhud, Tasawuf & Tarekat
Ditulis oleh Jusron Faizal

zuhudPada judul sebelumnya, kita memahami zuhud sebagai perilaku meninggalkan kehidupan dunia yang bersifat materi dan menekuni hal-hal yang bersifat rohani. Tidak jauh dari pengertian tersebut, dalam Ensiklopedi Tasawuf terbitan Angkasa, Bandung (2008), dari segi bahasa, zuhud berarti meninggalkan, tidak menyukai atau mengambil sedikit. Adapun dari segi istilah berarti mengosongkan hati dari sesuatu yang bersifat duniawi atau meninggalkan hidup kematerian. Orang zuhud (zahid) adalah orang yang meninggalkan dunia untuk mendapatkan apa yang ada pada Allah.

Dalam tradisi tasawuf, zuhud merupakan salah satu tahapan, atau maqam yang harus dilalui calon sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Sebelum menjadi sufi, ia harus menempuh jalan panjang yang berisi maqamat. Seorang calon sufi harus terlibat dahulu menjadi orang yang zuhud (zahid), setelah menjadi zahid barulah ia bisa meningkat menjadi sufi.

Sepeninggalan Nabi Muhammad Rasulullah SAW, zuhud menjadi semacam ‘gerakan perlawanan’ para sahabat Rasulullah yang secara terang-terangan mengritik perilaku bermewah-mewah yang dilakukan oleh para penguasa waktu itu. Abu Dzarr al Ghifari dipandang sebagai perintis hidup zuhud dari kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW.

Dalam suatu kunjungan ke Damaskus pada 32 H/652 M, Abu Dzarr menyaksikan Gubernur Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan membangun istana gubernur yang sangat megah. Abu Dzarr berkata kepada Mu’awiyah, "Kalau engkau membangun istana dengan hartamu, itu berlebih-lebihan. Kalau engkau membangun dengan harta rakyat, engkau berkhianat."

zuhudKarena kritiknya yang pedas itu, Abu Dzarr ditangkap dan dikirim oleh Mu’awiyah kepada Khalifah Utsman di Madinah. Oleh Khalifah Utsman, Abu Dzarr beserta keluarganya dibuang ke Rabadzah, sebuah padang gersang jauh di luar kota Madinah. Dalam perjalanan menuju pembuangan itu, Ali ibn Abi Talib, sahabatnya yang turut mengantarnya di samping para petugas berkata, "Wahai Abu Dzarr, engkau takut kepada mereka karena dunianya. Mereka takut kepada engkau karena keyakinanmu."

Sejak saat itu muncul tokoh-tokoh zahid (pengamal zuhud) yang menjadi cikal bakal ajaran tasawuf. Istilah tasawuf sendiri, asal katanya sangat banyak dan definisinya tidak ada yang lengkap. Pengertian tasawuf lebih kurang meliputi hal-hal; membersihkan hati, menjauhkan hawa nafsu, berperangai baik, mendekatkan diri pada Tuhan, mensucikan diri, menjauhkan diri dari kemewahan.

Pengamal tasawuf disebut sufi. Dan kalangan sufi meyakini bahwa benih-benih tasawuf lahir dan diilhami oleh pribadi, perilaku, peristiwa, ibadah, dan kehidupan Rasulullah. Banyak yang bisa dicontohkan, misalnya; bersunyi-sunyi diri di Gua Hira’, berdzikir dan bertafakur, Isra’ Mi’raj, pribadi Rasulullah SAW yang sederhana (zuhud, tidak terpesona oleh kemewahan dunia), ibadah (shalat dan berdzikir), i’tikaf (terutama dalam bulan Ramadhan).

Setelah lebih kurang dua abad setelah Rasulullah wafat, kelompok pengamal tasawuf disebut tarekat. Pada masa itu memang banyak bermunculan tarekat dengan nama-nama yang baru, seperti Sirriyah, Ubudiyah, Shiddiqiyah, Taifuriyah, Khawajakaniah, Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Al Ahrariyah, Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah, Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah Al Khalidiyah. Seiring dengan itu (150 s/d 200 tahun setelah Rasulullah wafat) lahir mazhab-mazhab di bidang fiqih, seperti Hambali, Maliki, Syafi’i dan Ja’fari.

Tarekat sendiri menurut bahasa berasal dari kata Arab thariqah yang berarti jalan atau metode atau aliran (madzhab). Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai (wusul) kepada-Nya. Tarekat merupakan metode yang ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau Mursyid tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Ahli tasawuf mengaitkan istilah tarekat dengan firman Allah SWT: "Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (thariqah) yang benar niscaya akan kami turunkan (hikmah) seperti hujan yang deras dari langit." (QS Al-Jinn/72 : 16)

Tarekat terkait erat dengan tasawuf, karena tarekat merupakan organisasi persaudaraan dalam menjalankan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah SWT merupakan Zat yang suci, maka Zat yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali oleh sesuatu yang suci. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan-tahapan spiritual (maqamat). Masing-masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda-beda, berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda-beda pula.

Menurut al-Ghazali langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati (tazkiyah al-nafs) adalah takhalli yaitu mengosongkan hati dari selain Allah, tahalli yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat-sifat terpuji, dan tajalli yakni memperoleh hakekat tentang ‘wujud’ Tuhan.

Sufisme

Zuhud, Tasawuf & Tarekat
Ditulis oleh Jusron Faizal

zuhudPada judul sebelumnya, kita memahami zuhud sebagai perilaku meninggalkan kehidupan dunia yang bersifat materi dan menekuni hal-hal yang bersifat rohani. Tidak jauh dari pengertian tersebut, dalam Ensiklopedi Tasawuf terbitan Angkasa, Bandung (2008), dari segi bahasa, zuhud berarti meninggalkan, tidak menyukai atau mengambil sedikit. Adapun dari segi istilah berarti mengosongkan hati dari sesuatu yang bersifat duniawi atau meninggalkan hidup kematerian. Orang zuhud (zahid) adalah orang yang meninggalkan dunia untuk mendapatkan apa yang ada pada Allah.

Dalam tradisi tasawuf, zuhud merupakan salah satu tahapan, atau maqam yang harus dilalui calon sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Sebelum menjadi sufi, ia harus menempuh jalan panjang yang berisi maqamat. Seorang calon sufi harus terlibat dahulu menjadi orang yang zuhud (zahid), setelah menjadi zahid barulah ia bisa meningkat menjadi sufi.

Sepeninggalan Nabi Muhammad Rasulullah SAW, zuhud menjadi semacam ‘gerakan perlawanan’ para sahabat Rasulullah yang secara terang-terangan mengritik perilaku bermewah-mewah yang dilakukan oleh para penguasa waktu itu. Abu Dzarr al Ghifari dipandang sebagai perintis hidup zuhud dari kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW.

Dalam suatu kunjungan ke Damaskus pada 32 H/652 M, Abu Dzarr menyaksikan Gubernur Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan membangun istana gubernur yang sangat megah. Abu Dzarr berkata kepada Mu’awiyah, "Kalau engkau membangun istana dengan hartamu, itu berlebih-lebihan. Kalau engkau membangun dengan harta rakyat, engkau berkhianat."

zuhudKarena kritiknya yang pedas itu, Abu Dzarr ditangkap dan dikirim oleh Mu’awiyah kepada Khalifah Utsman di Madinah. Oleh Khalifah Utsman, Abu Dzarr beserta keluarganya dibuang ke Rabadzah, sebuah padang gersang jauh di luar kota Madinah. Dalam perjalanan menuju pembuangan itu, Ali ibn Abi Talib, sahabatnya yang turut mengantarnya di samping para petugas berkata, "Wahai Abu Dzarr, engkau takut kepada mereka karena dunianya. Mereka takut kepada engkau karena keyakinanmu."

Sejak saat itu muncul tokoh-tokoh zahid (pengamal zuhud) yang menjadi cikal bakal ajaran tasawuf. Istilah tasawuf sendiri, asal katanya sangat banyak dan definisinya tidak ada yang lengkap. Pengertian tasawuf lebih kurang meliputi hal-hal; membersihkan hati, menjauhkan hawa nafsu, berperangai baik, mendekatkan diri pada Tuhan, mensucikan diri, menjauhkan diri dari kemewahan.

Pengamal tasawuf disebut sufi. Dan kalangan sufi meyakini bahwa benih-benih tasawuf lahir dan diilhami oleh pribadi, perilaku, peristiwa, ibadah, dan kehidupan Rasulullah. Banyak yang bisa dicontohkan, misalnya; bersunyi-sunyi diri di Gua Hira’, berdzikir dan bertafakur, Isra’ Mi’raj, pribadi Rasulullah SAW yang sederhana (zuhud, tidak terpesona oleh kemewahan dunia), ibadah (shalat dan berdzikir), i’tikaf (terutama dalam bulan Ramadhan).

Setelah lebih kurang dua abad setelah Rasulullah wafat, kelompok pengamal tasawuf disebut tarekat. Pada masa itu memang banyak bermunculan tarekat dengan nama-nama yang baru, seperti Sirriyah, Ubudiyah, Shiddiqiyah, Taifuriyah, Khawajakaniah, Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Al Ahrariyah, Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah, Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah Al Khalidiyah. Seiring dengan itu (150 s/d 200 tahun setelah Rasulullah wafat) lahir mazhab-mazhab di bidang fiqih, seperti Hambali, Maliki, Syafi’i dan Ja’fari.

Tarekat sendiri menurut bahasa berasal dari kata Arab thariqah yang berarti jalan atau metode atau aliran (madzhab). Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai (wusul) kepada-Nya. Tarekat merupakan metode yang ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau Mursyid tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Ahli tasawuf mengaitkan istilah tarekat dengan firman Allah SWT: "Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (thariqah) yang benar niscaya akan kami turunkan (hikmah) seperti hujan yang deras dari langit." (QS Al-Jinn/72 : 16)

Tarekat terkait erat dengan tasawuf, karena tarekat merupakan organisasi persaudaraan dalam menjalankan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah SWT merupakan Zat yang suci, maka Zat yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali oleh sesuatu yang suci. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan-tahapan spiritual (maqamat). Masing-masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda-beda, berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda-beda pula.

Menurut al-Ghazali langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati (tazkiyah al-nafs) adalah takhalli yaitu mengosongkan hati dari selain Allah, tahalli yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat-sifat terpuji, dan tajalli yakni memperoleh hakekat tentang ‘wujud’ Tuhan.