Jumat, 09 Oktober 2009

Kebahagiaan Dambaan Psikologi dan Tasawuf

Kebahagiaan Dambaan Psikologi dan Tasawuf
Ditulis oleh H.D. Bastaman

Kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan, bahkan kaum beragama mendambakan kebahagiaan dan kebaikan tidak saja di dunia, tetapi juga di ahirat. Tetapi kenyataan sering menunjukkan cukup banyak orang yang bahagia dan cukup banyak pula yang tidak bahagia hidupnya. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda, bahkan ada orang-orang yang merasa bahagia dan ada juga yang tak bahagia padahal mereka hidup di suatu lingkungan sama. Apa artinya? Artinya kebahagiaan tidak berkaitan dengan latar belakang usia, jenis seks, kekayaan, rumah tangga, pendidikan dan kondisi lingkungan. Jadi siapa pun bisa berbahagia dan bisa juga menjadi tak bahagia.

Ada dua sudut pandang mengenai hidup bahagia yakni sudut pandang agama dan sudut pandang psikologi. Sudut pandang agama, khususnya Tasauf Islam, pada dasarnya menyatakan bahwa kebahagiaan hakiki diperoleh bila kita senantiasa dekat dan mendekatkan diri kepada Maha Pemilik dan Maha Sumber segala Kebahagiaan yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Caranya dengan mengikuti, menaati dan menerapkan sebaik-baiknya tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari, karena agama banyak memberi petunjuk mengenai asas-asas dan cara-cara meraih keselamatan dan kebahagian di dunia dan di ahirat. Dan agama pun mengajarkan bahwa manusia mampu meraih kebahagiaan, asalkan ia berusaha mengubah keadaan diri mereka menjadi lebih baik. Dalam pandangan agama Islam, manusia benar-benar mampu mengubah nasibnya sendiri ("Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri " (Q.S. al-Ra'ad/13: 11) .

Di lain pihak tinjauan psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan (happiness) merupakan hasil sampingan (by product) atau ganjaran (reward) atas keberhasilan meraih hal-hal yang penting dan bermakna bagi seseorang. Apa yang penting dan berharga bagi seseorang? Sangat bersifat pribadi dan unik, artinya setiap orang memiliki dambaan khusus yang berlainan satu sama lain, seperti kekeluargaan, persahabatan, pendidikan, pekerjaan, tugas sosial, prestasi atau prestise, harta dan kekayaan, kesehatan dan kebugaran, ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai-nilai luhur dan hal-hal yang bersifat rohaniah.

Seperti halnya agama, psikologi pun mengakui bahwa setiap manusia mampu menentukan dan mengubah kondisi hidupnya. Manusia dijuluki "the self determining being" yakni mahluk yang mampu menentukan hidupnya menurut apa yang dianggap sesuai dan terbaik baginya.
TINJAUAN PSIKOLOGI ATAS KEBAHAGIAAN

Kita akan menyimak pandangan seorang pakar psikologi humanistik (dan psikiatri eksistensial) bernama Viktor Frankl (1905 - 1997). Ia seorang keturunan Yahudi asal Wina, Austria, yang selamat dari empat kam-konsentrasi kaum Nazi (Dachau, Maidek, Treblinka, Auschwitz) pada waktu Perang Dunia II dan pendiri aliran Logoterapi. Sesuai dengan akar kata logos yang berarti makna, Logoterapi menyatakan bahwa dambaan, hasrat, tujuan utama setiap manusia adalah kehidupan yang bermakna (meaningful life). Artinya setiap orang (normal) menginginkan dirinya berharga, penting, bermartabat dan berarti bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat dan berharga di mata Tuhan. Being Somebody, istilah psikologinya. Bila hal itu dapat diraih, ganjarannya adalah rasa bahagia atau kebahagiaan. Jadi dalam tataran psikologi, kebahagiaan tidak begitu saja diperoleh, tetapi menuntut upaya lebih dahulu untuk meraih hidup bermakna.
Unsur-unsur Hidup Bermakna

Dalam pandangan Logoterapi sekurang-kurangnya ada 7 (tujuh) unsur penting yang saling terkait dalam upaya mengembangkan hidup yang bermakna yakni: Hasrat untuk Hidup Bermakna, Makna Hidup, Metode Menemukan Makna Hidup, Gambaran Hidup Bermakna/Bahagia, Keteladanan, Asas-asas Sukses dan Do'a.
Hasrat untuk Hidup Bermakna

Setiap orang senantiasa menginginkan dirinya menjadi orang yang berguna dan berharga bagi dirinya sebdiri, keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat sekitar, bahkan berharga di mata Tuhan. Ayah dan ibu misalnya ingin menjadi orang tua yang mengasihi, dikasihi dan dihormati seluruh keluarganya, serta mampu menjalankan dengan sebaik-baiknya fungsinya sebagai orang tua. Sebaliknya bila ia seorang anak tentu ia ingin menjadi anak berbakti yang dikasihi dan menjadi kebanggaan keluarga. Dan setiap orang pasti menginginkan bagi dirinya suatu cita-cita dan tujuan hidup penting yang akan diperjuangkannya dengan penuh semangat, sebuah tujuan hidup yang menjadi arahan segala kegiatannya.

Sebaliknya ia tidak menginginkan dirinya menjadi orang yang hidup tanpa tujuan, sehingga ia sendiri menjadi bingung karena tak terarah dan tidak mengetahui apa yang akan dilakukannya. Itulah sekelumit gambaran mengenai hasrat manusia diantara sekian banyak keinginan lainnya yang bila direnungkan ternyata menggambarkan hasrat yang paling mendasar dari setiap orang yaitu hasrat untuk hidup bermakna.4 Keinginan untuk hidup bermakna benar-benar merupakan motivasi utama setiap manusia. Hasrat inilah yang memotivasi setiap orang melakukan berbagai kegiatan -seperti kegiatan bekerja dan berkarya- agar kehidupannya dirasakan berguna, berharga dan bermakna.
Makna Hidup

Makna Hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan tujuan hidup. Makna hidup sering dinamakan juga nilai atau hikmah kehidupan yakni kebajikan dan manfaat besar yang terkandung dalam berbagai peristiwa dan pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan. Bila nilai-nilai dan hikmah kehidupan itu telah disadari dan berhasil dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia. Contohnya, seorang ibu yang mengasihi anaknya akan merasa senang dan bahagia bila berhasil memberikan sesuatu yang telah lama diinginkan anaknya.

Makna hidup atau hikmah kehidupan terdapat dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan dalam setiap keadaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Ungkapan-ungkapan sehari-hari seperti "Makna dalam Derita" (Meaning in Suffering) atau "Hikmah dalam Musibah" (Blessing in Disguise) menunjukkan bahwa dalam penderitaan sekalipun makna dan hikmah kehidupan tetap dapat ditemukan.
Sumber-sumber Makna Hidup

Dalam kehidupan ini sekurang-kurangnya ada empat hal yang dianggap sebagai sumber makna hidup, karena dalamnya dapat ditemukan berbagai hikmah kehidupan yang menyebabkan hidup bermakna apabila hal itu berhasil dipenuhi. Keempat sumber makna hidup itu adalah:

1. Karya: kegiatan bekerja, mencipta, serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggungjawab serta berbuat kebajikan bagi orang lain dan diri sendiri.
2. Penghayatan: keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, dan cinta kasih.
3. Sikap: menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tak mungkin dihindari lagi -seperti sakit yang tak dapat disembuhkan, kematian orang yang dikasihi- setelah berbagai upaya untuk mengatasinya telah dilakukan secara optimal tetapi tetap tak berhasil.
4. Harapan: keyakinan akan terjadinya perubahan yang lebih baik dan bermanfaat pada waktu mendatang.

Sekalipun makna hidup ini dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri dan setiap orang dewasa (seharusnya) mampu menemukannya sendiri, tetapi dalam kenyataannya hal itu tidak selalu mudah ditemukan. Makna hidup biasanya tersirat dan tersembunyi dalam kehidupan, sehingga perlu dipahami metode dan cara-cara menemukannya.
Metode Menemukan Makna Hidup

Di bawah ini diajukan 5 (lima) metode menemukan makna hidup, yakni:



1. Pemahaman Diri: Mengenali berbagai kekuatan dan kelemahan diri sendiri (dan lingkungan), baik yang masih merupakan potensi maupun yang telah teraktualisasi. Dan makna hidup dan hidup yang bermakna diperoleh bila kekuatan-kekuatan itu berhasil dikembangkan dan kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi;
2. Bertindak Positif: Bertindak positif merupakan kelanjutan dari berpikir positif. Artinya, mencoba melaksanakan dalam perbuatan nyata: niat baik, pikiran-pikiran positif dan hal-hal yang dianggap bermanfaat. Makna hidup dan hidup yang bermakna akan benar-benar terjadi bila hal-hal positif itu terperangai dan dibiasakankan dalam kehidupan sehari-hari;
3. Pengakraban Hubungan: Secara sengaja meningkatkan hubungan yang baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, tetangga, teman, rekan kerja), sehingga masing-masing merasa saling menyayangi, saling mempercayai, saling membutuhkan, dan bersedia bantu-membantu. Dalam keakraban, persahabatan, persaudaraan dan silaturahim itulah makna hidup dan hidup yang bermakna benar-benar terwujud;
4. Pemenuhan sumber-sumber makna hidup: Berupaya untuk mendalami, memahami, menjabarkan dan memenuhi keempat sumber makna hidup yaitu: Karya, Penghayatan, Sikap dan Harapan. Makna hidup dan hidup yang bermakna akan diperoleh bila kita berhasil merealisasi keempat sumber makna hidup tersebut dalam kehidupan sehari-hari;
5. Ibadah: Mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cara-cara yang diajarkanNya. Bentuk ibadah yang paling sederhana tetapi merupakan inti ibadah adalah doa. Dengan beribadah dan berdoa, kita merasa tenteram dan terbimbing tindakan-tindakan kita. Menghayati kedekatan dengan Sang Pencipta akan mengembangkan penghayatan hidup yang sangat bermakna.

Gambaran Hidup Bermakna dan Bahagia

Hidup bahagia adalah kehidupan yang menyenangkan, penuh semangat dan gairah hidup serta jauh dari perasaan hampa dan cemas. Hal ini antara lain ditandai oleh hubungan antar pribadi (khususnya hubungan keluarga) yang penuh keakraban, rukun dan saling menghormati dan menyayangi, bantu membantu dalam kebajikan, melakukan berbagai kegiatan yang menghasilkan karya-karya bermanfaat, memiliki tujuan hidup yang jelas, meningkatkan cara berpikir dan bertindak positif, serta berupaya secara optimal untuk mengembangkan potensi dirinya (fisik, mental, sosial, spiritual) dan orang lain. Orang-orang yang bahagia memiliki kepribadian sehat - antara lain ditandai oleh tubuh yang sehat, otak cemerlang, akhlak luhur, sikap tegas, perasaan lembut, keyakinan yang mantap, dan luwes dalam pergaulan- yang tentu saja menjadi idaman setiap orang. Orang-orang berbahagia adalah mereka yang pandai bersyukur dan ingin agar orang-orang lain pun dapat meraih kebahagiaan seperti diri mereka. Kehadiran orang yang berbahagia biasanya "menularkan" rasa bahagia pula pada orang-orang yang bersamanya.
Keteladanan

Dalam proses pengembangan pribadi dan meraih cita-cita diperlukan role model yaitu pribadi tertentu yang dikagumi dengan perilaku, sikap, sifat, prestasi dan nilai-nilai hidupnya layak diteladani. Proses ini sebenarnya terjadi sejak awal saat anak-anak meniru tingkah laku dan penampilan orang tua, saudara, teman, dsb. Berbeda dengan anak-anak (dan remaja) yang sering meniru-niru tampilan fisik, pada orang-orang dewasa yang diteladani dan diambil alih adalah nilai-nilai hidup yang ada pada tokoh teladan itu.
Asas-asas Sukses

Seperti halnya Hukum Gravitasi yang berlaku abadi dialam fisik terdapat banyak sekali hukum dan asas-asas keberhasilan hidup. Skip Ross, seorang ahli psikologi mengemukakan 10 prinsip sukses yang diyakininya dan telah diuji coba sendiri dan terbukti berhasil. Lima diantara ke 10 asas itu adalah sbb.



1. Asas Memberi. Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tulus, satu saat kita akan menerimanya kembali berlipat ganda entah dari mana datangnya. Ini berlaku tidak saja untuk materi tetapi juga non materi. Bila kita memberikan penghargaan atau pujian kepada seseorang maka pada suatu saat kita akan menerima hal serupa lebih banyak dan lebih baik. Oleh karena itu biasakan memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang lain;
2. Asas Menyingkirkan. Singkirkan hal-hal yang tidak kita inginkan untuk memberi peluang berkembangnya hal-hal yang kita inginkan. Tentu saja hal ini berlaku pula untuk kebiasaan dan sifat-sifat buruk. Usahakan untuk mengurangi/ menghilangkan sifat dan kebiasaan-kebiasaan buruk kita, karena lambat laun akan digantikan dengan hal-hal positif yang berkembang dalam diri kita, sadar ataupun tidak sadar;
3. Asas Ucapan. Apapun yang anda ungkapkan secara lisan akan benar-benar terjadi. Seperti halnya imajinasi ucapanpun mempunyai kekuatan untuk mewujudkan apa yang diucapkan (baik atau buruk). Oleh karena itu hati-hatilah dengan ucapan. Singkatnya selalu ucapkan yang baik-baik saja;
4. Asas Antusias. Mencurahkan segenap daya dan upaya terhadap setiap kegiatan yang dilakukan. Antusiasme memancarkan semangat dan semangat akan mempercepat diraihnya hal-hal yang besar. Antusias sebenarnya merupakan sikap mental dan cara hidup yang terpancar dari wajah, sinar mata, cara bicara dan gerak gerik yang penuh semangat. Antusiasme sulit untuk diajarkan tetapi dapat ditularkan. Seorang yang antusias akan menarik orang-orang lain untuk bersemangat pula;
5. Asas Kegigihan. Melakukan sesuatu terus menerus sampai tuntas sekalipun banyak mengalami rintangan dan penolakan. Persistensi adalah ketekunan dan kegigihan serta sikap mantang menyerah.

Proses Pengembangan Hidup Bermakna

Atas dasar unsur-unsur tersebut, seseorang yang ingin mengembangkan kehidupan yang bermakna perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, memantapkan niat untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih bermakna dan menyadari potensi diri, antara lain kemampuan untuk mengubah kondisi diri menjadi lebih baik, serta memiliki gambaran jelas mengenai kualitas hidup yang diidam-idamkan. Kemudian, memahami makna dan sumber-sumber makna hidup, mengetahui cara-cara menemukannya, serta secara sadar mengarahkan diri pada citra diri yang diidam-idamkan dengan keteladanan yang jelas. Dan menerapkan Asas-asas Sukses dalam melaksanakan semuanya serta tidak lupa untuk senantiasa berdo'a dan beribadah kepada Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang agar kehidupan ini senantiasa dipenuhi keberkatan yang melimpah ruah ke sekitarnya. Keberhasilan mengembangkan hidup yang bermakna itu akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri pada para pelakunya.
KEBAHAGIAAN DALAM PANDANGAN TASAUF

Telah dijelaskan bahwa kebahagiaan dalam pandangan agama diperoleh dengan jalan mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai Maha Pemberi Kebahagiaan melalui ibadah dan cara-cara yang diajarkanNya. Dalam hal ini Tasauf Islam sebagai dimensi ihsan dalam Agama Islam yang terutama mengolah daya-daya ruhani manusia dalam proses mendekatkan diri pada Allah SWT tentu mengembangkan pula cara-cara mendekatkan diri secara ruhaniah kepadaNya. Sekalipun pengetahuan mengenai ruh ini sedikit sekali diberikanNya kepada manusia, tetapi dari yang sedikit itu Tasauf Islam dapat menggambarkan karakteristik ruh antara lain sebagai berikut:

* Ruh berasal dari Tuhan, dan bukan berasal dari tanah atau bumi.
* Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani dan jiwa manusia. Ruh yang berasal dari Allah SWT itu merupakan sarana pokok untuk munajat kepadaNya.
* Ruh tetap hidup sekalipun kita tidur atau tak sadar, bahkan mati.d.Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, tetapi dapat pula dibersihkan dan menjadi suci.
* Tasauf mengikutsertakan ruh dalam beribadah kepada Tuhan.
* Tasauf melatih untuk menyebut Kalimah Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tetapi juga tembus ke dalam alam ruhaniah di atas alam sadar. Kalimah Allah yang termuat dalam ruh pada gilirannya dapat membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.
* Ruh diciptakan jauh sebelum manusia dilahirkan, berfungsi selama manusia hidup, dan setelah meninggal ruh akan pindah ke alam baqa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ia hidup ke hadlirat Tuhan. Jadi ruh itu ada dalam diri manusia, tetapi tak-kasatmata (invisible) karena sangat halus dan gaib sifatnya. Selain itu dimensinya jauh lebih tinggi dari alam pikiran, dan tahapannya pun di atas alam sadar (Super-conscious). Ruh ini bukan sembarang ruh, melainkan ruh yang sangat tinggi, indah dan lembut yang dikurniakan Allah kepada manusia melalui "hembusanNya" (QS. Al-Sajadah, 32: 9).

Gambaran Umum mengenai Tasauf

Tasauf sebagai salah satu pilar Al Islam sejauh ini paling banyak membahas dan mengolah ruhani manusia dengan tujuan antara lain agar manusia mampu mengembangkan akhlak yang baik serta senantiasa berusaha hidup dalam bimbingan dan keridhaanNya. Bagaimana metode Tasauf untuk meningkatkan derajat ruhani manusia antara lain dapat diketahui dari kegiatan pengamalan-pengamalannya di berbagai "padepokan" tasauf. Bila kita cermati kehidupan di setiap perguruan tasauf biasanya terjadi kegiatan sebagai berikut:

Seorang ulama ahli tasauf (dibantu para asistennya) mengajarkan dan melatih murid-murid mempelajari dan mengamalkan agama pada umumnya, dan secara husus menggalakkan dzikrullah (dan wiridan-wiridan nawafil lainnya) didasarkan pada sistem tarekat yang dikembangkan di perguruan itu. Dengan demikian kegiatan tasauf sekurang-kurangnya melibatkan empat unsur yakni: Mursyid, Murid, Tarekat, dan Amalan. Sederhana sekali, tetapi di balik kesederhanaan itu terdapat kegiatan olah-ruhani yang sangat tinggi, halus, dan mendasar dalam menghampirkan ruhani manusia kepada Sang Pencipta dengan jalan mengikuti jejak ruhaniah Rasulullah SAW.
Pilar-pilar Tasauf

Sehubungan dengan itu kerangka pikir tasaufi adalah sebagai berikut: Muhammad Rasulullah SAW tentu dikurniakan Allah SWT sarana hubungan gaib denganNya. Sarana ini disebut washilah yang tidak lain adalah Nur Ilahi atau Nuurun alan Nuurin (QS. An Nuur: 35), dan dengan demikian Nabi Muhammad SAW adalah pembawa washilah (the washilah carrier). Washilah ini diajarkan dan diwariskan beliau kepada para sahabat utama ahli ruhani, dan dari sana diturunkan pula dari jaman ke jaman kepada para aulia akbar yang dalam dunia tasauf lazim disebut para ahli silsilah.

Dengan demikian beliau-beliau pun berfungsi sebagai pembawa washilah untuk diajarkan kepada kaum muslimin dan muslimat melalui metode tasauf yang tujuannya tak lain adalah untuk meraih RidhaNya. Di sisi lain terdapat manusia-manusia dengan segala duka-nestapanya yang senantiasa mendambakan kebahagiaan hidup lahiriah dan ruhaniah yang senantiasa terbimbing dalam RidhaNya. Dalam hal inilah Tasauf di bawah kepemimpinan Al Mursyid menawarkan metodologi (thariqatullah) bagaimana ruhani kita Insya Allah berimam-tahkik kepada Arwahul muqaddasah Rasulullah SAW guna mendapat kurnia washilah dalam rangka mendapatkan RidhaNya.

Perlu dijelaskan bahwa pemikiran tasaufi ini samasekali tidak mengubah sezarah pun asas-asas dan aturan akidah dan syariah Islam yang sudah settled, tetapi menjelaskan secara ilmiah metafisika bagaimana peranan Washilah (Nuurun alan Nuurin) sebagai salah satu "pintu menuju Tuhan" dalam proses munajat kepada Allah SWT.

Dalam ini Tasauf Islam di bawah kepimpinan Al Mursyid mengajarkan agama Islam secara menyeluruh (kaaffah) dan dengan metode tarekatnya melatih dan menggalakkan dzikrullah guna mengembangkan akhlak mulia, meningkatkan kekhusyukan ibadah, dan meningkatkan amal shaleh. Dan dalam naungan Ridha Allah SWT, syafaat Rasulullah SAW dan karomah para Aulia Pembawa Washilah serta bimbingan Al Mursyid dambaan kebahagiaan hakiki Insya Allah dapat diraih.


FORDIBA Sawangan, 20 Mei 2008

Drs. Hanna Djumhana Bastaman, M Psi

Mengubah Kebiasaan Hidup

Mengubah Kebiasaan Hidup
Ditulis oleh Rahman Moenggah, SH, LLM

Kebahagiaan dan kesuksesan adalah suatu keadaan yang selalu dicari dan menjadi dambaan setiap mahluk di muka bumi yang bernama manusia. Dalam pencarian itu dapat dikatakan setiap gerak, usaha dan langkah diupayakan. Seluruh waktu dicurahkan bahkan tidak jarang jiwa dan raga sekalipun dikorbankannya untuk mendapatkannya. Hanya sayang sekali, sejarah juga menunjukkan bahwa tidak semua manusia mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Banyak anak manusia yang tersesat di jalan, gagal bahkan tidak sedikit terperosok ke dalam lubang kehancuran.

Apa sebenarnya kesuksesan dan kebahahagiaan itu? Selama ini kesuksesan itu lebih banyak dilihat sebagai suatu keadaan atau konsep saja, padahal sebenarnya kesuksesan itu adalah sebuah proses perjalanan dari pengalaman dan keahlian seorang anak manusia.
Kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan yang harus dilakukan dengan baik, sabar serta dibutuhkan waktu dan pengorbanan. Karena kebiasaan dan penerapannya itulah yang akan menentukan keberhasilan seseorang, baik dalam kaitannya dengan status sosial, kedudukan, maupun keahliannya dalam melakukan tugas.

Bagaimana sisi kesuksesan dipandang dari Islam? Bagaimana kita mencapainya?
1. TUJUAN HIDUP MANUSIA
Sebelum menjawab mengenai kesuksesan marilah kita lihat dahulu apa tujuan hidup manusia dengan merujuk kepada tujuan Allah telah menciptakan manusia sebagaimana dijelaskan dalam firmannya:

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (adz Dzariyat 56)

Kesuksesan yang hendak kita raih di dalam kehidupan baik di dunia maupun akhirat bersandar kepada apa yang menjadi tugas utama kita sebagai manusia yaitu mengabdi kepada Allah. Kemudian Allah memberikan kebebasan yang sempurna tetapi dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh syariat dengan tujuan untuk memakmurkan bumi dan mewujudkan hasil-hasil yang didapat sebagaimana dijelaskan di dalam firmanNya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada Malaikat, sesungguhnya Aku akan jadikan di muka bumi ini seorang khalifah (Al Baqarah ayat 30).

Jadi kebahagiaan dan kesuksesan akan datang dalam konteks pengabdian yang sebenarnya kepada Allah Swt dan pemakmuran bumi yang dilakukan dengan cara membangun peradaban manusia yang benar.
2. KEBIASAAN DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Dengan berdasarkan pendapat bahwa kesuksesan adalah suatu proses yang dibangun dari kebiasaan, ternyata dalam kehidupan manusia, kebiasaan memiliki pengaruh yang besar. Setiap orang dari kita digerakkan oleh kebiasaan. Ibarat pepatah tanamlah suatu perbuatan dan tuailah suatu kebiasaan; tanamlah suatu kebiasaan dan tuailah suatu perilaku; tanamlah suatu perilalaku tuailah suatu keberuntungan.

Contohnya: bila datang bulan Ramadhan, kehidupan seorang muslim mengalami perubahan baik dari kebiasaan makan, tidur maupun kebiasaan shalatnya. Bulan Ramadhan hanya datang sekali dalam satu tahun. Dalam bulan-bulan biasa, setiap muslim terbiasa dengan kehidupan yang rutin khususnya kebiasaan makan minum dan shalat. Tetapi begitu datang bulan Ramadhan, kebiasaan kebiasaan tersebut harus diubah dan diganti dengan kebiasaan baru.

Tetapi setelah berlalunya hari pertama, kita mulai biasa melakukan shalat malam dan rutinitas keseharian kita juga berubah. Kitapun dapat merasakan kemudahan dan tidak lagi merasa berat untuk melakukan rutinitas di bulan Ramadhan. Ketika akhir bulan Ramadhan pun kita kita sudah terbiasa dengan shaum dan tidak lagi merasa berat menjalani puasa dan mungkin siap menjalani kehidupannya dengan cara semacam itu.

Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena ia telah terbiasa melakukannya dan ia telah mengubah kebiasaan-kebiasaan lama dengan kebiasaan baru.
Apa yang terjadi di bulan Ramadhan ini merupakan pelajaran penting dari Tuhan yang mengajarkan kepada kita bahwa mengubah kebiasaan adalah sesuatu yang mudah dan dapat dilakuka n oleh setiap manusia.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kehidupan kita diatur oleh berbagai macam kebiasaan. Diantara kebiasaan itu ada yang bermanfaat ada pula yang tidak bermanfaat. Tentunya kita diharapkan dapat memperkuat kebiasaan yang bermanfaat dan dapat menjauhkan diri dari kebiasaan yang tidak bermanfaat atau membahayakan
3. APA YANG DIMAKSUDKAN DENGAN KEBIASAAN
Kebiasaan adalah sesuatu yang biasa kita lakukan, kebiasaan dapat berupa sesuatu yang diindera, seperti pergi ke tempat tertentu, makan makanan tertentu. Tetapi juga dapat berupa sikap atau perasan: misalnya menghormati orang lain, memuliakan tamu, memberikan senyuman, jujur, tidak bergunjing dll.

Para psikolog menjelaskan bahwa kebiasaan terdiri dari 3 unsur yang saling berkaitan erat:

Pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bersifat teoritis mengenai sesuatu yang ingin dikerjakan;

Keinginan, yaitu adanya motivasi atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu;

Keahlian, maksudnya kemampuan untuk melakukannya.

Jika ketiga unsur itu bertemu didalam perbuatan, maka perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai kebiasaan. Akan tetapi jika kurang salah satunya, maka perbuatan itu tidak dapat dikategorikan sebagai kebiasaan. Contoh membaca (bisa membaca, mengetahui pentingnya membaca dan ada motivasi atau keinginan untuk membaca).
4. MEMBANGUN KEBIASAAN YANG BERMANFAAT DAN MENGHINDARI KEBIASAAN YANG TIDAK BERMANFAAT
Kita dapat membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang bermanfaat dengan cara, berusaha mencari pengetahuan tentang sesuatu yang akan kita lakukan, melatih diri sehingga kita mampu melakukannya dan diteruskan dengan upaya membangkitkan motivasi atau keinginan melakukannya.

JIka ingin menghindarkan diri dari kebiasaan yang tidak bermanfaat, harus diperhatikan dua unsur yaitu pengetahuan dan keinginan. Kita harus menambah pengetahuan mengenai dampak negatifnya setelah itu dilanjutkan dengan memperhatikan unsur keinginan.

Mulailah dengan mengubah faktor-faktor pendorong dan kecenderungan yang mengarah kepada kebiasaan negatif.

Kebiasaan yang ada dalam kehidupan kita terbentuk dan dibangun dalam waktu yang lama sehingga kita merasa mudah untuk melakukan dan mengulanginya bahkan dalam melakukannya terkadang kita tidak lagi perlu berfikir panjang.

Karena itu dalam membentuk kebiasaan baru merupakan pekerjaan yang memerlukan kesungguhan, pengorbanan dan konsentrasi, sebagaimana meninggalkan kebiasaan lama juga membutuhkan adanya keseriusan.

Allah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (ar Ra’d 11)

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan, manusia harus kembali kepada dirinya sendiri guna menganilisis kebiasan-kebiasaan yang dimilikinya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun berkaitan dengan masyarakat. Jika ia menemukan perilaku yang menyimpang. Maka ia harus melakukan perubahan ke dalam dirinya secepat mungkin.

Dengan demikian Perubahan dalam kehidupan manusia baik berkaitan dengan dirinya maupun dengan masyarakat akan datang dari dalam diri manusia sendiri.
5. TIGA UNSUR UTAMA KESUKSESAN
Kesuksesan seseorang baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya sangat tergantung pada tiga aspek utama yang terdapat di dalam kepribadiannya.

P. Pandangan Hidup
H. Hubungan Antar Manusia.
K. Keahlian

Pandangan hidup;
Pandangan hidup atau visi erkait dengan daya rasa manusia terhadap hidupnya serta terkait dengan kemampuannya untuk memindahkan rasa tersebut ke wilayah praktek. Apa tujuan-tujuan besar yang hendak dicapainya? Standar moral apa yang digunakannya untuk mencapai tujuan tersebut?
Hubungan Antar Manusia
Apakah ia bers ifat terbuka, luwes ataukan selalu berhati-hati; apakah ia memiliki sifat toleran dan pandai bergaul atau ia seorang yang sulit berinteraksi dengan orang lain dan tidak penyabar?

Keahlian, berhubungan dengan, mekanisme dan pengetahuan tertentu. Keahlian apa yang dimiliknya, bidang apa yang dikuasainya, profesi apa yang ditekuninya.

Dari aspek Pandangan Hidup lahir empat macam kebiasaan:
1. Berusaha mencapai keunggulan;
2. Menentukan tujuan;
3. Membuat rencana;
4. Menyusun prioritas

Dari aspek Hubungan dengan sesama manusia muncul beberapa kebiasaan
1. Keahlian berkomunikasi;
2. Berfikir positif;
3. Keseimbangan/moderat.

Dari aspek Keahlian, melahirkan 3 macam kebiasaan:
1. Konsentrasi (fokus)
2. Manajemen Waktu;
3. Berjuang melawan Diri Sendiri;

Pada hakekatnya, ketiga aspek utama tersebut terdapat dalam diri setiap orang, tetapi terkadang ada perbedaan kadar untuk masing-masing aspek yang dimiliki. Terkadang seseorang memiliki kadar kepandaian yang luar biasa dalam berinteraksi dengan manusia, tetapi ia mengeluh aspek pandangan hidupnya yang tidak kuat atau ia tidak memiliki keahlian yang tinggi yang dibutuhkan guna mencapai kesuksesan di dalam pekerjaannya.

Adapula orang yang memiliki tingkat keahlian yang tinggi dan pengetahuan tertentu yang berkaitan dengan profesinya, tetapi ia tidak pandai berinteraksi dengan sesama manusia serta memiliki pandangan yang lemah.

Keseimbangan antara ketiga aspek tersebut merupakan sesuatu yang harus ada jika kita ingin membangun kepribadian yang sempurna.

Dengan demikian 10 Kebiasaan agar manusia dapat menjadi sukses adalah

a. Berusaha mencapai keunggulan;
b. Tentukan Tujuan;
c. Buat Rencana;
d. Susun Prioritas
e. Konsentrasi (fokus)
f. Manajemen Waktu;
g. Berjuang melawan Diri Sendiri;
h. Pandai berkomunikasi;
i. Berfikir positif
j. Moderat.

A. BERUSAHA MENCAPAI KEUNGGULAN
Kebiasaan ini merupakan salah satu yang terpenting dari sepuluh kebiasaan manusia sukses. Berusaha mencapai keunggulan adalah berusaha dengan tekun dan terus menerus guna mencapai keunggulan di dalam hidup.
Hal ini mengandung pengertian selalu berusaha untuk menjaga perkembangan diri, dengan meningkatkan kualitas keimanan, ahlak, hubungan dengan manusia dan memanfaatkannya untuk mewujudkan misi hidupnya.
Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan dalam hidup terdiri atas 3 Aspek Penting:

Pertama: Selalu Berusaha Untuk Meningkatkan Keimanan;
Iman merupakan faktor yang sangat menentukan. Faktor ini diperoleh dengan menjalin hubungan dengan Allah SWT secara terus menerus. Jika kita memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT dan tingkat keimanan tinggi maka kita dapat mewujudkan misi hidup kita secara efektif. Keimanan sesorang dapat bertambah atau berkurang. Ia akan bertambah dengan ketaatan serta ibadah serta akan berkurang dengan kelalaian dan kealpaan.

Kebiasaan berusaha untuk mencari Keunggulan ini dapat menyebabkan seseorang memperoleh kebaikan dan hidayah yang lebih daripada hari sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan hasil yang akan diperoleh seseorang jika ia berusaha untuk mencapai keunggulan keimanan ini.

Orang orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (al – Ankabut 69)

Perumpamaan nafkah orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia Nya lagi Maha Mengetahui (al Baqarah 261)

Hadis Kudsi:
“Barang siapa mendekat kepadaKu satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, Barang s iapa mendekat kepadaKu satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, Barang siapa datang kepadaKu dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendatanginya dengan segera. Barang siapa menyebut Ku dalam sekelompok orang, maka Aku akan menyebutnya dalam kelompok orang yang lebih baik dari kelompok mereka.”

Hambaku selalu mendekat kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjadi kakinya yang dia dia gunakan untuk berjalan, menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menangkap. Jika ia minta kepada Ku, maka Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan kepada Ku maka Aku akan melindunginya.”

Pada dasarnya perjalanan hidup seseorang manusia sangat terkait dengan aspek keimanan ini. Jika kehidupan manusia tidak dibangun di atas aspek ini maka kehidupannya tidak akan berarti.

Allah menggambarkan kondisi orang-orang yang tidak memenuhi kehidupannya dengan aspek keimanan dalam firmanNya:

Katakanlah: apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak akan mengadakan penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat (al Khafi 103-105)

Sejalan dengan ini YM Abu dalam salah satu makalahnya (Menjadi Lebih Bahagia Dengan Menjalankan Ajaran Islam) menyatakan bahwa: “…Harapan kita sebenarnya hanya satu, yatu: marilah kita berlomba lomba untuk mencintai Tuhan di atas segala-galanya. Mencintai Tuhan berarti mencintai semua ketetapannya dan ketentuan Tuhan. Lebih kongkrit lagi, mencintai Tuhan harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah Rasul Nya. Sebab dalam Al Qur’an Allah Berfirman: “katakanlah (kepada mereka hai Muhammad): Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Kedua: Selalu berusaha untuk meningkatkan keahlian, pengetahuan dalam bidang tertentu, produktifitas, optimalisasi dan efektifitas dalam pekerjaan atau profesi kita.

Seorang manusia yang tidak mau berusaha untuk mencapai keunggulan dalam pekerjaannya, tidak mengubah etos kerja dan produktifitasnya dan tidak mau berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya, ia akan tetap berada pada posisi tertentu, tidak akan mengalami kenaikan jabatan, tidak dapat meningkatkan penghasilannya. Sebaliknya seseorang yang memiliki jiwa luwes, gesit dan selalu berusaha untuk memperoleh yang lebih baik, maka ia akan selalu belajar, berusaha menyempurnakan pekerjaan dan meraih prestasi, selalu mencari peluang dan memperkuat faktor-faktor yang dapat meningkatkan produktifitasnya.

Ketiga: berusaha untuk meningkatkan hubungan positif dengan orang lain

Aspek ini merupakan permasalahan penting di dalam kehidupan manusia. Jika hubungan antara sesama manusia kita positif dan menyenangkan, maka kehidupan kita akan menjadi lebih produktif dan menyenangkan.

Tidaklah heran jika hubungan dengan sesama manusia itu merupakan hal terpenting dalam agama Islam, bahkan merupakan substansi dari agama. Juga tidaklah heran jika ahlak yang mulia dalam berinteraksi dengan orang lain merupakan satu sifat yang dapat menyebabkan seseorang manusia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, yaitu bersama dengan orang-orang yang jujur dan dekat dengan Rasulullah. Hadist: Orang yang paling dekat tempat duduknya diantara kalian dengan tempat dudukku di hari kiamat adalah orang yang paling baik ahlaknya. (Riwayat Tarmidzi)

YM Abu (dalam Makalahnya, “Berlomba-lomba menyempurnaka n Keislaman Kita”) mensitir Fatwa YM Ayahanda Guru yang berbunyi ”..Kalau perilaku tidak dipelihara, ia akan menghancurkan, memporakporandakan, membawa kita kepada neraka dan hambluminannas akan hancur, yang akan merusak pula habluminallah, karena hablumminallah dan habluminnas berpengaruh satu sama lain timbal balik…”

Suatu pekerjaan dapat diganti dengan pekerjaan lain tetapi keluarga dan kerabat tidak dapat diganti. Dalam kaitan dengan usaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek hubungan dengan sesama manusia ini, ada sebuah Hadist yang menyatakan “ Bergaulah dengan manusia dengan cara yang kamu harapkan, mereka juga menggunakannya ketika bergaul dengan kamu”

Selanjutnya YM Abu menyatakan: “…sejak dahulu Ayah telah berkata dan berfatwa: jagalah selalu mulutmu, jangan berbicara yang lain selain daripada mengaggungkan dzikrullah atau memuji Allah SWT, memuliakan Rasulullah dan sega guru-guru kita, dan jika berjata, katakanlah yang bermanfaat, yang kreatif, jangan utarakan syakwasangka, gunjuing, irihati dendam kesumat, jangan lepaskan mulut engkau begitu saja yang akan menggores tajam dan melukai saudaramu kesana kemari, menikam kesana kemari dan akhirnya merusak masyarakatmu sendiri.”

Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan beserta ketiga aspeknya merupakan kebiasaan yang paling penting menuju pribadi yang sukses. Jika kita berusaha membentuk, melakukan dan melatihnya maka kehidupan kita akan berputar 180 derajat dan dapat kita wujudkan kebahagiaan dan kesuksesan yang diharapkan.

Kebahagiaan menurut orang bijak memiliki tiga sumber yang ada di dalam kehidupan manusia yaitu : Ridha Allah (berusaha mencapai kenggulan dalam aspek Iman); Melakukan pekerjaan secara sempurna dan Menyelesaikan segala urusan satu persatu; Membantu orang lain dengan cara menjaga etika dalam bergaul, berbuat baik kepadanya, mengorbankan sebagian waktu, usaha dan harta untuk kepentingannya
B. TENTUKAN TUJUAN
Macam Tujuan dilihat dari sumbernya: Tujuan Ketuhanan, Tujuan Sosial dan Tujuan Individual
Tujuan ketuhanan ditentukan Allah SWT dengan maksud mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan Sosial merupakan penerapan dari tujuan pertama yang ditentukan oleh tuntutan zaman dan Tujuan Individual adalah yujuan yang ditentukan seseorang untuk dirinya sendiri.
C. SUSUN PRIORITAS
Yang dimaksud dengan menyusun prioritas adalah menyusun sejumlah tujuan, tugas dan pekerjaan, dimulai dari yang paling penting sehingga akan dapat diwujudkan tujuan-tujuan itu dalam waktu yang diberikan kepadanya. Waktu merupakan materi yang sangat mahal.
Kebiasaan menyusun prioritas harus dilakukan setiap hari. Ada dua macam prioritas :
1. prioritas pertama adalah prioritas yang bersifat tetap yaitu yang berkaitan dengan aspek ibadah.
2. prioritas kedua adalah prioritas yang bersifat tidak tetap yang dapat berubah yang berkaitan dengan pekerjaan dan sosial.
D. BUAT RENCANA
Secara singkat yang dimaksud dengan membuat rencana adalah meletakkan tujuan-tujuan kita dalam sebuah program kerja yang dapat dilaksanakan serta menentukan langkah-langkah yang dapat membantu menentukan tujuan.
.
Menyusun rencana menjadikan kita siap untuk menentukan langkah selanjutnya
E. KONSENTRASI
Konsentrasi adalah memusatkan perhatian pada tugas, tanggung jawab atau pekerjaan yang ada di hadapan serta berusaha melaksanakannya terus menerus sehingga benar-benar sampai pada tingkatan terakhir.
Hambatan yang dapat menggangu konsentrasi diantaranya tidak adanya motivasi atau dorongan tidak adanya keahlian yang dibutuhkan; rendahnya tingkat kesabaran. Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang muslim untuk bersabar dan menguatkan kesabaranya.
F. MANAJEMEN WAKTU
Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasiha t menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (al-Ashr : 1-3)

Dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang. Waktu berjalan dengan cepat seperti berjalannya awan. Kita tidak dapat berbuat apa-apa selain memanfaatkan dan memfungsikannya dengan baik atau membiarkannya berlalu begitu saja.
Bagaimana menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan waktu terbuang.
1. Pelajari tujuan-tujuan, rencana dan prioritas.
2. Letakkanlah tujuan-tujuan pada sebuah rencana periodik;
3. Buatkanlah daftar pekerjaan (kegiatan) yang akan dilakukan setiap hari;
4. Tutuplah semua jalan (hal) yang dapat memalingkan anda;
5. Manfaatkanlah waktu-waktu yang ada (tersisa)
6. Janganlah anda selalu berpasrah pada hal-hal yang bersifat mendesak.
G. BERJUANG MELAWAN DIRI SENDIRI

“ Orang yang sukses adalah orang yang mengarahkan keinginannya, dan bukan orang yang menjadi budak keinginannya” (Perkataan orang bijak)

“Orang yang dapat mengalahkan nafsunya lebih hebat daripada orang yang dapat menaklukkan sebuah kota” (ungkapan India)

Berjuang melawan diri sendiri adalah berusaha secara terus menerus untuk mengalahkan, menaklukkan, mengendalikan dan membiasakan diri untuk menghadapi sejumlah tanggung jawab, berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai serta sabar dalam menghadapi kewajiban-kewajiban yang ada. Kebiasaan ini membutuhkan adanya proses pendidikan dan usaha yang sungguh-sungguh karena sifat manusia tidak hanya cenderung kepada sifat malas saja, tetapi juga selalu memerintahkan kepada kejahatan. Firman Allah SWT “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (S. Yusuf:53)


Bagaimana berjuang melawan diri sendiri :

1. Jadilah orang yang efektif dalam manajemen konflik dengan musuh utama anda (musuh utama manusia adalah setan).
2. Jadilah orang yang mampu mengatur konflik antara diri anda dengan musuh kedua anda dengan baik. (musuh kedua adalah diri anda sendiri).
3. Mendidik Jiwa : diantara cara-caranya diantaranya adalah Muraqabah(kontrol diri), Mujahadah (bersungguh-sungguh), Muhasabah (Introspeksi diri) dan taubat
H. KEPIAWAIAN BERKOMUNIKASI

Seorang Profesor Amerika, Thomas Harrel (1986) di Universitas Stnaford menyebutkan adanya keterkaitan antara sukses dalam kerja dengan proses komunikasi dalam kehidupan manusia. Kajian ini menemukan bahwa diantara standar kesuksesan terpenting adalah sifat terbuka dan inklusif dalam masyarakat. Hal ini ditentukan oleh tiga faktor :
1. pribadi yang terbuka dan fleksibel;
2. pribadi yang suka berbicara kepada orang lain, senang bekerja sama dengan mereka dan meyakinkan mereka;
3. pribadi yang suka kepemimpinan dan pengaruh atas orang lain;

Kajian ini menunjukkan Kesuksesan Hidup hanya sebagian kecil bergantung kepada keahlian kerja atau profesi yang dikuasainya yaitu sekitar 15 % sedangkan bagian besar 85 % bergantung pada keahlian berkomunikasi.

Sifat-sifat dan akhlak berikut merupakan dasar yang tepat dalam mebangun keahlian komunikasi :
1. bekerja demi mewujudkan cita-cita yang tinggi dan besar dalam kehidupan;
2. memberikan perhatian terhadap urusan umum dan tidak terfokus ada urusan pribadi saja;
3. kredibilitas yang tinggi;
4. bijak, hati-hati dan terbuka pada orang lain;
5. sabar dan mampu menampung orang lain;
6. menjadi teladan;
7. berani dan berkepribadian kuat;
8. semangat dan hangat pada orang lain;
9. mengahrgai dan memperhatikan urusan orang lain;
10. bertindak normal, wajar dalam berkata dan bekerja;
IX. BERFIKIR POSITIF

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak mengahdapi berbagai kejadian yang mungkin negative atau kurang mengenakkan. Berfikir positif adalah mencari hal-hal positif dan baik dari peristiwa yang kita alami dan melupakan ha l yang negatif.
Berfikir positif sangat penting di dalam kehidupan manusia karena dengan berfikir positif anda dapat mengubah hal-hal yang sulit menjadi produktif dan bermanfaat, serta menggunakannya untuk mewujudkan tujuan-tujuan anda dalam hidup ini. Sebaliknya dengan berfikir negatif akan membawa anda kepada kemurungan, kesedihan dan frustasi.
Contoh: Gelas yang setengahnya terisi dan setengahnya kosong
Orang yang berfikir positif: akan menjawab setengahnya penuh
Orang yang berfikir negative: akan menjawab setengahnya kosong
Ini adalah konsep simbolis tentang cara panda manusia terhadap sesuatu. Sebagian memandang dengan pandangan optimis sedangkan sebagian yang lain melihat denan pandangan pesimis.

Mengubah Kebiasaan Hidup

Mengubah Kebiasaan Hidup
Ditulis oleh Rahman Moenggah, SH, LLM

Kebahagiaan dan kesuksesan adalah suatu keadaan yang selalu dicari dan menjadi dambaan setiap mahluk di muka bumi yang bernama manusia. Dalam pencarian itu dapat dikatakan setiap gerak, usaha dan langkah diupayakan. Seluruh waktu dicurahkan bahkan tidak jarang jiwa dan raga sekalipun dikorbankannya untuk mendapatkannya. Hanya sayang sekali, sejarah juga menunjukkan bahwa tidak semua manusia mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Banyak anak manusia yang tersesat di jalan, gagal bahkan tidak sedikit terperosok ke dalam lubang kehancuran.

Apa sebenarnya kesuksesan dan kebahahagiaan itu? Selama ini kesuksesan itu lebih banyak dilihat sebagai suatu keadaan atau konsep saja, padahal sebenarnya kesuksesan itu adalah sebuah proses perjalanan dari pengalaman dan keahlian seorang anak manusia.
Kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan yang harus dilakukan dengan baik, sabar serta dibutuhkan waktu dan pengorbanan. Karena kebiasaan dan penerapannya itulah yang akan menentukan keberhasilan seseorang, baik dalam kaitannya dengan status sosial, kedudukan, maupun keahliannya dalam melakukan tugas.

Bagaimana sisi kesuksesan dipandang dari Islam? Bagaimana kita mencapainya?
1. TUJUAN HIDUP MANUSIA
Sebelum menjawab mengenai kesuksesan marilah kita lihat dahulu apa tujuan hidup manusia dengan merujuk kepada tujuan Allah telah menciptakan manusia sebagaimana dijelaskan dalam firmannya:

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (adz Dzariyat 56)

Kesuksesan yang hendak kita raih di dalam kehidupan baik di dunia maupun akhirat bersandar kepada apa yang menjadi tugas utama kita sebagai manusia yaitu mengabdi kepada Allah. Kemudian Allah memberikan kebebasan yang sempurna tetapi dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh syariat dengan tujuan untuk memakmurkan bumi dan mewujudkan hasil-hasil yang didapat sebagaimana dijelaskan di dalam firmanNya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada Malaikat, sesungguhnya Aku akan jadikan di muka bumi ini seorang khalifah (Al Baqarah ayat 30).

Jadi kebahagiaan dan kesuksesan akan datang dalam konteks pengabdian yang sebenarnya kepada Allah Swt dan pemakmuran bumi yang dilakukan dengan cara membangun peradaban manusia yang benar.
2. KEBIASAAN DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Dengan berdasarkan pendapat bahwa kesuksesan adalah suatu proses yang dibangun dari kebiasaan, ternyata dalam kehidupan manusia, kebiasaan memiliki pengaruh yang besar. Setiap orang dari kita digerakkan oleh kebiasaan. Ibarat pepatah tanamlah suatu perbuatan dan tuailah suatu kebiasaan; tanamlah suatu kebiasaan dan tuailah suatu perilaku; tanamlah suatu perilalaku tuailah suatu keberuntungan.

Contohnya: bila datang bulan Ramadhan, kehidupan seorang muslim mengalami perubahan baik dari kebiasaan makan, tidur maupun kebiasaan shalatnya. Bulan Ramadhan hanya datang sekali dalam satu tahun. Dalam bulan-bulan biasa, setiap muslim terbiasa dengan kehidupan yang rutin khususnya kebiasaan makan minum dan shalat. Tetapi begitu datang bulan Ramadhan, kebiasaan kebiasaan tersebut harus diubah dan diganti dengan kebiasaan baru.

Tetapi setelah berlalunya hari pertama, kita mulai biasa melakukan shalat malam dan rutinitas keseharian kita juga berubah. Kitapun dapat merasakan kemudahan dan tidak lagi merasa berat untuk melakukan rutinitas di bulan Ramadhan. Ketika akhir bulan Ramadhan pun kita kita sudah terbiasa dengan shaum dan tidak lagi merasa berat menjalani puasa dan mungkin siap menjalani kehidupannya dengan cara semacam itu.

Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena ia telah terbiasa melakukannya dan ia telah mengubah kebiasaan-kebiasaan lama dengan kebiasaan baru.
Apa yang terjadi di bulan Ramadhan ini merupakan pelajaran penting dari Tuhan yang mengajarkan kepada kita bahwa mengubah kebiasaan adalah sesuatu yang mudah dan dapat dilakuka n oleh setiap manusia.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kehidupan kita diatur oleh berbagai macam kebiasaan. Diantara kebiasaan itu ada yang bermanfaat ada pula yang tidak bermanfaat. Tentunya kita diharapkan dapat memperkuat kebiasaan yang bermanfaat dan dapat menjauhkan diri dari kebiasaan yang tidak bermanfaat atau membahayakan
3. APA YANG DIMAKSUDKAN DENGAN KEBIASAAN
Kebiasaan adalah sesuatu yang biasa kita lakukan, kebiasaan dapat berupa sesuatu yang diindera, seperti pergi ke tempat tertentu, makan makanan tertentu. Tetapi juga dapat berupa sikap atau perasan: misalnya menghormati orang lain, memuliakan tamu, memberikan senyuman, jujur, tidak bergunjing dll.

Para psikolog menjelaskan bahwa kebiasaan terdiri dari 3 unsur yang saling berkaitan erat:

Pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bersifat teoritis mengenai sesuatu yang ingin dikerjakan;

Keinginan, yaitu adanya motivasi atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu;

Keahlian, maksudnya kemampuan untuk melakukannya.

Jika ketiga unsur itu bertemu didalam perbuatan, maka perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai kebiasaan. Akan tetapi jika kurang salah satunya, maka perbuatan itu tidak dapat dikategorikan sebagai kebiasaan. Contoh membaca (bisa membaca, mengetahui pentingnya membaca dan ada motivasi atau keinginan untuk membaca).
4. MEMBANGUN KEBIASAAN YANG BERMANFAAT DAN MENGHINDARI KEBIASAAN YANG TIDAK BERMANFAAT
Kita dapat membentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang bermanfaat dengan cara, berusaha mencari pengetahuan tentang sesuatu yang akan kita lakukan, melatih diri sehingga kita mampu melakukannya dan diteruskan dengan upaya membangkitkan motivasi atau keinginan melakukannya.

JIka ingin menghindarkan diri dari kebiasaan yang tidak bermanfaat, harus diperhatikan dua unsur yaitu pengetahuan dan keinginan. Kita harus menambah pengetahuan mengenai dampak negatifnya setelah itu dilanjutkan dengan memperhatikan unsur keinginan.

Mulailah dengan mengubah faktor-faktor pendorong dan kecenderungan yang mengarah kepada kebiasaan negatif.

Kebiasaan yang ada dalam kehidupan kita terbentuk dan dibangun dalam waktu yang lama sehingga kita merasa mudah untuk melakukan dan mengulanginya bahkan dalam melakukannya terkadang kita tidak lagi perlu berfikir panjang.

Karena itu dalam membentuk kebiasaan baru merupakan pekerjaan yang memerlukan kesungguhan, pengorbanan dan konsentrasi, sebagaimana meninggalkan kebiasaan lama juga membutuhkan adanya keseriusan.

Allah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (ar Ra’d 11)

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan, manusia harus kembali kepada dirinya sendiri guna menganilisis kebiasan-kebiasaan yang dimilikinya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun berkaitan dengan masyarakat. Jika ia menemukan perilaku yang menyimpang. Maka ia harus melakukan perubahan ke dalam dirinya secepat mungkin.

Dengan demikian Perubahan dalam kehidupan manusia baik berkaitan dengan dirinya maupun dengan masyarakat akan datang dari dalam diri manusia sendiri.
5. TIGA UNSUR UTAMA KESUKSESAN
Kesuksesan seseorang baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya sangat tergantung pada tiga aspek utama yang terdapat di dalam kepribadiannya.

P. Pandangan Hidup
H. Hubungan Antar Manusia.
K. Keahlian

Pandangan hidup;
Pandangan hidup atau visi erkait dengan daya rasa manusia terhadap hidupnya serta terkait dengan kemampuannya untuk memindahkan rasa tersebut ke wilayah praktek. Apa tujuan-tujuan besar yang hendak dicapainya? Standar moral apa yang digunakannya untuk mencapai tujuan tersebut?
Hubungan Antar Manusia
Apakah ia bers ifat terbuka, luwes ataukan selalu berhati-hati; apakah ia memiliki sifat toleran dan pandai bergaul atau ia seorang yang sulit berinteraksi dengan orang lain dan tidak penyabar?

Keahlian, berhubungan dengan, mekanisme dan pengetahuan tertentu. Keahlian apa yang dimiliknya, bidang apa yang dikuasainya, profesi apa yang ditekuninya.

Dari aspek Pandangan Hidup lahir empat macam kebiasaan:
1. Berusaha mencapai keunggulan;
2. Menentukan tujuan;
3. Membuat rencana;
4. Menyusun prioritas

Dari aspek Hubungan dengan sesama manusia muncul beberapa kebiasaan
1. Keahlian berkomunikasi;
2. Berfikir positif;
3. Keseimbangan/moderat.

Dari aspek Keahlian, melahirkan 3 macam kebiasaan:
1. Konsentrasi (fokus)
2. Manajemen Waktu;
3. Berjuang melawan Diri Sendiri;

Pada hakekatnya, ketiga aspek utama tersebut terdapat dalam diri setiap orang, tetapi terkadang ada perbedaan kadar untuk masing-masing aspek yang dimiliki. Terkadang seseorang memiliki kadar kepandaian yang luar biasa dalam berinteraksi dengan manusia, tetapi ia mengeluh aspek pandangan hidupnya yang tidak kuat atau ia tidak memiliki keahlian yang tinggi yang dibutuhkan guna mencapai kesuksesan di dalam pekerjaannya.

Adapula orang yang memiliki tingkat keahlian yang tinggi dan pengetahuan tertentu yang berkaitan dengan profesinya, tetapi ia tidak pandai berinteraksi dengan sesama manusia serta memiliki pandangan yang lemah.

Keseimbangan antara ketiga aspek tersebut merupakan sesuatu yang harus ada jika kita ingin membangun kepribadian yang sempurna.

Dengan demikian 10 Kebiasaan agar manusia dapat menjadi sukses adalah

a. Berusaha mencapai keunggulan;
b. Tentukan Tujuan;
c. Buat Rencana;
d. Susun Prioritas
e. Konsentrasi (fokus)
f. Manajemen Waktu;
g. Berjuang melawan Diri Sendiri;
h. Pandai berkomunikasi;
i. Berfikir positif
j. Moderat.

A. BERUSAHA MENCAPAI KEUNGGULAN
Kebiasaan ini merupakan salah satu yang terpenting dari sepuluh kebiasaan manusia sukses. Berusaha mencapai keunggulan adalah berusaha dengan tekun dan terus menerus guna mencapai keunggulan di dalam hidup.
Hal ini mengandung pengertian selalu berusaha untuk menjaga perkembangan diri, dengan meningkatkan kualitas keimanan, ahlak, hubungan dengan manusia dan memanfaatkannya untuk mewujudkan misi hidupnya.
Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan dalam hidup terdiri atas 3 Aspek Penting:

Pertama: Selalu Berusaha Untuk Meningkatkan Keimanan;
Iman merupakan faktor yang sangat menentukan. Faktor ini diperoleh dengan menjalin hubungan dengan Allah SWT secara terus menerus. Jika kita memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT dan tingkat keimanan tinggi maka kita dapat mewujudkan misi hidup kita secara efektif. Keimanan sesorang dapat bertambah atau berkurang. Ia akan bertambah dengan ketaatan serta ibadah serta akan berkurang dengan kelalaian dan kealpaan.

Kebiasaan berusaha untuk mencari Keunggulan ini dapat menyebabkan seseorang memperoleh kebaikan dan hidayah yang lebih daripada hari sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan hasil yang akan diperoleh seseorang jika ia berusaha untuk mencapai keunggulan keimanan ini.

Orang orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (al – Ankabut 69)

Perumpamaan nafkah orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia Nya lagi Maha Mengetahui (al Baqarah 261)

Hadis Kudsi:
“Barang siapa mendekat kepadaKu satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, Barang s iapa mendekat kepadaKu satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, Barang siapa datang kepadaKu dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendatanginya dengan segera. Barang siapa menyebut Ku dalam sekelompok orang, maka Aku akan menyebutnya dalam kelompok orang yang lebih baik dari kelompok mereka.”

Hambaku selalu mendekat kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjadi kakinya yang dia dia gunakan untuk berjalan, menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menangkap. Jika ia minta kepada Ku, maka Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan kepada Ku maka Aku akan melindunginya.”

Pada dasarnya perjalanan hidup seseorang manusia sangat terkait dengan aspek keimanan ini. Jika kehidupan manusia tidak dibangun di atas aspek ini maka kehidupannya tidak akan berarti.

Allah menggambarkan kondisi orang-orang yang tidak memenuhi kehidupannya dengan aspek keimanan dalam firmanNya:

Katakanlah: apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak akan mengadakan penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat (al Khafi 103-105)

Sejalan dengan ini YM Abu dalam salah satu makalahnya (Menjadi Lebih Bahagia Dengan Menjalankan Ajaran Islam) menyatakan bahwa: “…Harapan kita sebenarnya hanya satu, yatu: marilah kita berlomba lomba untuk mencintai Tuhan di atas segala-galanya. Mencintai Tuhan berarti mencintai semua ketetapannya dan ketentuan Tuhan. Lebih kongkrit lagi, mencintai Tuhan harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah Rasul Nya. Sebab dalam Al Qur’an Allah Berfirman: “katakanlah (kepada mereka hai Muhammad): Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Kedua: Selalu berusaha untuk meningkatkan keahlian, pengetahuan dalam bidang tertentu, produktifitas, optimalisasi dan efektifitas dalam pekerjaan atau profesi kita.

Seorang manusia yang tidak mau berusaha untuk mencapai keunggulan dalam pekerjaannya, tidak mengubah etos kerja dan produktifitasnya dan tidak mau berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi yang ada di dalam dirinya, ia akan tetap berada pada posisi tertentu, tidak akan mengalami kenaikan jabatan, tidak dapat meningkatkan penghasilannya. Sebaliknya seseorang yang memiliki jiwa luwes, gesit dan selalu berusaha untuk memperoleh yang lebih baik, maka ia akan selalu belajar, berusaha menyempurnakan pekerjaan dan meraih prestasi, selalu mencari peluang dan memperkuat faktor-faktor yang dapat meningkatkan produktifitasnya.

Ketiga: berusaha untuk meningkatkan hubungan positif dengan orang lain

Aspek ini merupakan permasalahan penting di dalam kehidupan manusia. Jika hubungan antara sesama manusia kita positif dan menyenangkan, maka kehidupan kita akan menjadi lebih produktif dan menyenangkan.

Tidaklah heran jika hubungan dengan sesama manusia itu merupakan hal terpenting dalam agama Islam, bahkan merupakan substansi dari agama. Juga tidaklah heran jika ahlak yang mulia dalam berinteraksi dengan orang lain merupakan satu sifat yang dapat menyebabkan seseorang manusia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, yaitu bersama dengan orang-orang yang jujur dan dekat dengan Rasulullah. Hadist: Orang yang paling dekat tempat duduknya diantara kalian dengan tempat dudukku di hari kiamat adalah orang yang paling baik ahlaknya. (Riwayat Tarmidzi)

YM Abu (dalam Makalahnya, “Berlomba-lomba menyempurnaka n Keislaman Kita”) mensitir Fatwa YM Ayahanda Guru yang berbunyi ”..Kalau perilaku tidak dipelihara, ia akan menghancurkan, memporakporandakan, membawa kita kepada neraka dan hambluminannas akan hancur, yang akan merusak pula habluminallah, karena hablumminallah dan habluminnas berpengaruh satu sama lain timbal balik…”

Suatu pekerjaan dapat diganti dengan pekerjaan lain tetapi keluarga dan kerabat tidak dapat diganti. Dalam kaitan dengan usaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek hubungan dengan sesama manusia ini, ada sebuah Hadist yang menyatakan “ Bergaulah dengan manusia dengan cara yang kamu harapkan, mereka juga menggunakannya ketika bergaul dengan kamu”

Selanjutnya YM Abu menyatakan: “…sejak dahulu Ayah telah berkata dan berfatwa: jagalah selalu mulutmu, jangan berbicara yang lain selain daripada mengaggungkan dzikrullah atau memuji Allah SWT, memuliakan Rasulullah dan sega guru-guru kita, dan jika berjata, katakanlah yang bermanfaat, yang kreatif, jangan utarakan syakwasangka, gunjuing, irihati dendam kesumat, jangan lepaskan mulut engkau begitu saja yang akan menggores tajam dan melukai saudaramu kesana kemari, menikam kesana kemari dan akhirnya merusak masyarakatmu sendiri.”

Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan beserta ketiga aspeknya merupakan kebiasaan yang paling penting menuju pribadi yang sukses. Jika kita berusaha membentuk, melakukan dan melatihnya maka kehidupan kita akan berputar 180 derajat dan dapat kita wujudkan kebahagiaan dan kesuksesan yang diharapkan.

Kebahagiaan menurut orang bijak memiliki tiga sumber yang ada di dalam kehidupan manusia yaitu : Ridha Allah (berusaha mencapai kenggulan dalam aspek Iman); Melakukan pekerjaan secara sempurna dan Menyelesaikan segala urusan satu persatu; Membantu orang lain dengan cara menjaga etika dalam bergaul, berbuat baik kepadanya, mengorbankan sebagian waktu, usaha dan harta untuk kepentingannya
B. TENTUKAN TUJUAN
Macam Tujuan dilihat dari sumbernya: Tujuan Ketuhanan, Tujuan Sosial dan Tujuan Individual
Tujuan ketuhanan ditentukan Allah SWT dengan maksud mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan Sosial merupakan penerapan dari tujuan pertama yang ditentukan oleh tuntutan zaman dan Tujuan Individual adalah yujuan yang ditentukan seseorang untuk dirinya sendiri.
C. SUSUN PRIORITAS
Yang dimaksud dengan menyusun prioritas adalah menyusun sejumlah tujuan, tugas dan pekerjaan, dimulai dari yang paling penting sehingga akan dapat diwujudkan tujuan-tujuan itu dalam waktu yang diberikan kepadanya. Waktu merupakan materi yang sangat mahal.
Kebiasaan menyusun prioritas harus dilakukan setiap hari. Ada dua macam prioritas :
1. prioritas pertama adalah prioritas yang bersifat tetap yaitu yang berkaitan dengan aspek ibadah.
2. prioritas kedua adalah prioritas yang bersifat tidak tetap yang dapat berubah yang berkaitan dengan pekerjaan dan sosial.
D. BUAT RENCANA
Secara singkat yang dimaksud dengan membuat rencana adalah meletakkan tujuan-tujuan kita dalam sebuah program kerja yang dapat dilaksanakan serta menentukan langkah-langkah yang dapat membantu menentukan tujuan.
.
Menyusun rencana menjadikan kita siap untuk menentukan langkah selanjutnya
E. KONSENTRASI
Konsentrasi adalah memusatkan perhatian pada tugas, tanggung jawab atau pekerjaan yang ada di hadapan serta berusaha melaksanakannya terus menerus sehingga benar-benar sampai pada tingkatan terakhir.
Hambatan yang dapat menggangu konsentrasi diantaranya tidak adanya motivasi atau dorongan tidak adanya keahlian yang dibutuhkan; rendahnya tingkat kesabaran. Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang muslim untuk bersabar dan menguatkan kesabaranya.
F. MANAJEMEN WAKTU
Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasiha t menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (al-Ashr : 1-3)

Dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang. Waktu berjalan dengan cepat seperti berjalannya awan. Kita tidak dapat berbuat apa-apa selain memanfaatkan dan memfungsikannya dengan baik atau membiarkannya berlalu begitu saja.
Bagaimana menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan waktu terbuang.
1. Pelajari tujuan-tujuan, rencana dan prioritas.
2. Letakkanlah tujuan-tujuan pada sebuah rencana periodik;
3. Buatkanlah daftar pekerjaan (kegiatan) yang akan dilakukan setiap hari;
4. Tutuplah semua jalan (hal) yang dapat memalingkan anda;
5. Manfaatkanlah waktu-waktu yang ada (tersisa)
6. Janganlah anda selalu berpasrah pada hal-hal yang bersifat mendesak.
G. BERJUANG MELAWAN DIRI SENDIRI

“ Orang yang sukses adalah orang yang mengarahkan keinginannya, dan bukan orang yang menjadi budak keinginannya” (Perkataan orang bijak)

“Orang yang dapat mengalahkan nafsunya lebih hebat daripada orang yang dapat menaklukkan sebuah kota” (ungkapan India)

Berjuang melawan diri sendiri adalah berusaha secara terus menerus untuk mengalahkan, menaklukkan, mengendalikan dan membiasakan diri untuk menghadapi sejumlah tanggung jawab, berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai serta sabar dalam menghadapi kewajiban-kewajiban yang ada. Kebiasaan ini membutuhkan adanya proses pendidikan dan usaha yang sungguh-sungguh karena sifat manusia tidak hanya cenderung kepada sifat malas saja, tetapi juga selalu memerintahkan kepada kejahatan. Firman Allah SWT “ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (S. Yusuf:53)


Bagaimana berjuang melawan diri sendiri :

1. Jadilah orang yang efektif dalam manajemen konflik dengan musuh utama anda (musuh utama manusia adalah setan).
2. Jadilah orang yang mampu mengatur konflik antara diri anda dengan musuh kedua anda dengan baik. (musuh kedua adalah diri anda sendiri).
3. Mendidik Jiwa : diantara cara-caranya diantaranya adalah Muraqabah(kontrol diri), Mujahadah (bersungguh-sungguh), Muhasabah (Introspeksi diri) dan taubat
H. KEPIAWAIAN BERKOMUNIKASI

Seorang Profesor Amerika, Thomas Harrel (1986) di Universitas Stnaford menyebutkan adanya keterkaitan antara sukses dalam kerja dengan proses komunikasi dalam kehidupan manusia. Kajian ini menemukan bahwa diantara standar kesuksesan terpenting adalah sifat terbuka dan inklusif dalam masyarakat. Hal ini ditentukan oleh tiga faktor :
1. pribadi yang terbuka dan fleksibel;
2. pribadi yang suka berbicara kepada orang lain, senang bekerja sama dengan mereka dan meyakinkan mereka;
3. pribadi yang suka kepemimpinan dan pengaruh atas orang lain;

Kajian ini menunjukkan Kesuksesan Hidup hanya sebagian kecil bergantung kepada keahlian kerja atau profesi yang dikuasainya yaitu sekitar 15 % sedangkan bagian besar 85 % bergantung pada keahlian berkomunikasi.

Sifat-sifat dan akhlak berikut merupakan dasar yang tepat dalam mebangun keahlian komunikasi :
1. bekerja demi mewujudkan cita-cita yang tinggi dan besar dalam kehidupan;
2. memberikan perhatian terhadap urusan umum dan tidak terfokus ada urusan pribadi saja;
3. kredibilitas yang tinggi;
4. bijak, hati-hati dan terbuka pada orang lain;
5. sabar dan mampu menampung orang lain;
6. menjadi teladan;
7. berani dan berkepribadian kuat;
8. semangat dan hangat pada orang lain;
9. mengahrgai dan memperhatikan urusan orang lain;
10. bertindak normal, wajar dalam berkata dan bekerja;
IX. BERFIKIR POSITIF

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak mengahdapi berbagai kejadian yang mungkin negative atau kurang mengenakkan. Berfikir positif adalah mencari hal-hal positif dan baik dari peristiwa yang kita alami dan melupakan ha l yang negatif.
Berfikir positif sangat penting di dalam kehidupan manusia karena dengan berfikir positif anda dapat mengubah hal-hal yang sulit menjadi produktif dan bermanfaat, serta menggunakannya untuk mewujudkan tujuan-tujuan anda dalam hidup ini. Sebaliknya dengan berfikir negatif akan membawa anda kepada kemurungan, kesedihan dan frustasi.
Contoh: Gelas yang setengahnya terisi dan setengahnya kosong
Orang yang berfikir positif: akan menjawab setengahnya penuh
Orang yang berfikir negative: akan menjawab setengahnya kosong
Ini adalah konsep simbolis tentang cara panda manusia terhadap sesuatu. Sebagian memandang dengan pandangan optimis sedangkan sebagian yang lain melihat denan pandangan pesimis.

Kamis, 14 Mei 2009

Tips Menjadi Kaya dan Sukses dari Seorang Sahabat

Jangan berani atau menghardik orangtua khususnya IBU dan tetaplah bersedekah dg ikhlas.


Di Fwd dari salah satu discussion board facebook;

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

" Ada Lima hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

Takjimlah kepada Guru Ruhanimu ( Waliyam Mursyida ), patuh dan hormatlah selalu, jaga hadap dan takhlik selalu sebagai salik. karena beliaulah yang selalu membimbing dan menjadi Imam Ruhani kita dalam berbidah kehadirat Allah SWT. Insya Allah rahmat Allah akan turun dengan berlimpah ruah.

RAHASIA KEDUA

"Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah."


Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KETIGA

"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KEEMPAT

"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."

"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ," tanya beliau.

"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."

"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.

"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."

"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi.

"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."

RAHASIA KELIMA

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

"Yang kelima nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita".

Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."

"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. "

Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang....


KEDAHSYATAN SEDEKAH

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.

Kemudian mereka bertanya, 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu besi'.

Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu api'.

Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?'.

Allah menjawab, ' Ada , yaitu air'.

'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?' tanya para malaikat.

Allah pun menjawab, ' Ada , yaitu angin'.

Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'.

Allah yang Mahakaya menjawab, ' Ada , yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya' ."


Subhanallah....

Selasa, 12 Mei 2009

ISLAMKU - Asas-asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah

ISLAMKU - Asas-asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah
Ditulis oleh H.D. Bastaman

Ibarat ikan dengan kolam: Ikan dapat hidup subur dalam kolam yang baik, sebaliknya kolam menjadi “berharga” dengan banyak ikan di dalamnya. Artinya, diantara kedua pihak terjalin hubungan timbal-balik dan saling membutuhkan. Surau sangat memerlukan lingkungan aman dan tak menghambat kegiatan-kegiatan kesurauan (Alhamdulillah kalau masyarakat sepenuhnya mendukung), dan sebaliknya lingkungan sekitarnya pun membutuhkan kelompok masyarakat yang tertib dan peduli pada program lingkungan.
SURAU DI LINGKUNGAN MASYARAKAT UMUM

Tempat peramalan dzikrullah (Surau, IOP, Pos) selalu ada di sebuah kawasan hunian masyarakat umum (RT, RW, Desa). Antara warga surau dengan masyarakat sekitarnya selalu terjadi interaksi, baik dalam urusan-urusan pribadi maupun hubungan administratif dengan pengurus dan petugas lingkungan.

Ada peribahasa “Orang-orang lain tak peduli pada kita, sampai mereka tahu kita peduli pada mereka” atau “Berilah umpan yang tepat, maka ikan-ikan akan mendekat”. Jadi tampaknya lebih dahulu pengurus dan warga surau yang sebaiknya berinisiatif mendekati dan memberi perhatian pada lingkungan, barulah dukungan msyarakat sekitarnya akan diperoleh. Bahkan akan jauh lebih baik lagi apabila surau dianggap sebagai aset berharga masyarakat sekitarnya, karena mengamati para warga surau meneladankan etos kerja tinggi dan budi perkerti terpuji.

Sikap menutup diri dan merasa lebih unggul dengan “pamer kaji tinggi” di luaran hanya akan menimbulkan perdebatan yang tak perlu dan sengketa yang akibatnya sangat merugikan semua pihak. Untuk membina kerukunan dan hubungan yang baik dengan warga masyarakat sekitarnya, sebaiknya warga surau (khususnya pengurus) memahami sekurang-kurangnya tiga hal yang berkaitan dengan kondisi masyarakat sekitarnya yaitu nilai-nilai yang dianut masyarakat, kebutuhan utama masyarakat dan hal-hal yang peka dalam masyarakat.
Nilai-nilai yang dianut Masyarakat

Dalam kehidupan sosial terdapat bermacam-macam nilai (values) yakni hal-hal yang dianggap penting, bermakna, berharga, benar, dan dijunjung tinggi masyarakat serta tak jarang dijadikan pedoman kehidupan warga masyarakat itu. Misalnya: kerukunan, kerja keras, kekayaan, adat-istiadat, kehormatan, harga diri, persaudaraan, kejujuran, keberanian, agama dan pengetahuan. Perlu diketahui bahwa nilai-nilai hidup itu tidak kasatmata (invisible) tetapi terungkap dan dapat disimpulkan dari berbagai indikator seperti: pokok-pokok pembicaraan tokoh-tokoh masyarakat, kecenderungan bertindak dan menyelesaikan masalah, apa yang membuat masyarakat senang dan apa yang membuat mereka malu, tersinggung dan hal-hal yang menimbulkan reaksi keras mereka.

Bahkan dongeng-dongeng tradisional yang populer pun tak jarang di dalamnya terkandung nilai-nilai hidup yang dianut masyarakat. Mengetahui nilai-nilai yang dianut masyarakat sangat penting untuk memahami sikap, perilaku, pandangan, keinginan, dan hal-hal yang diterima dan ditolak oleh masyarakat setempat. Semuanya penting dalam melakukan pendekatan yang tepat untuk membina kerukunan dan kerjasama dengan lingkungan sekitarnya.
Kebutuhan utama Masyarakat

Mengetahui kebutuhan-kebutuhan utama masyarakat -khususnya kebutuhan pokok- sangat penting, karena berkaitan erat dengan upaya menjalin kerjasama dan memotivasi masyarakat untuk bergerak aktif mencapai kemajuan. Mengabaikan hal itu akan menghambat hubungan baik dengan masyarakat. Dinamisasi masyarakat terjadi bila ada motivasi untuk mengubah kondisi dan taraf kehidupan saat ini menjadi lebih baik. Dalam hal ini psikologi dapat menunjukkan berbagai kebutuhan utama manusia pada umumnya. Misalnya, teori kebutuhan-kebutuhan dasar berjenjang dari A.H. Maslow perlu dipahami untuk memotiva si pengembangan masyarakat sekitarnya.
Hal-hal peka dalam Masyarakat

Selain mengetahui kebutuhan utama masyarakat sekitarnya, pihak surau pun perlu mengetahui apa yang sensitif bagi masyarakat yakni hal-hal yang mudah sekali menimbulkan keresahan dan reaksi keras masyarakat bila dilanggar atau diremehkan. Sebaliknya bila hal-hal itu diindahkan akan memperlancar hubungan baik, sekurang-kurangnya tidak akan menimbulkan keresahan. Hal-hal sensitif ini biasanya berlainan untuk setiap kelompok sosial-budaya, karena biasanya berkaitan dengan apa yang dinilai baik atau buruk oleh masyarakat setempat. Ada sepuluh hal yang biasanya dianggap sensitif bagi masyarakat yang terumus dalam ungkapan AWAS PAMALI sebagai singkatan dari:

A = Adat istiadat
W = Wanita
A = Agama
S = Sandang-pangan-papan

P = Pemimpin setempat
A = Anak-anak muda
M = M5 (Main judi, Mabuk, Maling, Menyeleweng, Mengaiaya)
A = Amanah
L = Lahan
I = Iseng-iseng

Kalau kita perhatikan, diantara kesepuluh butir itu ada empat hal yang sangat sensitif dan mudah sekali menimbulkan reaksi keras masyarakat apabila dilanggar yaitu AWAS (Adat-istiadat, Wanita, Agama, dan Sandang-pangan-papan). Selain itu ada dua pihak yang perlu dibina kerjasama dengan mereka yaitu PA (Pemimpin setempat/formal & non-formal, dan Anak-anak muda). Kemudian ada sekelompok perbuatan tercela yang benar-benar terlarang yaitu M (Main judi, Mabuk, Maling, Menyeleweng, Menganiaya), tetapi sebaliknya A (Amanah atau kepercayaan) adalah satu hal yang justru harus benar-benar ditepati. Hal lain yang tidak boleh dipermainkan adalah L (Lahan atau pertanahan), karena saat ini pertanahan menjadi salah satu isyu sensitif di masyarakat kita. Dan terakhir I (Iseng-iseng): perbuatan sepele yang sering tanpa disengaja dapat menimbulkan sengketa dan masalah besar. “Bercanda jadi Bencana” kata peribahasa.
Hubungan Surau dengan Lingkungan Masyarakat sekitarnya

Setelah mengetahui nilai-nilai yang dianut, kebutuhan utama dan hal-hal peka pada masyarakat sekitarnya, selanjutnya perlu dibina kerukunan dan kerjasama antara pihak surau dengan warga masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini mungkin dapat diterapkan Asas SABAR yaitu:
- Saling kunjung
- Akrab & bersahabat
- Bantu perbaiki sarana umum
- Amalkan budi pekerti
- Rangkul mereka masuk Tharikat.

Maksudnya, setelah terbina hubungan baik dengan masyarakat setempat perlu dilanjutkan dengan kegiatan dakwah mengenai thariqatullah kepada masyarakat sekelilingnya. Dakwah ini dapat berupa dakwah lisan (a.l. ceramah, diskusi, pengajian) dan dakwah tindakan (mis. berkunjung, memberi santunan) dengan selalu menampilkan perangai yang baik, etos kerja tinggi serta keteladanan budi pekerti. Dengan makin banyaknya warga sekitar yang masuk tharikat, maka kedudukan surau menjadi makin mantap di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dan ini berarti surau telah memenuhi salah satu misi thariqatullah yaitu menanamkan dzikrullah pada pribadi-pribadi dan masyarakat.
MEMBINA KERUKUNAN

Membina kerukunan dengan warga masyarakat sekitarnya perlu diawali dengan meningatkan kerukunan dalam kelompok sendiri, bahkan sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Prinsip psikologi yang menyatakan “Tak mungkin memotivasi orang lain, tanpa kita sendiri termotivasi” dapat dimodifikasi menjadi “Sulit membina kerukunan dengan masyarakat sekitar, kalau di lingkungan sendiri tidak ada kerukunan”. Asas “Mulai dari diri sendiri” mungkin dapat dijadikan motto dan langkah awal pembinaan kerukunan diantara sesama warga surau yang intinya tidak lain mengembangkan Ahlak terpuji dan meningkatkan Silaturahmi.

Di lingkungan pelatihan SDM sejauh ini telah dikembangkan berbagai metode dan pendekatan untuk pengembangan pr ibadi (personal growth) dan peningkatan kekompakan kelompok (team building) yang prinsip-prinsip dan metode-metodenya dapat dimanfaatkan dalam upaya pembinaan kerukunan kelompok.
ISLAMKU: Asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat

Tanpa bermaksud mengurangi cara-cara yang selama ini telah berhasil membina kerukunan di lingkungan surau masing-masing, dalam tulisan ini diajukan asas-asas pembinaan kerukunan kelompok yang penulis sebut “ISLAMKU” sebagai singkatan dari: Ibadah, Silaturahmi, Lugas, Adaptasi, Musyawarah, Keteladanan dan Ubah nasib

I = Ibadah. Para pengurus dan warga surau perlu memantapkan niat dan menyadari bahwa membina hubungan baik dan mengajak masyarakat sekitarnya mengamalkan dzikrullah adalah amal bakti yang tinggi sekali nilai ibadahnya. Dalam artian psikologi niat identik dengan motif, dan motivasi merupakan unsur penting dalam meraih keberhasilan. Lebih-lebih lagi niat ibadah yang merupakan motivasi tertinggi dalam agama Islam. “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya”, demikian sabda Rasulullah SAW. Selain niat dan itikad beribadah, asas ini menganjurkan kepada para pengurus dan warga surau agar selalu meningkatkan kualitas ibadah mereka, dan juga selalu berdo’a memohon petunjuknya serta mendo’akan segala kebaikan bagi sesama warga surau dan masyarakat sekitarnya. Ibadah (dan doa) ini sangat penting mengingat mutlaknya rahmat Tuhan dalam menyatukan hati umat (S. al-Anfaal/8 : 63).

S = Silaturahm. Islam senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjalin silaturahmi sebagai landasan kokoh hubungan sosial. Perintah dan tuntunan praktis untuk menjalin silaturahmi cukup banyak diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits. Cara termudah yang dianjurkan antara lain dengan jalan mengucapkan salam, bertutur kata lembut, berwajah jernih, saling berjabat tangan (kalau mungkin), dan tersenyum tulus. Mengenai senyuman tulus yang dalam hadits dinilainya sebagai sedekah dan amal baik, secara khusus terungkap dalam sebuah peribahasa Cina: “Orang yang mahal senyum, jangan sekali-kali buka toko”. Artinya, tersenyum ramah tamah dan berwajah jernih membuka komunikasi, silaturahmi dan….rizki!

L = Lugas. “Lugas” adalah singkatan “luwes” dan “tegas” yang berarti sederhana, jujur, apa adanya saat mengungkapkan sesuatu, tetapi caranya tetap luwes (flexible). Ungkapan lugas berlainan benar dengan sindiran dan perkataan berputar-putar serta berbunga-bunga, atau ungkapan-ungkapan ”bergengsi” yang sarat dengan istilah-istilah ilmiah yang sulit dipahami dan sering menimbulkan salah paham. Cara bicara yang lugas biasanya menghindarkan salah tafsir dan salah paham. Salah satu prinsip komunikasi modern yang diakui daya-guna dan hasil gunanya tinggi adalah prinsip kesederhanaan (Principle of Simplification). Retorika Rasulullah SAW terkenal sederhana, lugas, mudah dipahami dan dihayati para pendengarnya. Siti ‘Aisyah r.a. mengungkapkan: “Susunan kata-kata Rasulullah tidaklah seperti susunan kata-kata kalian. Beliau bicara dengan perkataan yang terang dan jelas, serta mudah dihafal oleh siapa pun yang beliau hadapi”.

A = Adaptasi secara umum berarti menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan lingkungan tertentu. Dalam komunikasi tema, isi dan cara menyampaikan informasi perlu disesuaikan dengan alam pikiran, daya tangkap, bahasa, kepentingan, suasana dan kondisi penerima informasi. Maksudnya tidak lain supaya para penerima informasi merasa terlibat dan “tune-in” terhadap maksud dan arahan yang disampaikan. Prinsip ini penting untuk digunakan oleh para pengurus dan warga surau yang menghadapi aneka ragam corak kehidupan sesama warga. Lebih-lebih karena hal ini te rungkap dalam sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk berbicara sesuai dengan keadaan pribadi-pribadi dan kelompok masyarakat yang diajak bicara.

M = Musyawarah. Pentingnya musyawarah terbukti dari adanya surah Asy-Syuura dalam Al Qur’an yang artinya musyawarah. Dalam ayat 38 Surat Asy-Syuura ini dikatakan: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka”. Musyawarah adalah inti sari demokrasi yang saling menghargai pandangan masing-masing, sekalipun berbeda. Musyawarah adalah lawan dari sikap otoriter yang serba merasa benar sendiri dan cenderung memakskan pendapatnya pada orang lain. Musyawarah perlu dibiasakan untuk menyelesaikan urusan intern. Lebih-lebih dalam kegiatan kesurauan, musyawarah perlu dibiasakan. Misalnya dalam bentuk diskusi kelompok (group discussion) untuk tujuan sumbang-saran (brainstorming) dan pemecahan masalah (problem solving). Dalam musyawarah ini para pengurus dan warga surau diharapkan bersedia untuk saling menerima umpan balik (feedback). Sikap peka kritik dan mau menang sendiri tidak menunjang kerukunan kelompok.

K = Keteladanan. Para pengurus dan warga surau mempunyai peluang untuk menjadi panutan dan anutan masyarakat, sehingga salah satu tuntutan tugas mereka adalah harus mampu menjadi teladan masyarakat. Dalam Islam keteladanan ini merupakan hal yang sangat penting, karena Rasulullah SAW sendiri sebagai penyebar Rahmat Ilahi bagi semesta alam (Rahmatan lil’alamiin) adalah juga teladan terbaik bagi manusia sepanjang masa (Uswatun hasanah), karena pribadi beliau memancarkan kesempurnaan ahlak terpuji (Akhlaqul Karimah) yang merupakan ungkapan kesempurnaan al-Qur’an (Akhlaq al-Qur’an). Hal ini merupakan isyarat bahwa para pengurus dan warga surau harus menjadi teladan bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekitarnya, seperti halnya Rasulullah SAW menjadi suri tauladan bagi seluruh umat.

U = Ubah nasib. Salah satu tujuan kelompok dzikrullah adalah menimbulkan kesadaran dan motivasi untuk secara mandiri meningkatkan kualitas dan taraf hidup. Hal ini sesuai dengan firman Alah SWT dalam surat ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang (dalam batas-batas tertentu) memiliki kebebasan berkehendak (freedom of will) untuk merealisasikan secara aktif potensi-potensi dirinya, serta mampu mengubah nasibnya sendiri selama mereka mau mengubahnya (the self determining being). Kesadaran ini harus senantiasa ditanamkan dalam kelompok pengamal dzikrullah, agar umat (Islam) tegak mandiri dan berjaya serta tidak tergantung pada (belas kasihan) orang lain.
Dari Kami ke Kita

Membina kerukunan kelompok masyarakat merupakan suatu proses dinamis yaitu mengupayakan terjadinya perubahan dari kondisi hubungan yang semula tidak rukun menjadi rukun. Kita sebut saja dari corak hubungan Kami menuju kondisi Kita. Hubungan Kami ditandai oleh adanya kekompakan kuat dalam kelompok sendiri menentang kelompok lain yang dianggap berseberangan.

Terbentuknya kelompok Kami biasanya diawali dengan adanya perbedaan (keyakinan, kepentingan, kebiasaan) yang berlarut-larut tak terselesaikan, kemudian mereka membentuk kelompok sepaham yang berseberangan dengan kelompok yang tidak sepaham. Jadi dalam kelompok Kami ini selalu ada potensi konflik (sengketa) antara kelompok sendiri dengan pihak lain. Dalam kelompok

Kami persengketaan telah sirna dan tak ada lagi pihak lain yang dianggap lawan. Kelompok ini ditandai dengan keakraban dan kerjasama yang baik diantara warga kelompok. Perubahan dar i hubungan Kami menuju Kami biasanya terjadi karena masing-masing memahami adanya tujuan bersama yang lebih baik bagi semua, disamping menyadari betapa merugikannya sengketa itu bagi mereka.

Rambu-rambu dalam pembinaan kerukunan kelompok
Perlu diingat bahwa kondisi Kami bisa berubah kembali menjadi Kami kalau tidak ditaati "rambu-rambu" tentang apa yang seharusnya dilakukan (the do'es) dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan (the dont's). Misalnya:

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan

1. Ramah dan murah senyum serta berusaha menjadi orang yang disenangi.
2. Hargai jasa dan prestasi orang lain walaupun kecil dan sebarkan kebaikan
3. Berbesar hati terhadap perbedaan pendapat dan biasakan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah
4. Penuhi undangan kegembiraan (tahniat) dan kunjungi orang mendapat musibah (takziah)
5. Biasakan mengucapkan "tiga kata bertuah": Terima kasih (Thank you), Maafkan aku (I'm sorry), Aku sayang kamu (I love you).
6. dsb.

Hal-hal yang sebaiknya jangan dilakukan

1. Jangan pasang wajah garang agar ditakuti orang
2. Jangan bergunjing dan menyebarkan aib orang
3. Jangan merasa diri paling benar dan memaksakan kehendak
4. Jangan menutup diri dan tak peduli
5. Kaum pria batalkan bertamu kalau suami pemilik rumah sedang tidak ada. Demikian pula kaum wanita.batalkan bertamu kalau isteri pemilik rumah sedang tidak ada.
6. dsb.
Intinya: Jaga ucapan dan perilaku serta tampilkan perangai terpuji.dengan selalu membina silaturahmi. Semuanya itu mencerminkan ahlakul karimah dan hati yang suci.
MASYARAKAT DZIKRULLAH

Salah satu tujuan sosial Thariqatullah adalah mengembangkan sebuah masyarakat madani (civil society) yang warga-warganya sangat rukun dan kuat silaturahminya, mantap keimanannya, hidupnya taat syari’at, kreatif dan produktif, tegas dalam prinsip tetapi luwes penerapannya, pencinta ilmu dan mau belajar, senang beribadah dan beramal saleh serta senantiasa menggalakkan dzikrullah dan amalan-amalan nawafil lainnya. Masyarakat madani ini kita namakan Masyarakat Dzikrullah yang karakteristiknya digambarkan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:
Orang Muslim cinta sekali kepada Allah (S.2: 165), mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2: 194), dan mereka beriman kepada semua nabi (S.2: 136). Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2: 177; S.5: 1), bantu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam kejahatan (S.5: 2), bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri dan golongannya (S.4: 135), saling menghormati dengan sesama muslim (S.49: 11-12), bersikap jujur sekalipun terhadap lawan (S.5: 2), bersatu (3: 102), mendapat rizki yang baik (S.2: 172), dan hidup secara wajar (S.2: 62; S.3: 112), terhadap kafir sikapnya tegas dan keras, sebaliknya dengan sesama muslim saling mengasihi (S.48: 29).
Masyarakat madani ini dengan ringkas digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang kokoh solidaritasnya.
“Kaum muslimin seperti satu tubuh dalam kasih sayang dan perasaan satu sama lain, sehingga jika ada bagian tubuh tertentu tidak enak, maka bagian-bagian lain turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur”.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Dzikrullah adalah masyarakat yang satu sama lain dan sarat kasih sayang, memiliki loyalitas kuat, derajat keakraban mendalam, terhormat, bersikap lugas dan berprestasi tinggi. Hal ini hanya mungkin terjadi karena warga masyarakatnya diikat dan dipersatukan hatinya oleh keimanan yang mantap, sehingga kokohnya hubungan antara sesama (hablun minannas) benar-benar dilandasi oleh mantapnya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), dan sebaliknya pelaksanaan hablun minallah hanya mungkin berlangsung sempurna dalam kondisi hablun minannas yang tenteram dan kondusif. Layak sekali bila masyarakat yang berpredikat Baldatun tayibbatun warabbun ghafur itu menjadi idaman dan tujuan sosial para pengamal dzikrullah. Mudahkah itu?
Betapa sulitnya menyatukan Hati

Allah SWT sendiri menunjukkan betapa sulitnya memadukan (hati) kaum mukminin satu sama lain seperti terungkap dalam S. al-Anfaal (8): 63.

“(Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat itu memberikan isyarat bahwa keberhasilan mengembangkan masyarakat dzikrullah tidak cukup dengan semata-mata mengandalkan ilmu dan teknologi tinggi, dukungan finansial yang besar, kemahiran berdakwah yang memukau dan upaya-upaya manusia lainnya. Hal-hal itu tentu saja perlu, tetapi ternyata tidak cukup. Dalam hal ini campur-tangan Tuhan mutlak diperlukan dalam mengembangkan masyarakat muslim yang pada hakikatnya adalah menyatukan hati kaum muslimin sendiri. Tanpa rahmat Tuhan ini upaya pengembangan masyarakat dzikrullah hanya sampai pada taraf kata-kata belaka, dan tidak pernah menjadi realita.

Sehubungan dengan itu tampaknya sudah saatnya para pengamal dzikrullah dengan penuh kesadaran melakukan upaya intensifying ibadah, seperti memantapkan niat, berdoa memohon petunjukNya dan mendoakan masyarakat sekitarnya, meningkatkan kekhusyu’an shalat wajib dan sunnah (istikharah, tahajud), bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya sebelum, sewaktu dan sesudah melaksanakan tugas kemasyarakatan.
Pembinaan Kerukunan Masyarakat Muslim

Sekalipun membina kerukunan masyarakat muslim/madani itu tidak mudah, tetapi Rasulullah SAW secara rinci dan praktis telah mengungkapkan hal-hal benar-benar dapat dilakukan dalam membina kerukunan masyarakat madani:

“Seorang muslim harus menolong saudara seagamanya dari kekeliruan-kekeliruannya, mengasihinya dalam kesulitan-kesulitannya, menjaga rahasianya, mengabaikan kesalahan-kesalahannya, menerima maafnya, membelanya dari orang-orang jahat dan pencari-pencari kesalahan, bertindak sebagai penasihat baginya, dan memelihara hubungan persahabatan dengannya,. Jika saudara seagamanya itu sakit, ia harus menjenguknya. Ia harus menerima pemberiannya, dan membalas pemberiannya itu secara timbal balik, mengucapkan terima kasih untuk kebaikan-kebaikannya, bicara baik dengannya dan bersikap ramah terhadap teman-temannya, tidak meninggalkannya dalam kesulitan, mengharapkan baginya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri, dan tidak memperlakukannya seperti yang ia tidak suka orang lain perlakukan terhadap dirinya sendiri”.

Membiasakan diri melakukan hal-hal nyata dan penerapannya pun tak terlalu sulit seperti diungkapkan hadits tersebut merupakan langkah-langkah praktis menuju Masyarakat Dzikrullah yang dicita-citakan. Insya Allah.

STRATEGI PEMBINAAN KERUKUNAN MASYARAKAT DZIKRULLAH

Secara keseluruhan Strategi Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah meliputi: Landasan, Sikap Dasar, Tujuan, Langkah-langkah, dan Semboyan.

Landasan: Ikatan ruhani yang kuat bersumber dari kesamaan pembimbing (Mursyid), metode (Thariqatullah), washilah (Nuurun alan nuurin), amalan (Dzikrullah) dan motivasi (Ilahi anta maqsyudi wa ridhaka mathlubi).

Tujuan : (1) Mengembangkan dan meneladankan ahlak terpuji (akhlaqul karimah) berdasarkan pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah); (3) Menjaga persaudaran muslim (Ukhuwah Islamiyah) atas dasar Hablun minallah dan Hablun minannas dengan tidak melanggar adat istiadat, etika sosial, hukum negara, dan hukum syara’; (4) Mewujudkan masyarakat dzikrullah yang berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur; (5) Menjaga kemuliaan Guru (Al Mursyid) dan keluarganya.

Sikap dasar: (1) Hadap dan setia; (2) Pengabdian yang tulus; (3) Berlomba-lomba dalam kebajikan; (4) Tabah dan gigih; (5) Berkarya dan Berdoa.

Langkah-langkah: (1) Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar; (2) Menyadari potensi pribadi dan lingkungan, kemudian merealisasikannya; (3) Menghargai prestasi dan menjaga kehormatan diri dan orang lain; (4) Menjalin silaturahmi dengan saling kunjung dalam saat kegembiraan dan kedukaan; (5) Memberi bantuan sejauh kemampuan; (6) Menampilkan budi pekerti terpuji; (7) Mengajak masyarakat mengamalkan dzikrullah sebagai inti ibadah.

Semboyan: (1) Berprinsip sebagai pengabdi; (2). Berabdi sebagai pejuang; (3) Berjuang sebagai prajurit; (4) Berkarya sebagai pemilik; (5) Beribadah sebagai Nabi beribadah.
RANGKUMAN

Bagai sebuah batu jatuh di permukaan telaga luas yang tenang. Awalnya hanyalah satu titik jatuh yang menimbulkan riak gelombang yang makin lama makin luas dan akhirnya menyentuh tepi telaga. Demikian pula pembinaan kerukunan masyarakat dzikrullah sebaiknya diawali dengan pembenahan ahlak diri pribadi serta memperkuat jalinan silaturahmi dan kerukunan hubungan antar pribadi dalam kelompok sendiri, lalu meluas ke masyarakat sekitarnya dan akhirnya sampai ke lingkungan masyarakat umum yang lebih luas.

Dakwah adalah alatnya, baik dakwah lisan maupun tindakan, sambil meneladankan ahlak terpuji dalam hidup bermasyarakat. Satu hal yang perlu diingat: ikatan sosial terkadang erat (rukun), terkadang longgar (kurang rukun), bahkan terputus (sengketa). Oleh karena itu kerukunan harus dipertahankan dengan program-program yang melibatkan semua pihak, disamping terus menumbuhkan ahlak terpuji dan silaturahmi serta saling menjaga etiket pergaulan.

Kemudian apakah tujuan jangka panjang? Masyarakat madani yang rukun, lembut, berprestasi, terhormat, berjaya dan berdzikrullah adalah tujuan sosial para pengamal thariqatullah! Menyadari betapa sulit mewujudkannya, tentu saja dituntut upaya serius dan kerja keras dengan memanfaatkan segala kemampuan, semangat, daya dan sarana serta doa khusyuk untuk menjolok-turun rahmat Allah dan syafaat Rasulullah berupa ikatan kasih-sayang yang mempersatukan hati seluruh kaum beriman. Itulah jihad sosial-spiritual para pengamal thariqat Naqsyabandiah Khalidyah: Mewujudkan Masyarakat Dzikrullah berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur. Insya Allah.

Baitul Amin,19 Nopember 2006

H.D. Bastaman, psikolog